Dituduh bikin dokumenter PKI, pria kelahiran Padang dideportasi

Ilustrasi kuburan massal.
Ilustrasi kuburan massal. | Aditia Noviansyah /TEMPO

Malang benar nasib Tom Iljas warga Swedia ini. Niatnya mengunjungi makam orang tua dan keluarganya di Padang, Sumatera Barat berujung pada deportasi.

Tom, pria berusia 77 tahun, memang lahir di Padang. Dikutip dari Portalkbr.com, Tom mahasiswa teknik (mekanisasi pertanian) tahun 1960-an. Saat itu ia dikirim oleh pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat untuk melanjutkan studinya ke luar negeri.

Malang bagi Tom. Ketika geger 30 September 1965 meletus, ia tak bisa pulang. Namanya dikait-kaitkan dengan tragedi itu. Ia pun menjadi eksil. Ia kemudian memutuskan bermukim di Swedia. Sampai kemudian ia menjadi warga negara Swedia. Semenjak jadi warga negara Swedia, inilah pertama kalinya Tom menengok kampung halaman.

Tujuan pulang kampung ini tak lain adalah untuk ziarah ke makam orang tua dan saudaranya. Pada 10 Oktober lalu, ia pun mengunjungi makam orang tuanya yang terletak di Salido, Painan Kabupaten Pesisir Selatan Sumbar (sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Padang).

Tom berangkat bersama empat orang saudaranya: Yulia Evina Bhara atau Ebe (33 tahun), Al (81 tahun), AK (36 tahun), AM (41 tahun) dan OP (35 tahun).

Pada 11 Oktober, begitu cerita Yulia Evina Bhara yang dilansir Suara.com, Tom dan rombongan mengunjungi makam ibunda Tom, almarhum Siti Mawar di pemakaman Kampung Salido.

Selanjutnya,Tom dan rombongan menuju sebuah lokasi yang diyakini oleh penduduk desa sebagai pemakaman massal tempat di mana ayah Tom yakni almarhum Ilyas Raja Bungsu berada. Karena tidak tahu persis di mana lokasi makam ayahnya, mereka menghampiri rumah Bapak U (bekas pemilik tanah) dan Pak A, penduduk lokal yang dianggap mengetahui lokasinya.

Sampai di lokasi yang diduga tempat makam ayah Tom dikuburkan massal, AI meminta izin kepada pemilik tanah yang baru. Al bilang ia dan rombongan akan berdoa di makam itu. Pemilik tanah yang baru menyuruh AI untuk izin kepada kepala kampong yang juga sedang ada di tempat itu. Sayangnya, kepala kampong tidak mengizinkan mereka melakukan doa.

Yang mengejutkan, di lokasi itu tiba-tiba ada kurang lebih 20 orang yang diduga intel memotret dengan kasar seraya mengusir rombongan Tom. Rombongan pun memutuskan pulang dan membatalkan ziarah ke makam ayah Tom.

Saat romobongan pulang menuju Padang, demikian ditulis Sumbarsatu.com, di KM 5 tiba-tiba mobil rombongan Tom diadang mobil polisi. Anggota polisi yang memakai pakaian preman itu langsung mengambil paksa kunci mobil rombongan Tom. Mereka meminta semua yang di mobil turun tapi ditolaknya.

Akhirnya polisi mengambil alih kemudi. Mereka pun digiring menuju Polres Pesisir Selatan untuk diinterogasi.

Selama proses interogasi dan dari dokumen yang tertulis, kata Yulia, disebutkan bahwa tidak ada pasal yang dikenakan, namun polisi terus menyatakan bahwa rombongan adalah pembuat film dokumenter kekejaman terhadap PKI di Padang.

Karena keberatan dengan proses hukum yang berlangsung, tidak ada satu pun dari rombongan yang bersedia untuk menandatangani BAP. Namun polisi mengancam. Mereka bakal tidak dilepas jika tak mau menandatangani BAP.

Karena diancam, akhirnya mereka bersedia tanda tangan. Namun, kata Yulis, setelah tanda tangan BAP, polisi malah melakukan penggeledahan. Semua barang-barang disita dan dimasukkan ke ruang interogasi.

Mereka merampas tas dan membongkar laptop AK. Karena tidak menemukan apa-apa dan tidak bisa mengoperasikan laptop maka polisi menghentikan mencari-cari data di laptop.

Namun tak lama kemudian polisi kembali menggeledah. Kali ini mereka merampas dua memory card. Polisi juga mengambil KTP dan paspor.

Proses pemeriksaan berlangsung pada 11 Oktober pukul 16.00 hingga tanggal 12 Oktober pukul 05.00 WIB.

Saat itulah, Kasat Intel Ebe mendapat giliran terakhir diinterogasi. Kasat Intel Polres Pesisir Selatan mempersoalkan identitas Tom Iljas sebagai orang asing, meski mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Minang.

Tom kemudian diinterogasi ulang.

Menurut Wendra Rona Putra, pengacara LBH Padang, polisi menginterogasi 5 orang itu tanpa menjelaskan statusnya. Polisi menahan mereka selama hampir 24 jam. Polisi menuduh foto-foto dan rekaman video ziarah yang diambil Tom itu ilegal.

Padahal foto diambil untuk koleksi pribadi. "Polisi mengatakan ingin mengamankan kawan-kawan ini tapi di satu sisi dia malah melakukan interogasi berjam-jam, bahkan melakukan penggeledahan dan penyitaan," kata Wendra kepada KBR.

Dalam komunikasi terbatas Ebe berhasil menghubungi Direktur LBH Padang dan juga perwakilan Komnas HAM. Ebe juga berhasil berkomunikasi dengan kedutaan Swedia di Jakarta untuk berkoordinasi terkait dengan pemeriksaan ini.

Saat itu juga Wendra Rona Putra dan juga perwakilan dari KOMNAS HAM Padang berangkat menuju Kabupaten Pesisir Selatan untuk menemui rombongan Tom.

Sementara itu Nur Khoiron dari komisioner Komnas HAM mengabarkan dirinya berhasil mengontak Kapolres Pesisir Selatan. Kepada Khoiron, Kapolres menyangkal rombongan Tom ditahan dengan delik membuat film dokumenter tentang pembantaian orang-orang PKI.

Kapolres, kepada Khoiron seperti dituturkan Yulia, mengatakan hanya mengamankan rombongan Tom karena ada keributan dengan warga dan ada masalah status warga negara salah satu orang dalam rombongan. Kapolres bilang rombongan akan dilepas sementara Tom akan diperiksa terlebih dahulu.

Tak lama kemudian, petugas Imigrasi datang. Mereka menemui Kapolres. Akhirnya dengan dikawal Polres Pesisir Selatan dan Imigrasi, rombongan diizinkan ke hotel untuk mandi. Kemudian mereka diminta untuk kembali lagi untuk dibawa ke Padang.

Pada 13 Oktober, Tom dan rombongan mendatangi kantor Imigrasi Padang didampingi LBH Padang. Di kantor Imigrasi itu hanya Tom yang diperiksa. Sedangkan lainnya hanya sebagai saksi.

Di kantor Imigrasi, Tom ditanya seputar tujuan kunjungannya ke Padang. Tom menjawab bahwa dirinya hanya ingin ziarah. Karena bisa pulang kampung, Tom menyatakan niatnya untuk mendokumentasikan tentang kampung halamannya untuk diperlihatkan kepada putra- putrinya di Swedia yang belum pernah ke kampung halamannya.

Namun pihak imigrasi tak percaya karena peralatan yang dipakai Tom tergolong lumayan bagus. Kata mereka, kalau mau mendokumentasikan cukup pakai handphone saja. Menurut imigrasi, visa kunjungan wisata tidak boleh dibuat untuk mendokumentasikan perjalanan wisata.

Dari hasil pemeriksaan akhirnya pihak Imigrasi memutuskan untuk mendeportasi dan mencekal Tom Iljas.

Tom pun langsung terbang ke Singapura untuk selanjutnya pulang ke Swedia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR