PENGELOLAAN SAMPAH

DKI timbun 5 ton limbah elektronik dalam 5 bulan

Ilustrasi sampah elektronik.
Ilustrasi sampah elektronik. | Geo-grafika /Shutterstock

Dalam lima bulan saja, DKI Jakarta menimbun lebih dari 5 ton limbah elektronik. Penting untuk menyadari, pengelolaan limbah elektronik sebab bisa berdampak buruk bagi lingkungan, pun kesehatan.

Ke mana baterai dan lampu yang sudah tak terpakai dibuang? Benda-benda yang tergolong limbah elektronik ini tak boleh dibuang bersama sampah lain.

Perlu diketahui, ragam limbah elektronik termasuk juga ponsel, laptop, televisi, lemari es, mesin cuci, mainan dan benda-benda lain yang pengoperasiannya menggunakan baterai atau listrik.

Kepala Seksi Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Rosa Ambarsari menjelaskan, masyarakat harus menyadari dahulu tentang limbah elektronik (e-waste). Limbah elektronik bisa membahayakan, lingkungan juga kesehatan jika dibuang sembarangan.

Alih-alih, limbah elektronik harus dipisah, dipilah, dan dikumpulkan tersendiri. Jika sudah terkumpul bisa dibuang di tempat sampah khusus limbah elektronik.

DLH DKI menyediakan 17 lokasi dropbox e-waste. Mulai dari Balaikota DKI, kantor-kantor Walikota di wilayah Jakarta, juga di beberapa halte Transjakarta dan stasiun Commuterline.

"Kami pun menyediakan fasilitas penjemputan limbah elektronik di rumah. Tinggal daftar saja lewat website, syaratnya harus lebih dari 5 kg dan warga DKI," jelas Rosa.

Rosa memaparkan, dalam kurun waktu Januari hingga Mei 2019, pengumpulan limbah elektronik di DKI Jakarta dari lima kota administratif jumlahnya lebih dari 5 ton. Persisnya 5.776,59 kilogram.

Jumlah ini paling banyak disumbangkan Jakarta Pusat yakni 1.786,61 kilogram, disusul Jakarta Utara 1.149,66 kilogram. Sementara, Jakarta Barat adalah wilayan yang paling sedikit menyumbang e-waste, sebanyak 891,15 kilogram.

Soal jenis limbah elektronik, paling banyak berupa televisi tabung yang mencapai 2.753,14 kilogram, lampu 574,66 kilogram, dan baterai 518,35 kilogram. "Masih banyak limbah elektronik lain yang tidak terkumpul ke kami," imbuh Rosa.

Limbah elektronik yang terkumpul akan dipilah oleh kepala satuan pelaksana DLH tingkat kecamatan. Dari situ, limbah diangkut ke gudang DLH DKI Jakarta, sebelum diangkut perusahaan pengolah limbah elektronik dan B3.

Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3, langkah ini harus dilakukan pengelola limbah berizin. Mekanisme pengolahan limbah elektronik, harus memenuhi standar baku untuk menghindari dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Dirjen Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PSLB3-KLHK), Rosa Vivien Rahmawati menjelaskan, pengelolaan limbah elektronik harus menggunakan teknologi daur ulang terpadu yang ramah lingkungan. Harus bisa dipastikan ada dua proses terpisah, yakni aktivitas pemisahan limbah dan pengolahan limbah.

Menurut Vivien, fasilitas pengelolaan limbah yang formal dan berizin dari pemerintah masih sangat terbatas. Data terakhir KLHK mencatat hanya ada 4 di Indonesia, yakni di Batam, Tangerang, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Untuk proses ini, DLH DKI menggandeng pihak ketiga, PT. Teknotama Lingkungan Internusa.

Dalam satu tahun DLH DKI melakukan dua kali pengangkutan limbah elektronik dan B3 yang terkumpul ke perusahaan pengolah limbah.

Masih banyak warga ibu kota yang belum menyadari pentingnya mengelola limbah elektronik. Ini terlihat dari tumpukan limbah elektronik di depo-depo pengumpulan sampah dari perumahan.

Padahal, dampak salah kelola limbah elektronik tak main-main. Seperti yang dialami warga di Kampung Curug, Tangerang dan Kampung Cinangka, Bogor.

Di kedua wilayah ini ada aktivitas peleburan aki yang signifikan. Dampaknya terbukti mengganggu kesehatan masyarakat.

Menurut penelitian pada 2009-2010, sampel darah terhadap 40 anak di kedua wilayah tersebut menunjukkan, kandungan timbal dalam darah yang melebihi ambang batas menurut WHO--di atas 10 mikrogram per desiliter.

Beberapa jenis logam berat, termasuk timbal, merkuri, kromium, kadmium, dioksin, terkandung dalam berbagai perangkat elektronik yang umum digunakan dalam keseharian.

Zat-zat tersebut bisa mengganggu kesehatan. Mulai dari memicu kanker, hingga menyebabkan cacat bawaan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR