NERACA PERDAGANGAN

Defisit perdagangan dipicu membengkaknya impor migas

Petugas operator pelabuhan beraktivitas di Pelabuhan Pelindo I Dumai, Dumai, Riau, Selasa (12/6/2018). Aktivitas pekerjaan di Pelabuhan Pelindo I Dumai tetap berjalan normal selama musim libur Lebaran seperti kegiatan ekspor minyak mentah kelapa sawit, bongkar muat, layanan sandar dan labuh kapal.
Petugas operator pelabuhan beraktivitas di Pelabuhan Pelindo I Dumai, Dumai, Riau, Selasa (12/6/2018). Aktivitas pekerjaan di Pelabuhan Pelindo I Dumai tetap berjalan normal selama musim libur Lebaran seperti kegiatan ekspor minyak mentah kelapa sawit, bongkar muat, layanan sandar dan labuh kapal. | Aswaddy Hamid /Antara Foto

Permintaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melesat menjelang Hari Raya Idulfitri memberi tekanan pada kinerja perdagangan Indonesia selama Mei 2018.

Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan defisit pada Mei 2018, sebesar 1,51 miliar dolar AS (Rp21,36 triliun), turun tipis dari defisit bulan sebelumnya yang mencapai 1,63 miliar dolar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto, mengatakan ekspor Mei 2018 sebetulnya tumbuh cukup bagus, akan tetapi pertumbuhan nilai impor Indonesia naik lebih tinggi, salah satunya akibat kenaikan volume impor minyak dan gas (migas) di tengah tren kenaikan harga minyak dunia.

Adapun berdasarkan catatan BPS, nilai impor migas pada Mei 2018 mencapai 2,81 miliar dolar naik 20,95 persen dari posisi impor April 2018 sebesar 2,33 miliar dolar. Alhasil, defisit migas harus melebar menjadi 1,2 miliar dolar, jauh melebihi defisit periode yang sama tahun 2017 yakni 497 juta dolar.

"Sedangkan peningkatan impor nonmigas terbesar pada periode yang sama datang dari golongan mesin dan pesawat mekanik US$334,3 juta (15,19 persen)," demikian rilis BPS pada Senin (25/6/2018).

Secara total, nilai impor Indonesia pada Mei 2018 sebesar 17,64 miliar dolar naik 28,12 persen dari posisi Mei 2017 sebesar 13,77 miliar dolar, dan naik sebesar 9,17 persen dibandingkan dengan April 2018.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, defisit neraca perdagangan Mei ini sangat dipengaruhi oleh tren kenaikan harga minyak dunia. Tekanan harga minyak yang mahal diprediksi bisa memperburuk neraca migas hingga akhir tahun.

Dia mengkhawatirkan kondisi defisit neraca perdagangan akan berdampak negatif terhadap kondisi ekonomi.

"Motor lainnya, yaitu konsumsi rumah tangga sedang dalam pemulihan, jadi andalannya cuma net ekspor dan investasi," kata Bhima kepada Beritagar.id, Senin (25/6).

Selain itu, dia mengingatkan defisit ini dapat berpengaruh ke naiknya permintaan valuta asing sehingga rupiah berpotensi kembali terdepresiasi ke depannya.

Hasil pengumuman defisit neraca dagang tersebut menjadi sentimen negatif terhadap pergerakan rupiah. Dalam penutupan sesi perdagangan Senin (25/6), nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank ditutup melemah 73 poin menjadi Rp14.159 dibandingkan Rp14.086 per dolar AS pada Jumat (22/6).

Menurutnya, kondisi defisit dalam neraca perdagangan ini dapat berlanjut hingga semester dua. Jika ketidakpastian harga komoditas dan perang dagang memburuk.

Menurut Bhima, pemerintah harus berupaya keras untuk terus mendorong ekspor. Insentif fiskal harus didorong ke industri yang berorientasi ekspor secara spesifik.

Kinerja ekspor dibayangi perang dagang

Di samping nilai impor yang melesat, nilai total ekspor Indonesia Mei 2018 sebenarnya tercatat meningkat hingga 16,12 miliar dolar atau naik 10,90 persen dibanding ekspor April 2018 yang hanya mencapai 14,53 miliar dolar.

Angka itu juga naik 12,47 persen jika dibandingkan dengan ekspor Mei 2017 yang hanya mencapai 14,33 miliar dolar AS.

Kenaikan ekspor tersebut didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas sebesar 9,25 persen menjadi 14,55 miliar dolar pada Mei 2018 dari 13,03 miliar dolar pada Mei 2017.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Mei 2018 terhadap April 2018 terjadi pada komoditas timah yang kenaikannya mencapai 200,74 persen dengan nilai 177,5 juta dolar.

Jika dilihat dari pangsa pasarnya, tujuan ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2018 masih didominasi oleh tiga negara yakni, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang--masing-masing 2,09 miliar dolar, 1,5 miliar dolar, dan 1,3 miliar dolar. Total ekspor nonmigas ke tiga negara itu mencapai 34,82 persen dari total ekspor Indonesia.

Peningkatan ekspor tersebut terjadi di tengah isu perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan negara Tiongkok maupun Eropa.

Dari sisi ekspor, dampak perang dagang mulai dirasakan pada komoditas ekspor unggulan. Ekspor minyak sawit (CPO) turun 2,53 persen dibanding bulan April. Disusul karet yang minus 3,57 persen. Padahal kedua komoditas berkontribusi sebesar 16,4 persen dari total ekspor nonmigas.

Bhima mengatakan, pemerintah harus mencermati dampak lebih lanjut efek perang dagang khususnya di sektor otomotif Eropa yang berpotensi menggerus ekspor karet sebagai bahan baku komponen otomotif.

Ia merekomendasikan pemerintah untuk menerapkan strategi anyar seperti segera membuat pertemuan bilateral dengan AS, Tiongkok, India dan negara Uni Eropa untuk memitigasi dampak perang dagang.

"Selain itu, pemerintah dan pengusaha diharapkan mengambil sikap oportunistis untuk memanfaatkan celah perang dagang," pungkas Bhima.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR