PENEGAKAN HUKUM

Drama pemindahan sel ''Papa'' Setya Novanto

Terpidana kasus korupsi proyek KTP elektronik, Setya Novanto (tengah) berada dalam mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (14/5/2019).
Terpidana kasus korupsi proyek KTP elektronik, Setya Novanto (tengah) berada dalam mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (14/5/2019). | Reno Esnir /AntaraFoto

Setya Novanto (63) berulah lagi. Bekas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu kepergok pelesir ke Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Jumat (14/6/2019).

Ada banyak versi kunjungan Setnov, sapaan tenarnya, ke Bandung. Detikcom melaporkan Setnov mendatangi sebuah toko bangunan—diperkuat dengan pengakuan penjaga toko—ditemani tiga perempuan.

Rombongan Setnov datang sekitar pukul 15.00 WIB dengan menggunakan mobil BMW SUV dan menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit melihat-lihat. Setnov mengenakan kemeja biru lengan pendek, topi, dan masker yang menutupi separuh wajahnya.

Seorang pegawai menyebut Setnov memakai sepatu dan jam tangan mewah, berikut dengan parfum yang wanginya mudah menarik perhatian.

KOMPAS.com menyebut Setnov mengunjungi rumah contoh di Jalan Panyawangan, Padalarang, dengan seorang perempuan yang diduga kuat istrinya.

Pelesiran Setnov dibenarkan. Makanya, oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Liberty Sitinjak, Setnov langsung dipindahkan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin ke Lapas Gunung Sindur di Kabupaten Bogor.

“Pemindahan murni karena kejadian hari ini. Itu yang mendasari keputusan saya,” kata Liberty dalam jumpa pers.

Dalam catatannya, Setnov memang diizinkan keluar Lapas Sukamiskin pada 12 Juni 2019. Namun, izin itu diberikan bukan untuk berkunjung ke toko bangunan apalagi melihat-lihat rumah contoh.

Izin dikeluarkan karena Setnov berkilah menjalani rawat inap di RS Santosa Bandung. Tidak diketahui Setnov sakit apa. Tapi dia baru kembali lagi ke lapas pada Jumat sekitar pukul 19.00 WIB.

Sabtu (15/6/2019), Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal (Ditjen) Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (PAS) Ade Kusmanto menyebut pertimbangan pemindahan lantaran Lapas Gunung Sindur memiliki pengamanan yang lebih ketat dibandingkan lapas yang lain.

“Lapas Gunung Sindur adalah rutan untuk para teroris, dengan pengamanan maksimum, ‘one man one cell’. Diharapkan Setnov tidak akan melakukan kembali pelanggaran tata tertib lapas dan rutan selama menjalani pidananya,” kata Ade dalam AntaraNews.

Kendati demiakian, Ade mengaku bahwa pemindahan Setnov hanya akan bersifat sementara. Jika yang ditahan mau memperbaiki perilakunya, maka akan dipindahkan kembali ke Sukamiskin.

Terkait insiden ini, Ade mengaku bakal memeriksa petugas yang mengawal Setnov. Sebab dalam pengakuannya, pada sel Setnov sudah dipasang kamera pemantau khusus, sehingga keluar masuknya terpidana korupsi e-KTP itu bisa diketahui.

“Evaluasi sementara karena petugas tidak menjalankan tugasnya sesuai standar operasional prosedur,” kata Ade.

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Kurnia Ramadhana menilai Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly dan Dirjen PAS Sri Puguh Budi Utami wajib bertanggung jawab atas kejadian ini.

Kurnia menegaskan, peristiwa keluarnya Setnov dari sel untuk tujuan pelesiran membuat Kemenkum HAM seperti terlihat tidak menghargai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apalagi, sebelumnya eks Kepala Sukamiskin sudah pernah ditangkap karena terbukti menerima suap.

“Kejadian ini semakin menegaskan bahwa ada persoalan serius dalam pengelolaan serta pengawasan lembaga pemasyarakatan di Indonesia,” tegas Kurnia.

Kurnia yakin publik bakal bertanya-tanya seberapa besar keseriusan pemerintah dalam memberikan efek jera bagi para koruptor terkait kasus Setnov ini.

Pada kesempatan berbeda, juru bicara KPK Febri Diansyah mengingatkan agar Ditjen PAS tetap mengupayakan perbaikan pengelolaan lapas yang sudah pernah disusun dan dikoordinasikan dengan KPK.

“Atau setidaknya tahapan menuju ke sana perlu disampaikan ke publik agar masyarakat memahami bahwa upaya perbaikan sedang dilakukan,” tutur Febri.

Bukan pertama kali ‘Papa’ Setnov berulang. Publik tentu masih ingat Setnov pernah diduga menempati sel palsu di Lapas Sukamiskin Bandung. Dugaan itu muncul ketika tayangan eksklusif ‘Mata Najwa’ tentang sel Sukamiskin tayang, Juli 2018.

Dalam tayangan itu, Najwa menyebut Setnov dan juga terpidana korupsi lainnya M. Nazaruddin tak menempati sel aslinya. Hal itu diketahui karena barang-barang yang ada dalam sel Setnov tak sesuai dengan kepribadian mantan Ketum Golkar ini.

Temuan Najwa itu kemudian dibenarkan oleh Menkumham Yasonna Laoly.

Selain sel palsu, pada April 2019, Setnov juga dikabarkan terlihat di sebuah Restoran Padang di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Kahumas Ditjen Pas Ade membenarkan Setnov berada di luar lapas untuk mendapatkan tindak lanjut perawatan di RSAD Gatot Soebroto.

Ade menyatakan, berdasarkan rujukan dokter Lapas Sukamiskin pada 26 Maret 2019, yang ditandatangani oleh Susi Indrawati, pengobatan Novanto dapat dilaksanakan di rumah sakit rujukan pemerintah.

"Dengan diagnosa Arimia, CAD, vertigo, perifier, LBP, DMT2, dan CKD atas rekomendasi dokter lapas Susi Indrawati dan dokter luar lapas Ridwan Siswanto," ucap Ade melalui keterangan tertulisnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR