KEJAHATAN LINGKUNGAN HIDUP

Diduga buang limbah ke Citarum, tiga penatu disegel

Suasana pemandangan sungai Citarum di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (15/1/2018).
Suasana pemandangan sungai Citarum di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (15/1/2018). | Raisan Al Farisi /AntaraFoto

Sungai Citarum merupakan salah satu sungai dengan angka pencemaran limbah tertinggi di dunia. Pada 2009, Bank Pembangunan Asia (ADB) pun menyebut Citarum adalah sungai paling kotor di dunia (h/t VoA).

Menurut Greenpeace, 80 persen pabrik di sekitar Citarum membuang limbahnya ke sungai tersebut. Hal ini pun kemudian menggerakkan pemerintah untuk merevitalisasi Citarum tahun ini.

Revitalisasi tersebut diawali dengan melakukan penyusuran di sepanjang sungai. Dari hasil penyusuran ditemukan tiga usaha penatu yang menyalahi aturan pembuangan limbah.

Mereka ialah Xpress Laundry milik H Asep Iskak Mutaqin bin Abdulrahman, Ciharuman Laundry milik Hapisuddin, dan Elvito Washing milik H Darajat.

Seperti yang dilansir Liputan6, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Barat Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan, ketiga perusahaan tersebut diduga telah mencemari lingkungan dengan membuang limbah berbahaya.

Bahan berbahaya yang dibuang ke Sungai Citarum di antaranya berupa limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) berupa lumpur dari sisa hasil endapan yang ada di bak penampungan. Lalu ada sabun cair, bahan kimia OBA, ABS, silikon, sodium sulfat, pelembut, kausik, PK, biowash, dan pewarna tanpa melalui pengolahan.

"Rata-rata perusahaan dalam membersihkan pakaian dengan bahan kimia lalu limbahnya dibuang ke Citarum. Dalam sehari ada lima ratus potong pakaian. Bayangkan satu bulan berapa dan setahun berapa. Nah berapa limbah yang dihasilkan dan dibuang," tuturnya seperti diberitakan detik.com.

Sementara itu, Direktur Resere Kriminal Khusus Polda Jabar, Kombes Samudi, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih dalam. Beberapa sampel limbah yang didapat kini sedang diteliti di laboratorium dan dicocokkan dengan bahan kimia yang digunakan ketiga penatu untuk beroperasi.

Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto (kedua kanan) bersama Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo (ketiga kanan) menunjukkan barang bukti bahan kimia saat gelar perkara Limbah Industri DAS Citarum di Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Senin (22/1/2018).
Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto (kedua kanan) bersama Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo (ketiga kanan) menunjukkan barang bukti bahan kimia saat gelar perkara Limbah Industri DAS Citarum di Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Senin (22/1/2018). | Raisan Al Farisi /AntaraFoto

Sambil menunggu, saat ini kantor ketiga perusahaan di wilayah Kabupaten Bandung itu telah dipasang garis polisi dan dalam status quo.

"Kami berikan police line (garis polisi, red.) di tiga titik, sudah tidak ada aktivitas dan tidak boleh lagi melakukan aktivitas," kata Irjen Agung di Mapolda Jabar, Senin (22/1), seperti dikutip CNN Indonesia.

Bila terbukti bersalah, ketiganya akan dikenai tindak pidana sebab perusahaan membuang limbah cair dan padat ke Sungai Citarum.

Selain merusak lingkungan, ketiga jasa pencucian pakaian ini sama sekali tidak memiliki izin dalam menjalankan usahanya tersebut.

"Dokumen perusahaan ini juga tidak memiliki izin resmi apapun dari pemerintah setempat," jelas Kapolda Jabar. Padahal, ketiga pengusaha tersebut telah menjalankan bisnis penatunya kurang lebih sejak lima tahun yang lalu.

Direskrimsus Polda Jabar, Kombes Samudi, menjelaskan bahwa limbah cair dari tiga perusahaan itu tidak diolah dulu di instalasi pengolahan limbah (Ipal) cair. Namun, langsung dibuang ke sungai.

"Jadi mereka langsung membuang langsung ke saluran air di belakang perusahaan masing-masing, saluran air tempat pembuangan limbah cair ini bermuara di Sungai Citarum," papar Direskrimsus, seperti dikutip dari Kriminologi.id.

Agung mengatakan, polisi kini serius menangani pembuangan limbah ke Sungai Citarum. Bahkan, pihaknya bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk menyelesaikan persoalan sungai.

"Ini menjadi perhatian bersama dengan bantuan Kodam III Siliwangi. Penanganan ini dilakukan karena kami juga perlu bertanggung jawab terhadap kesinambungan anak cucu kita nanti," kata Agung

Dalam pengungkapan kasus kejahatan lingkungan ini, pihak Polda pun menelusuri kemungkinan adanya perusahaan serupa di wilayah Kabupaten atau kota lainnya, yang membuang limbah ke sungai Citarum.

Tak menunggu lama, diberitakan Kumparan, seorang oknum anggota TNI AD berinisial Serda TDP ditetapkan sebagai tersangka oleh Polisi Militer Daerah Militer (Pomdam) III/Siliwangi dalam kasus pembuangan limbah medis di Desa Pangurugan, Kabupaten Cirebon.

Komandan Pomdam III/Siliwangi Kolonel CPM Adrey Satwika Yogaswara mengatakan, Serda TDP memilki perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan barang rongsokan.

Ia dipercaya tiga rumah sakit di Jawa Barat untuk mengelola limbah medis. Namun, pada praktiknya, Serda TDP tidak membuang limbah medis sesuai standar. Ia malah membuang limbah, tanpa diolah sama sekali.

"Dia punya perusahaan di bidang barang bekas. Punya surat izin juga. Tapi dia tidak punya izin mengolah limbah medis. Tapi kok rumah sakit bisa percaya sama dia," kata Yogaswara di Markas Polda Jawa Barat, Bandung, Senin (22/1).

Kepala Penerangan Kodam III Siliwangi M. Desy Arianto pun menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian dari Kodam, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK dan polisi, limbah medis tersebut diduga telah mencemari tiga sungai. Yaitu Sungai Cisadane, Ciliwung, dan Citarum.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR