WABAH PENYAKIT

DBD menjamur lagi, korban jiwa bermunculan

Wabah demam berdarah datang lagi. Aktivitas pengasapan (fogging) di Desa Luworo, Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (18/12/2018).
Wabah demam berdarah datang lagi. Aktivitas pengasapan (fogging) di Desa Luworo, Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (18/12/2018). | Siswowidodo /Antara Foto

Wabah demam berdarah dengue (DBD) datang lagi seiring kehadiran musim penghujan. Sejak awal Januari, sejumlah daerah di Indonesia terjangkit DBD hingga muncul korban meninggal dunia.

Di Sulawesi Utara (Sulut), misalnya, sudah ada tiga orang meninggal akibat DBD hingga 6 Januari lalu. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Sulut, dr. Debby Kalalo, sudah ada 67 kasus DBD.

Debby mengatakan tren DBD di Sulut meningkat dibanding periode 2017 dalam siklus lima tahunan. Dilansir Antara (h/t Suara.com), Jumat (11/1/2019), Debby pun menyarankan warga agar mewaspadai DBD dan melakukan tindakan 3M.

"...menguras dan menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan dam mendaur ulang barang bekas," katanya soal mengantisipasi wabah DBD.

Data Dinas Kesehatan Sulut menunjukkan bahwa pada 2018 sudah ada 1.713 kasus DBD di Sulut. Ini meningkat dibanding 2017 (587 kasus). Namun, edisi terparah adalah pada 2016 yang mencapai 2.217 kasus.

Peningkatan jumlah pasien DBD di Sulut membuat RSUD Prof Kandou di Manado kewalahan. Mereka harus meminjam tempat tidur untuk menampun pasien.

Bahkan, dikabarkan Tribun Sulut, Jumat (11/1), para pasien kebanyakan bukan dari Manado. Mereka datang dari kawasan di sekitar Sulut seperti Sangihe, Ratahan, Bolaang Mongondow, Likupang, dan Minahasa Selatan.

Dari seluruh wilayah di sekitar Sulut, Sangihe adalah daerah terdampak paling parah. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Jophy Thungari, Kamis (10/1), ada 64 kasus DBD sejak Oktober 2018 hingga Januari 2019 dan dua anak meninggal dunia.

Sulut pun menjadi daerah terparah kedua dalam hal wabah DBD awal tahun ini setelah Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan di NTT, situasinya sudah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) karena korban meninggal sudah mencapai lima orang di Labuan Bajo.

DBD juga terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Timur (Jatim). Hingga pekan lalu, misalnya; dua orang meninggal di Jombang dan Mojokerto (Jatim); di Berau (Kalimantan Timur) dan Pemalang (Jateng) masing-masing ada satu orang pasien meninggal akibat DBD.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto, dr Langit Kresna Janitra, kehadiran wabah DBD disebabkan oleh sikap abai masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.

"Masih banyak genangan air menjadi tempat tumbuhnya jentik nyamuk (Aedes aegypti) , juga ventilasi dan pencahayaan rumah yang kurang sehingga rumah gelap dan menjadi sarang nyamuk," kata dr Langit kepada detikcom, Rabu (9/1).

Lantaran wabah DBD yang menjangkiti sejumlah wilayah di Indonesia ini, para kepala daerah pun sibuk mengeluarkan imbauan dan kebijakan pengasapan (fogging). Adapun di Jatim, aparat TNI turut memerangi DBD dengan membagikan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk di bak mandi.

Di Sulut, Gubernur Olly Dondokambey menginstruksikan seluruh bupati dan wali kota untuk melakukan sosialisasi secara massal terhadap pencegahan demam berdarah. Namun, fogging bukan menjadi andalan karena sifatnya sementara.

Masyarakat diimbau untuk menabur bubuk larvasida di tempat penampungan air, menggunakan obat nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, dan memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk.

Di Gresik, Jatim, pemberantasan jentik nyamuk pun tidak menggunakan fogging. Para petugas kesehatan mengandalkan abate. Namun begitu, sejumlah daerah masih tetap melibatkan fogging dalam pemberantasan DBD.

Selain memperhatikan lingkungan, termasuk membersihkan segala genangan air, masyarakat juga diimbau sadar pada suhu tubuh. Masyarakat diingatkan agar tidak terpaku pada bintik-bintik merah di kulit.

Maklum, menurut dr Hittoh Fattory SpA, dokter spesialis anak dari RSUD Balikpapan, Kaltim, gejala DBD tidak lagi selalu menampilkan bintik-bintik merah. Jadi, masyarakat sekarang sudah harus langsung waspada ketika tubuh mengalami demam.

"Jadi kalau demam panas harus sudah dicek dengan laboratorium, karena gejala demam berdarah salah satunya panas tinggi hingga 40 derajat, harus dilakukan observasi di rumah sakit," kata Hittoh pada Januari 2015.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR