Dedek Prayudi, politisi dari Partai Solidaritas Indonesia, saat ditemui di Conclave Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin  (28/1/2019)
Dedek Prayudi, politisi dari Partai Solidaritas Indonesia, saat ditemui di Conclave Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (28/1/2019) Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
POLITIK MILENIAL

Dedek Prayudi: Paling berat pastikan milenial bangun pagi

Adu strategi meraup suara generasi milenial semakin seru jelang pemilu. Dedek Prayudi bersama PSI dan TKN sudah mempersiapkannya.

"Mengambil hati milenial itu berat. Kamu enggak akan kuat. Biar aku saja." Kalimat tadi adalah pelesetan dialog terkenal dalam film Dilan 1990 .

Susah memang bagi politisi menarik perhatian generasi ini karena kecenderungannya yang undecided voters. Terlebih, memastikan mereka ikut mencoblos calon tertentu.

Pun demikian, Dedek Prayudi, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mengaku sanggup. Berbeda dengan kubu sebelah, yang menurutnya, kurang mewakili milenial.

"Gue enggak heran kalau tiap menghadapi milenial selalu Pak Sandiaga Uno yang maju," ujar Dedek. Baginya karakter mileteristik Prabowo itu enggak milenial banget.

Sekilas, melihat penampilan Uki--sapaan akrabnya-- jauh dari gambaran politisi yang identik dengan kemeja batik atau baju safari.

Dalam dua kali pertemuan dengan Andi Baso Djaya, Muammar Fikrie, dan Wisnu Agung, politisi berumur 34 itu selalu berpenampilan kasual. Sepatu bot cokelat, celana panjang denim dan kaos oblong. Cukup.

Mirip sosok Steve Randle yang diperankan Tom Cruise dalam film The Outsiders.

Seperti apa pandangannya terhadap milenial dan strategi apa saja yang digagasnya demi meraup suara dari kalangan itu? Berikut wawancaranya yang berlangsung di Conclave Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (28/1/2019).

Dedek Prayudi, politisi Partai Solidaritas Indonesia, saat ditemui di Conclave Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin  (28/1/2019)
Dedek Prayudi, politisi Partai Solidaritas Indonesia, saat ditemui di Conclave Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (28/1/2019) | Wisnu Agung /Beritagar.id

Bagaimana lo melihat milenial?
Milenial adalah aspirasi. Bukan semata objek untuk memilih, tapi penggerak dunia politik dan penentu arah kebijakan. Makanya, aspirasi di PSI sebagian besar disuarakan generasi milenial.

Cara kami berpolitik juga mewakili milenial. Misalnya dengan menggunakan media sosial.

Dibandingkan tatap muka langsung, lebih efektif berkomunikasi via medsos?
Berkomunikasi via medsos itu jangkauannya lebih luas dan tanpa harus mengeluarkan banyak dana. Bertatap muka sebenarnya tidak sulit, hanya ongkosnya lebih mahal.

Kekurangan sosmed, antara lain durasi berkomunikasi jadi terbatas. Kita juga tidak bisa menyaring viewers. Perang narasi berjalan cepat sehingga sulit mengontrol jalannya diskusi, dan tidak bisa mendalam.

Dari hasil temuan lo bersama kawan-kawan di partai dan tim kampanye nasional, apa aspirasi yang paling banyak dimunculkan oleh milenial?
Perhatian utama milenial itu terkait lapangan pekerjaan. Bukan yang formal, tapi nonformal seperti nongkrong.

Bagaimana caranya agar nongkrongnya mereka itu berfaedah. Bukan kosong atau malah merugikan.

Kalau ada yang suka main band, difasilitasi dengan pengadaan studio musik. Ada yang hobi balapan, kita bikinin sirkuit. Ketimbang mereka balap liar di jalan raya umum. Hal-hal seperti itu yang coba kami tawarkan.

Semua yang lo sebutkan tadi kan merujuk milenial urban. Bagaimana dengan generasi muda rural?
Kebetulan Dapil gue di Kabupaten Subang, Majalengka, dan Sumedang. Karakteristik remaja di perkotaan dan perdesaan memang beda. Tapi punya kesamaan terpapar teknologi informasi.

Mereka suka main game dan medsos. Hanya, pemikiran remaja perdesaan belum sebebas dan semerdeka remaja perkotaan.

Berarti narasi dalam mendekati milenial di perkotaan dan perdesaan juga berbeda?
Agak beda. Kalau di Dapil gue, kami banyak berbicara soal fasilitas dan mengarahkan tongkrongan mereka ke arah yang enggak terlalu technology-based. Misalnya ngeband dan olahraga.

Anak-anak muda di dapil gue banyak yang suka main voli dan bulu tangkis. Kalau di kota lebih banyak yang memilih basket.

Apa strategi spesifik TKN dalam merangkul milenial?
Kami pakai dua pendekatan. Pertama, pakai gaya komunikasi ala milenial. Kami menggali dan menonjolkan itu dari Pak Jokowi. Misalnya dengan nge-vlog.

Pendekatan kedua soal substansi. Pak Jokowi ingin memastikan kepada milenial bahwa angka pengangguran semakin turun. Data Badan Pusat Statistik per Februari 2018, Tingkat Pengangguran Terbuka menurun jadi 5,13 persen.

Untuk mendekati milenial perdesaan yang sebagian besar santri, itu menjadi ranahnya Pak Kyai Haji Ma’ruf Amin mensosialisasikan yang namanya ekonomi berbasis santri.

Dedek Prayudi, politisi dari Partai Solidaritas Indonesia, saat ditemui di Conclave Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin  (28/1/2019)
Dedek Prayudi, politisi dari Partai Solidaritas Indonesia, saat ditemui di Conclave Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (28/1/2019) | Wisnu Agung /Beritagar.id

Menurut lo, apakah kubu sebelah sudah mewakili selera milenial?
Menurut gue enggak sama sekali. Makanya gue enggak heran kalau tiap menghadapi milenial selalu Pak Sandiaga Uno yang maju. Bukan Pak Prabowo.

Soalnya karakter mileteristiknya Pak Prabowo tidak memenuhi selera milenial yang free thinker.

Rekomendasi apa saja yang lo dan teman-teman di PSI berikan yang kemudian dituangkan dalam strategi pemenangan di kalangan milenial?
Tunggu tanggal mainnya, sekarang TKN sedang membuat video-video pendek seperti yang biasa hadir di Instagram. Mungkin enggak harus ada Pak Jokowi dalam video itu nantinya.

Seberapa luas ruang bagi milenial diakomodir dalam kubu TKN?
Gede banget. Memang TKN tidak seegaliter PSI, tapi tahu betul pentingnya mengakomodir aspirasi milenial. Karena mereka tahu saat ini adalah periode terbanyak munculnya jumlah pemilih muda.

Salah satu isu yang banyak jadi pembahasan di kalangan milenial adalah soal razia buku. Dan itu dilakukan oleh para pembantu presiden. Bagaimana lo menyikapi ini?
Terus terang gue secara pribadi, begitu juga PSI, tidak setuju dengan razia buku. Kami mendukung Pak Jokowi bukan berarti kami lantas tidak mengkritik beliau.

Pernyataan sikap PSI yang tidak mendukung razia buku sudah kami kemukakan melalui media.

Selain itu apa lagi yang berisiko mengurangi elektabilitas Jokowi di kalangan anak muda?
Apa ya. Paling hoaks itu sih. Atau narasi-narasi sesat yang mengarahkan milenial untuk berpikir bahwa Pak Jokowi itu diktator. Giliran Pak Jokowi ramah dibilang tidak tegas. Milenial yang free thinker alias ingin bebas tentu jadi takut kalau punya capres diktator.

Terkait figur, seberapa penting pemilihan buzzer, influencer, atau tim pendukung yang diidolakan milenial dalam mendongkrak suara untuk Jokowi?
Cukup penting, tapi bukan satu hal yang sering kami bahas di TKN. Kami lebih fokus menggaet perhatian milenial lalu dikomunikasikan dan bagaimana mendapatkan respons.

Apa yang paling rumit dalam mengkomunikasikan arah politik kepada milenial?
Meyakinkan mereka itu paling sulit. Karena mereka berangkatnya dari skeptisisme. Pekerjaan rumah terberat adalah memastikan mereka bangun pagi tanggal 17 April 2019 untuk memilih di TPS. Habis itu lo harus meyakinkan mereka untuk memilih calon tertentu.

Kita harus yakinkan dunia politik itu berkaitan dengan hidup mereka. Berdampak pada masa depan. Milenial sekarang masih cuek bebek sih.

Berarti milenial punya kecenderungan lebih besar untuk golput dibandingkan generasi lain?
Iya. Hampir semua lembaga survei mengatakan yang masih undecided voters itu milenial. Enggak ada yang bisa tahu mereka ini nantinya bakal memilih atau enggak. Ini bukan hanya pekerjaan rumah bagi TKN, tapi kita semua.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR