PENCEMARAN LINGKUNGAN

Derita warga Kali Bahagia

Prajurit TNI AD tampak tengah membersihkan Kali Bahagia, Babelan, Bekasi, dari tumpukan sampah, Jumat (2/8/2019).
Prajurit TNI AD tampak tengah membersihkan Kali Bahagia, Babelan, Bekasi, dari tumpukan sampah, Jumat (2/8/2019). | Yoseph Aldi /Beritagar.id

Pada Jumat (2/8/2019) siang itu, Tasya (35 tahun), bersama anak dan saudaranya, duduk sembari memandang keluar melalui jendela rumah. Mereka tengah memerhatikan para personel TNI dan petugas membersihkan Kali Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

Kali yang masuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Jatiluhur melalui Sungai Citarum tersebut ramai dibicarakan sepanjang pekan lalu. Berbanding terbalik dengan namanya, kali yang berhulu di kawasan Pondok Ungu, Bekasi, itu jadi sorotan karena sampah yang mengotorinya.

Sampah dengan perkiraan berat total mencapai 400 ton, sebagian besar berupa plastik, menutupi aliran air hingga sepanjang 2 km. Sampah itu membuat kedalaman sungai berkurang dari 4 meter menjadi 1,5 meter. Kali juga menyempit menjadi 4 meter dari idealnya 15-30 meter.

Bau tidak sedap, air yang hitam, dan tumpukan sampah plastik, kayu, pelepah pisang, dan lainnya, menjadi pemandangan yang biasa bagi Tasya dan warga sekitar, setidaknya dalam enam bulan terakhir ini.

Baru sekitar seminggu terakhir ada petugas gabungan dari TNI-Polri dan warga bergotong-royong untuk mengangkat sampah dari Kali Bahagia. Alat berat juga dikerahkan untuk mengambil sampah yang sudah menumpuk dan membuat permukaan air kali tidak terlihat lagi.

Menurut Tasya, proses bebersih seperti itu baru sekali dilihatnya sejak mulai tinggal di pinggir Kali Bahagia 20 tahun lalu.

"Waktu itu pernah dibersihkan tapi dari bawah, enggak sampai kesini (tempatnya tinggal). Pertama juga dulu yang diangkat cuma lumpurnya, baru kali ini bersihin sampah,” ucap sang ibu satu anak kepada Beritagar.id.

Jika musim hujan, warga pinggir kali ini juga menjadi langganan banjir. “Setiap tahun pasti banjir, hujan juga banjir, hujan sebentar pasti banjir," keluhnya.

Saat banjir, ketinggian air bisa mencapai 30 cm, sehingga sekolah di sekitar Kali Bahagia--SD 05 Bahagia, SD 06 Bahagia, SMP 4 Babelan, dan SMA 3 Babelan--mesti diliburkan.

Tercemarnya kali bahagia ini juga dikhawatirkan banyak menimbulkan penyakit, ataupun nyamuk, untungnya ia dan keluarga tidak pernah terkena penyakit akibat kalinya kotor. “Kalau sakit perut sih alhamdulillah enggak, kalau nyamuk memang ada banyak, apalagi kalau musim banjir dia jadi telur-telur jadi banyak nyamuk,” ujarnya.

Tasya dan keluarganya termasuk beruntung. Penyakit demam berdarah (DBD) sempat menjangkiti warga lain di sana.

"DBD setiap tahun 3-4 orang (terkena DBD) dugaan (penyebab) dari kali. Air got-nya nggak kering-kering. Air nggak bisa ngalir, dari situ banyak jentik nyamuk," ujar Ketua RW 21, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Ariffudin Dachlan, dinukil detikcom.

Penduduk bertambah, sampah makin banyak

Alat berat tampak digunakan untuk membersihkan Kali Bahagia, Babelan, Bekasi, Jumat (2/8/2019).
Alat berat tampak digunakan untuk membersihkan Kali Bahagia, Babelan, Bekasi, Jumat (2/8/2019). | Yoseph Aldi /Beritagar.id

Sugeng, Ketua RT 13/RW 11 Kelurahan Bahagia, menyatakan bahwa penumpukan sampah baru pertama kali terjadi. Dulu, ia berkisah, Kali Bahagia airnya bersih, bisa untuk memancing. Airnya tidak hitam dan dipenuhi sampah seperti saat ini.

Menurutnya, hal itu adalah imbas kenaikan jumlah penduduk yang tinggal di sekitar kali.

"Semenjak sebelum perumahan BTN ini dibangun, kali ini bersih, bisa dibilang sangat bersih. Namanya ibaratnya makin lama makin banyak orang, orang kadang-kadang kan buang limbah ke kali," ujarnya, lalu bercerita bahwa dulu banyak orang memancing ikan di kali itu.

Kemungkinan lain, sambungnya, sampah itu berasal dari pasar. Pada daerah hulu sungai tersebut memang terdapat Pasar Marakas.

Sungai itu juga melintasi beberapa wilayah, seperti Kelurahan Bahagia dan Desa Babelan Kota di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi; Kelurahan Kaliabang Tengah di Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi; serta hilirnya berada di Desa Setia Asih di Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

"Pernah warga saya angkut sampah di kali, disobek pas dibuka itu kulit ayam, bulu ayam, itu jelas sampah pasar. Bahkan ada yang suka buang-buang peti, kan ada peti ngalir, kita angkat, nah itu dari mana?" kata Sugeng setengah bertanya.

Warga juga, menurutnya, menduga sebagian besar sampah itu berasal dari pasar. Tetapi, lanjutnya, mereka tidak mau asal tuding.

Untuk itu, mereka berharap pemerintah setempat menyelidiki dan membuktikan siapa sebenarnya yang menjadi penyampah terbesar di Kali Bahagia. Apakah warga setempat atau pihak lain.

Pemerintah, menurutnya, selama ini kerap menyalahkan warga. Sugeng mengakui memang ada warga yang membuang sampah sembarangan. "Tapi, warga yang mana? Seperti apa orangnya?" kata Sugeng.

Dia dan warga setempat memiliki ide untuk mengetahui asal sampah terbanyak. Caranya, membentangkan jaring pembatas di sungai, sehingga diketahui di titik mana aliran sungai mulai terpampat.

"Kami ini mau bikin model jaring nanti, biar pemerintah ini liat dari mana sampah ini awalnya. Kami mau bikin. Jadi, perbatasan sektor 5 sana mau bikin, saya sudah ngomong sama warga saya, kita mau bikin," tegasnya.

Masalah lain yang disebut terkait dengan pencemaran Kali Bahagia adalah banyaknya bangunan liar di badan sungai. Sekretaris Kelurahan Bahagia, Mawardi, kepada Kompas.com menyatakan ada 204 bangunan liar yang berdiri di sana.

"Kendalanya untuk melakukan pembersihan sampah maksimal harus pakai alat berat, untuk alat berat sampai ke lokasi itu tidak mungkin karena ada bangunan liar dan sudah didata, itu kurang-lebih 204 bangunan liar yang ada di bantaran kali ini," ujar Mawardi.

"Artinya, andai kata tidak ada bangunan liar, alat berat bisa masuk, kami siap membersihkan lokasi itu."

Hingga berita ini ditulis, belum diketahui tindakan apa yang bakal dilakukan Pemerintah Kabupaten Bekasi terhadap bangunan liar dan penghuninya tersebut. Hal yang pasti, warga sekitar menunggu upaya nyata untuk membirukan kembali Kali Bahagia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR