INDUSTRI PENERBANGAN

Di balik misi Garuda ambil alih operasional Sriwijaya Air

Pesawat Garuda Indonesia tengah diperbaiki di bengkel pesawat Garuda Maintenance Facility di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten.
Pesawat Garuda Indonesia tengah diperbaiki di bengkel pesawat Garuda Maintenance Facility di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten. | Mast Irham /EPA-EFE

PT Garuda Indonesia Tbk, melalui anak usahanya PT Citilink Indonesia mengambil alih pengelolaan finansial dan operasional Sriwijaya Air dan Nam Air. Lewat skema Kerja Sama Operasi (KSO), seluruh operasional Sriwijaya Air Group -- termasuk keuangan -- akan berada di bawah pengelolaan Citilink.

Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Askhara Danadiputra, menyebut kerja sama ini dilakukan untuk membantu memperbaiki kinerja operasi dan kinerja keuangan Sriwijaya Air group yang saat ini terbelit masalah finansial.

"Kerja sama operasi ini membantu Sriwijaya Air dalam memenuhi komitmen-komitmen atau kewajiban mereka terhadap pihak ketiga yang di antaranya ada pada lingkungan Garuda Indonesia Group," kata pria yang akrab disapa Ari tersebut dalam keterangan resminya yang dikutip Jumat (16/11/2018).

Bisnis penerbangan memang sedang tidak mudah. Direktur Utama Sriwijaya Air, Chandra Lie, mengakui bahwa industri penerbangan saat ini memang kian kompetitif.

Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar sepanjang tahun menjadi salah satu faktor yang memperburuk kinerja maskapai. Bagaimana tidak, 80 persen dari total biaya maskapai dibayar dengan dolar.

Alhasil, maskapai-maskapai besar seperti Garuda Indonesia, AirAsia hingga Lion Air mencatat rugi sepanjang 2018.

Di samping biaya operasional, Sriwijaya Air ternyata juga harus memikul beban utang ke sejumlah perusahaan -- salah satunya kepada Garuda Indonesia.

Berdasarkan laporan keuangan Garuda Indonesia pada September 2018, Sriwijaya Air memiliki utang pemeriksaan menyeluruh (overhaul) 10 mesin pesawat sebesar 9,33 juta dolar atau sekitar Rp139,3 miliar (kurs JISDOR akhir September Rp14.929 per dolar AS). Rencananya, Sriwijaya Air akan melunasi utang tersebut dengan mengangsur selama 36 bulan.

Selain itu, ada pula utang perawatan pesawat sebesar 6,28 juta dolar atau sekitar Rp92,75 miliar dan Rp119,77 miliar yang telah dianjak piutang kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

Total kedua utang tersebut mencapai sekitar Rp433 miliar. Semuanya merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh Siriwijaya Air atas jasa perawatan pesawat pada anak usaha perusahaan, PT Garuda Maintenance Facility Aeroasia (GMFAA).

Ambisi kuasai rute domestik

Di samping tujuan finansial, kolaborasi Garuda Indonesia dengan Sriwijaya Air Group diharapkan bisa menyalip dominasi Lion Air Group di pasar rute domestik. Ari menargetkan Garuda bisa menguasai 51 persen pangsa pasar penerbangan domestik.

"Ini merupakan langkah strategis sehingga secara langsung membantu sinergi Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Group dalam mengelola pangsa pasar penumpang angkutan udara hingga 51 persen," jelas Ari.

Pada 2017, pangsa pasar rute domestik memang masih dikuasai oleh Lion Air dengan share sekitar 30 persen, lalu diikuti Garuda dengan 20 persen.

Lion Air Group, yang saat ini terdiri dari Lion Air, Batik Air, dan Wings Air mengoperasikan setidaknya 218 unit pesawat di Indonesia. Masing-masing Boeing 737-800 NG, 737-900 ER, Airbus A320, A330, ATR 72-500/600, dan terbaru Boeing 737 Max 8.

Sementara Sriwijaya Air Group baru mengoperasikan 58 unit pesawat hingga akhir 2017. Sedangkan Citilink yang akan berperan sepenuhnya dalam KSO ini sudah beroperasi dengan 50 unit pesawat.

Lebih jauh, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Gatot Trihargo, mengatakan tidak menutup kemungkinan kerja sama Garuda dan Sriwijaya Air juga akan dikembangkan ke tahap akuisisi.

"Tidak menutup kemungkinan [akuisisi]. Nanti lihat kondisi ke depan sambil dilakukan kajian," jelas Gatot dalam Bisnis Indonesia.

Sementara analis Panin Sekuritas, William Hartanto, menilai KSO yang diteken dapat memperluas pangsa pasar Garuda Indonesia Group. Akan tetapi, secara keuangan tidak akan berdampak besar.

"Pertama, Garuda Indonesia masih merugi dan Sriwijaya Air masih kalah dibandingkan dengan maskapai lain seperti Air Asia atau Lion," jelasnya kepada Beritagar.id, Jumat (16/11).

William menyarankan agar Garuda Indonesia perlu mempersiapkan beberapa strategi untuk memanfaatkan jangkauan pasar yang bertambah. Dengan demikian, langkah strategis tersebut dapat memperbaiki kinerja keuangan perseroan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR