TERORISME

Densus 88 makin gencar buru teroris

Foto Ilustrasi: Petugas Densus 88 Antiteror Mabes Polri berusaha masuk ke dalam rumah kontrakan terduga teroris di Kavling Barokah, Kelurahan Bahagia, Babelan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/5/2019).
Foto Ilustrasi: Petugas Densus 88 Antiteror Mabes Polri berusaha masuk ke dalam rumah kontrakan terduga teroris di Kavling Barokah, Kelurahan Bahagia, Babelan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/5/2019). | Ariesanto /Antara Foto

Perburuan terhadap sel terorisme di Indonesia tampaknya semakin gencar dilakukan Datasemen Khusus 88 Antiteror Polri, terutama setelah penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto. Pada Jumat (11/10/2019) malam, mereka menggerebek rumah terduga teroris di Bambu Larangan, Cengkareng, Jakarta Barat.

Terduga teroris yang kemudian berhasil ditangkap tim Densus 88 adalah lelaki berusia 20 tahun dengan inisial nama TH. Rumah yang digerebek tersebut, dikabarkan Merdeka.com, adalah kontrakan yang dimiliki orang tua TH.

Pada penggerebekan itu, polisi juga menemukan dan menyita barang bukti berupa dua buah bendera, satu buah ikat kepala, dua buah topi, satu lembar foto pahlawan pembela Islam, tujuh buku, tiga buah bendel catatan, delapan buah kertas catatan ISIS, serta tiga bilah pisau lipat di dalam tas selempang.

Antaranews.com memaparkan, TH diduga terlibat kelompok media sosial yang mendukung ISIS/daulah, berbaiat kepada Abu Bakar al-Baghdadi bersama Abu Zee. Selain itu, TH mengikuti idad (mempersiapkan kekuatan diri) di taman dan Lapangan perumahan Puri Cendana. Dia juga diduga mengetahui perencanaan aksi amaliyah bersama Abu Zee Ghurobah.

Abu Zee merupakan amir dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi. Dia telah lebih dulu ditangkap pada 23 September lalu di Bekasi, Jawa Barat.

Sebelum ditangkap, Abu Zee rupanya telah menikahkan pasangan SA, alias Abu Rara, dan FA, dua orang tersangka penusukan terhadap Wiranto di Menes, Pandeglang, Banten.

Sementara itu, Polda Bali mengungkapkan bahwa beberapa hari sebelum insiden Wiranto, mereka telah menangkap dua terduga teroris yaitu AT dan anak kandungnya, ZAI.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, menyatakan bahwa keduanya tengah menyiapkan rencana aksi penyerangan (amaliyah) di Pulau Dewata tersebut. Dedi belum merinci apakah keduanya memiliki keterkaitan dengan Abu Rara.

"Densus 88 dan CTOC (Counter Transnational and Organized Crime) sedang melakukan pendalaman pemeriksaan terhadap mereka yang diduga berbaiat kepada Abu Bakar Al Baghdadi," kata Kabid Humas Polda Bali Kombes, Hengky Widjaja, di Denpasar, Bali, seperti dikutip detikcom (12/10).

Polri menyatakan Densus 88 Antiteror di semua wilayah saat ini sedang bergerak pascapenusukan Wiranto di Menes, Pandeglang, Banten.

Dedi Prasetyo mengatakan, sejumlah anggota jaringan JAD sudah ditangkap di beberapa daerah. Penangkapan di Bali, menurutnya, merupakan bagian dari preventive strike (serangan pencegahan) yang dilakukan Densus 88 di tiga wilayah. Dua lainnya dilakukan di Bandung dengan tersangka bernama WB dan di Manado atas nama CS.

Stres karena pemimpin ditangkap

Terkait pemeriksaan terhadap SA, Dedi Prasetyo mengatakan bahwa si tersangka melakukan aksi karena stres setelah mengetahui perekrut dan pemimpinnya, Abu Zee, ditangkap.

"Dia takut, kalau (Abu Zee) tertangkap dia juga khawatir akan tertangkap, maka dia komunikasi lewat pihak istrinya. Dia persiapan (melakukan serangan), menunggu waktu," jelas Dedi.

Polisi, menurutnya, sudah mengintai SA, tetapi belum menangkapnya karena tak terlihat dia melakukan persiapan penyerangan dan belum adanya bukti otentik.

"Dia baru tahap ketiga (taklim khusus). Belum ada perbuatan melawan hukum. Dia tidak melakukan i'dad," ujar Dedi, dinukil Tempo.co.

Dedi menjelaskan, dalam kegiatan jaringan teroris, mereka memiliki lima tahap sebelum melakukan serangan teror. Tahap satu adalah berjaga-jaga. "Membangun komunikasi intens, saling mengenal. Nah, di situ tokoh yang biasa melakukan rekrutmen, akan mengajak," kata Dedi.

Selanjutnya mereka akan masuk ke tahap dua, yaitu taklim umum. Pada tahap ini mereka akan dibekali ajaran, doktrin, atau cara berjihad secara umum. Lolos tahap tersebut, mereka akan masuk tahap ketiga, yaitu taklim khusus. Pada tahap ini, tokoh atau guru akan mulai menanamkan ajarannya secara spesifik.

Setelah terlihat kemauan kuat dari calon anggota baru itu, mereka akan dimasukkan dalam tahap keempat, yaitu idad, atau merencanakan pelatihan perang.

Tahap terakhir adalah melaksanakan aksi yang telah direncanakan, atau mereka menyebutnya sebagai amaliyah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR