Di balik koreksi Google soal pencarian ''sungai bersih''

Tangkapan layar pencaria "sungai bersih karena Foke" yang menampilkan koreksi Google "sungai bersih karena Ahok".
Tangkapan layar pencaria "sungai bersih karena Foke" yang menampilkan koreksi Google "sungai bersih karena Ahok". | Istimewa /Google

Keriuhan ini terjadi sejak akhir pekan lalu. Bermula dari pernyataan calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang menyebut bersihnya sungai di Jakarta tidak terlepas dari program mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Menanggapi pernyataan Anies itu, sejumlah pengguna media sosial ramai berbagi tangkapan layar pencarian Google atas kata kunci "sungai bersih karena Foke". Menariknya, pencarian atas kata kunci itu, dilengkapi koreksi otomatis dari Google, yang menyebut: "sungai bersih karena Ahok".

Dengan tampilan itu, seolah-olah Google hendak memberitahukan bahwa sungai di Jakarta bisa bersih karena Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), bukan Fauzi Bowo (Foke). Tampilan itu lantas dipakai sejumah netizen untuk membantah pernyataan Anies.

Adapun nama Ahok dan Foke bertautan dalam jabatan Gubernur DKI Jakarta. Ahok masih berstatus Gubernur, sedangkan Foke adalah Gubernur pada 2007-2012. Jabatan itu yang ikut membuat hasil pencarian atas keduanya cenderung dekat.

Cara kerja koreksi otomatis Google

Belakangan muncul respons balik atas hasil pencarian tersebut. Sejumlah tangkapan layar menunjukkan, bila kata kunci "sungai" diganti menjadi "istana", "rumah", atau "pluto", akan menunjukkan hasil koreksi otomatis yang sama.

Hal itu termuat dalam status Facebook Ismail Fahmi, praktisi teknologi informasi dan pendiri Awesometrics--sebuah layanan pemantauan reputasi daring.

Ismail menjelaskan, hasil pencarian dan koreksi Google itu bisa terjadi karena algoritma yang menggunakan Stastical Machine Learning.

"Jadi, itu tergantung dari query (pertanyaan pencarian) yang diajukan oleh orang-orang sebelumnya, yang memiliki kemiripan, dan yang menghasilkan results yang mirip. Semakin sering orang tanya sebuah query, maka itu akan dijadikan rekomendasi oleh Google," tulis Ismail, soal algoritma itu.

Sekadar catatan, informasi soal "sungai bersih" di Jakarta, setidaknya sudah beredar di jagat internet sejak setahun silam (September 2015).

Seiring itu, hadir pula kecenderungan netizen melakukan pencarian dengan kata kunci "sungai bersih karena Ahok" di Google. Hal itu bisa dilihat dalam grafik tren pencarian Google selama 1 September 2015-30 September 2016--persis sebelum hadirnya pernyataan Anies (30/9/2016).

Dari grafik tren pencarian itu terlihat "sungai bersih karena Ahok" memang kerap dicari netizen. Kecenderungan pencarian macam itulah yang dibaca algoritma Google--dan menghasilkan koreksi pencarian seperti yang ramai beredar di media sosial.

Grafik tren pencarian Google, atas kata kunci "sungai bersih karena Ahok" menunjukkan peningkatan sejak September 2015.
Grafik tren pencarian Google, atas kata kunci "sungai bersih karena Ahok" menunjukkan peningkatan sejak September 2015. | Istimewa /Google.com

Penjelasan juga bisa disimak di laman Google soal "Penelusuran menggunakan pelengkapan otomatis".

Google menjelaskan, prediksi penelusuran dibuat oleh algoritma tanpa keterlibatan manusia. Algoritma itu menimbang faktor objektif, termasuk seberapa sering orang lain melakukan penelusuran kata.

Pun algoritma didesain untuk mencerminkan info yang merentang di situs web. Karena rentangan info itulah istilah penelusuran bisa terlihat aneh atau mengejutkan.

Koreksi otomatis itu bisa saja menampilkan hasil yang berbeda ketika pencarian dilakukan pada waktu berbeda, sebab algoritma bisa saja menerima informasi yang berbeda. Pun tingkat pencarian yang fluktuatif dari waktu ke waktu.

Sebagai misal, bila pencarian "Jakarta bersih karena Ahok" dilakukan lima atau enam tahun silam, maka boleh jadi akan dikoreksi menjadi "Jakarta bersih karena Foke". Sebab pada saat itu volume pencarian soal "Jakarta bersih" lebih merujuk ke Foke yang masih menjabat Gubernur.

Google pun telah menegaskan bahwa prediksi hasil pencarian itu bukanlah fakta. "Prediksi penelusuran bukan jawaban untuk penelusuran Anda. Juga bukan pernyataan orang lain maupun Google tentang istilah penelusuran Anda," demikian penegasan Google.

Sekadar informasi tambahan, bila ingin bermain-main dengan fitur koreksi itu, Anda sebenarnya tak perlu susah melakukan pencarian di Google. Sila berkunjung ke laman Did-You-Mean-Generator, layanan itu memungkinkan Anda membuat pencarian (fiktif) dan koreksinya sesuka hati.

Konteks pernyataan Anies

Kembali ke pernyataan Anies soal sungai bersih. Seperti termuat di artikel detikcom, Anies sekadar menjelaskan bahwa program sungai bersih itu merupakan buah kesinambungan program Gubernur DKI Jakarta selama beberapa periode terakhir.

"Sekarang sungai-sungai bersih bukan? Programnya dirancang tahun 2009 oleh Pak Fauzi Bowo, lalu dilaksanakan di akhir pemerintahan Pak Fauzi Bowo. Lalu dilanjutkan oleh bapak Jokowi. Lalu dua tahun terakhir ini diteruskan oleh Pak Basuki," kata Anies.

Merujuk kutipan lengkap itu, Anies tidak sedang menyebut kebersihan sungai di Jakarta karena Foke atau Ahok, melainkan hasil kerja berkelanjutan.

Pun Ahok juga mengakui bahwa rancangan bersih-bersih sungai yang dinaungi dalam program Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) itu sudah ada sejak era gubernur terdahulu, termasuk Sutiyoso.

"Sebetulnya program JEDI itu, normalisasi sungai itu dari zaman Bang Yos (Sutiyoso), lalu bicara tanda tangannya di zaman Pak Foke. Sama kaya MRT, semua zamannya mereka. Tapi siapa yang eksekusi? Itu yang saya sama Pak Jokowi sampaikan, Jakarta itu enggak butuh program, teori-teori, kita harus eksekusi, harus tindakan nyata," ujar Ahok.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR