KEKERINGAN

Dua bulan lebih, 30,15 persen wilayah Indonesia tanpa hujan

Foto udara menunjukkan area persawahan yang mengalami kekeringan di Desa Banjar Anyar, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (16/8/2019).
Foto udara menunjukkan area persawahan yang mengalami kekeringan di Desa Banjar Anyar, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (16/8/2019). | Oky Lukmansyah /Antara Foto

Bencana sedang menghampiri Indonesia. Selain bencana legislasi, Indonesia tengah mengalami bencana alam berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan. Bahkan kini Indonesia mengalami hari tanpa hujan terpanjang yang ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rabu (18/9/2019), mengungkapkan 30,15 persen wilayah di Indonesia tak lagi disirami hujan secara ekstrem. Hanya 4,21 persen wilayah di Indonesia yang masih mengalami hujan.

Menurut BMKG, kategori hari tanpa hujan yang ekstrem adalah di atas 61 hari atau dua bulan dan biasa disebut pula bencana kekeringan. Ini misalnya dialami Kabupaten Sumba Timur di Provinsi NTT yang tidak dihampiri hujan selama 128 hari pada Juli lalu.

Hingga 10 September, menurut siaran pers BMKG, ada 22 provinsi di Indonesia yang mengalami hari tanpa hujan terpanjang. Delapan provinsi di antaranya, lima di Jawa, pun mengalami kekeringan yang sangat luas. Misalnya di Banten yang tidak mengalami hujan selama 110-170 hari.

Di Jawa Barat dengan 10 kabupaten, termasuk Indramayu yang sudah 146 hari tanpa hujan. Lalu Jawa Tengah dengan 10 kabupaten pula, termasuk Purworejo yang tak dihinggapi hujan selama 178 hari.

Sementara di DI Yogyakarta, empat kabupatennya tidak disiram hujan selama 134 hingga 159 hari. Sedangkan di Jawa Timur, dari 10 kabupaten tanpa hujan terpanjang paling parah adalah Kabupaten Malang selama 154 hari.

Di Bali, lima kabupaten mengalami hari tanpa hujan terpanjang dengan durasi 68 hingga 155 hari. Sementara di NTB, hujan absen datang mencapai 148 hari. Adapun di NTT, misalnya Sumba Timur, kini tak mengalami hujan selama 178 hari.

Di luar delapan provinsi itu, 10 provinsi di Sumatra mengalami hari tanpa hujan yang ekstrem pula (di atas dua bulan). Bahkan hujan yang tak kunjung turun itu membuat Provinsi Riau mengalami karhutla terparah. Tidak heran, BMKG pun mengeluarkan peringatan dini kekeringan.

Secara umum, wilayah yang mengalami kekeringan tak berubah dibanding tahun lalu. Jawa Barat, NTB, NTT, Jawa Tengah, dan Yogyakarta adalah wilayah langganan.

Darurat kekeringan

Sebenarnya sejumlah wilayah sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak Juli lalu. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 22 Juli lalu, ada 55 gabungan bupati dan wali kota yang sudah menetapkan status kekeringan di wilayahnya masing-masing.

Yang terbaru, Provinsi Gorontalo menetapkan status siaga darurat kekeringan pada Selasa (17/9) setelah hujan tak turun sejak Juni lalu. Dengan keberadaan status itu, seluruh perangkat daerah akan bergerak untuk mengatasi dampak kekeringan. Misalnya mengirim bantuan air bersih.

"Dengan status itu, pemerintah kabupaten/kota dan semua unsur untuk bisa mengerahkan segala sumber daya untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan," terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo, Sumarwoto, dalam konferensi pers di halaman rumah dinas Gubernur Gorontalo, Selasa (17/9).

Sementara pada awal September, Pemprov NTB menetapkan status siaga darurat kekeringan lantaran hujan tak kunjung turun. Status per 4 September itu ditetapkan untuk Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa Besar, Dompu dan Bima.

Adapun Kota Bima, Lombok Timur, dan Kabupaten Lombok Utara sudah lebih dulu bersiaga darurat kekeringan air bersih.

Menurut Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Restu Patria Megantara, selama dasarian (10 hari) I September 2019 tidak ada hujan di NTB. "Hari tanpa hujan kategori kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari terjadi pada 77 persen wilayah NTB," katanya, Sabtu (14/9).

Hujan buatan di Riau dan Kalteng

Dari upaya penanggulangan karhutla di Riau dan Kalimantan Tengah (Kalteng), pemerintah membuat hujan buatan dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC) pada Rabu (18/9). Di Riau, tim gabungan menggunakan pesawat Hercules C-130 untuk menabur garam NaCI sebanyak 3,4 ton.

Sedangkan di Kalteng, tim gabungan memakai pesawat CN 295 untuk menebar garam NaCi sebanyak 1.500 kg. Seluruhnya berhasil menurunkan hujan intensitas sedang dengan durasi sekitar 30 menit.

"Operasi TMC akan terus dilakukan di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Disediakan tiga pesawat bantuan TNI, dua di Pekanbaru dan 1 di Palangka Raya," ujar Agus Wibowo, Plt. Kapusdatinmas BNPB, dalam keterangan tertulis pada Kamis (19/9).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR