LION AIR JT610

Di balik jengkel Rusdi Kirana kepada Boeing

Pesawat Boeing 737 yang digunakan maskapai Lion Air hendak lepas landas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.
Pesawat Boeing 737 yang digunakan maskapai Lion Air hendak lepas landas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. | Mast Irham /EPA-EFE

Pendiri dan Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana belum mengubah keputusannya terkait pembatalan pemesanan pesawat Boeing 737 Max.

"Aku merasa dicurangi. Dokumen-dokumen pencabutan sedang dipersiapkan, semuanya masih dalam pertimbangan," sebut Rusdi kepada Bloomberg, Kamis (6/12/2018).

Pertimbangan Rusdi menyasar pada laporan awal kecelakaan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 yang diumumkan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), akhir November lalu.

Meski tidak secara spesifik menyebutkan penyebab jatuhnya pesawat, KNKT mengungkap adanya kendala pada pilot dalam mengatur sensor posisi (angle of attack/AOA) pada pesawat.

Awalnya, KNKT sempat menyebut pesawat PK-LQP itu sudah tidak laik terbang sejak penerbangan Denpasar-Cengkareng. Dalam kondisi darurat, menurut KNKT pilot sebaiknya tidak menerbangkan pesawat atau pilihan lainnya adalah melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat, bukan meneruskan penerbangan.

Namun, pernyataan itu diralat satu hari setelah pengumuman laporan awal. KNKT kemudian menyebut pesawat PK-LQP masih laik terbang, hanya saja bukan berarti pesawat tidak bisa lepas dari masalah ketika mengudara.

Boeing Company merespons laporan itu dengan mengungkap bagaimana pilot dan teknisi PK-LQP melakukan perbaikan sistem AOA pada penerbangan Denpasar-Cengkareng, satu hari sebelum penerbangan nahas tujuan Cengkareng-Pangkalpinang, 29 Oktober 2018.

Dalam rilisnya, Boeing mengetahui adanya informasi penggantian sensor AOA dalam penerbangan tersebut. Namun, Boeing sekilas mempertanyakan laporan KNKT dengan menanyakan apakah sensor diganti dengan alat yang baru atau bukan.

Sebab, sensor yang telah diganti itu nyatanya tetap memberikan masalah pada penerbangan selanjutnya.

Boeing kemudian menyasar bagaimana pilot mengatasi persoalan sensor posisi dengan mematikan sistem stabilisator trim otomatis untuk selanjutnya diatur dalam posisi manual. Menurut mereka, langkah ini sudah sesuai dengan panduan operasional yang dibagikan kepada semua kru pesawat yang menerbangan 737 Max.

Dalam garis besarnya, Boeing seolah mengarahkan kesalahannya pada kemampuan pilot dalam menerbangkan pesawat. Apalagi, Boeing tetap bersikeras bahwa sistem penerbangannya dibuat dengan pertimbangan keamanan yang sangat matang.

Rilis Boeing ini yang disinyalir membuat Rusdi mengamuk. "Secara etis, seharusnya tidak ada seorang pun yang memberikan opini mereka tentang laporan awal," sebutnya, masih kepada Bloomberg.

"Aku adalah salah satu pelanggan terbesar mereka. Kami saat ini sedang dalam posisi sulit. Sebagai mitra, mereka seharusnya membantu kami, bukan memberi kesan negatif kepada kami," tegasnya.

Lion Air adalah pemesan pertama terbanyak model terbaru Boeing ini. November 2011, Rusdi mengajukan pemesanan 230 pesawat Boeing dengan nilai total mencapai $21,7 miliar AS atau setara Rp195,3 triliun (asumsi nilai Dolar AS ketika itu pada posisi Rp9.000).

Rusdi memiliki target untuk memesan hingga 403 pesawat Boeing. Target itu membuat Lion Air masuk dalam deretan ketiga pemesan model 737 Max terbanyak setelah Southwest Airlines dan Flydubai.

Boeing kemudian memberikan Lion Air pelayanan terbaiknya. Model 737 Max 8 pertama kali diberikan kepada Lion Air pada Mei 2017. Lion Air juga tercatat sebagai maskapai pertama di dunia yang menerbangkan pesawat tersebut.

Untuk memenuhi pesanan itu, Boeing masih harus mengirimkan sekitar 190 pesawat 737 Max 8 lagi kepada Lion Air. George Dimitroff, Kepala Valuasi Flight Ascend Consultancy menyebut Boeing bakal mengirim tujuh pesawat pada tahun depan, diikuti dengan 24 pesawat lainnya pada 2020, dan 35 pada 2021.

Lalu, apa yang akan terjadi jika Rusdi benar melakukan pembatalan pesanan pesawat?

Ketua Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto kepada Tirto.id menyebut, pembatalan pesanan pesawat yang dilakukan Lion Air kemungkinan akan berdampak kepada deposit uang muka atau booking fee yang sudah dibayarkan tidak dapat dikembalikan.

Terburuknya, maskapai bisa terkena tuntutan perdata jika pesawat yang dipesan itu dalam jumlah yang banyak.

Boeing belum mengeluarkan pernyataannya terkait rencana pembatalan Lion Air ini. Boeing hanya menyatakan saat ini pihaknya tengah fokus kepada proses penyelidikan menyeluruh pada kecelakaan JT610.

"Lion Air adalah pelanggan berharga kami dan kami akan mendukung mereka melalui masa sulit ini," ucap Boeing.

Terkait masalah serupa, Direktur Utama Lion Air Edward Sirait juga telah menghadap Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Dalam pengakuannya, Edward justru tidak mengetahui persis terkait rencana pembatalan ini.

"Saya belum ketemu Pak Rusdi, saya konfirmasi dulu. Kalau mengenai bisnis apapun bisa terjadi. Tapi, saya tidak mengatakan ya atau tidak [batal beli pesawat Boeing], dari situasi ini kan kita akan mempelajari semua informasi dan data-data yang memang berkembang terkait dengan kejadian ini," tukas Edward, dikutip dari CNBC Indonesia.

BACA JUGA