Dua cerita di balik dugaan pemukulan oleh Masinton

Anggota DPR Masinton Pasaribu, saat rapat kerja Pansus Pelindo II dengan Jaksa Agung H.M. Prasetyo, di DPR Oktober 2015. Masinton dilaporkan ke Bareskrim Polri, karena diduga memukul staf ahlinya.
Anggota DPR Masinton Pasaribu, saat rapat kerja Pansus Pelindo II dengan Jaksa Agung H.M. Prasetyo, di DPR Oktober 2015. Masinton dilaporkan ke Bareskrim Polri, karena diduga memukul staf ahlinya.
© Dhemas Reviyanto Atmodjo /Tempo

Anggota DPR dari PDI P, Masinton Pasaribu dilaporkan ke Bareskrim, Mabes Polri oleh Dita Aditya. Dita tak lain adalah staf ahli Masinton di DPR. Kasusnya tampak sederhana, Masinton diduga memukul staf ahlinya. Sebuah foto yang beredar di layanan pertukaran pesan Whats'app menunjukkan luka di mata kanan Dita.

Masinton tentu menolak tudingan ini. Ia punya versi sendiri bagaimana mata Dita bisa lebam oleh pukulan. "Kalau dibilang saya mukul, enggak benar banget itu," kata Masinton saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (30/1) malam.

Masinton menceritakan, pada Kamis (21/1) sekitar pukul 23.00 WIB, ia bersama sopir dan seorang staf ahlinya baru pulang dari sebuah acara. Tiba-tiba, staf ahlinya menerima telepon dari Dita, yang meminta dijemput di sebuah kafe di kawasan Cikini karena sedang mabuk berat. Di lokasi, sopir Masinton diminta untuk membawa mobil Dita. Sedang mobil Masinton dikemudikan oleh staf ahlinya. Dita lantas duduk di kursi depan. Sementara itu, Masinton duduk di kursi belakang.

Dita yang mabuk tersebut tiba-tiba menarik setir sehingga mobil oleng ke kiri. Di sekitaran jalan Otista, Jakarta Timur, mobil kembali oleng ke kiri. "Ternyata setir ditarik sama dia, tenaga ahliku langsung ngerem mendadak, tangannya (Dita) ditepis, terpental kena wajahnya," ucap Masinton.

Setelah kejadian itu, Dita langsung turun dari mobil. Masinton mengaku, menyuruh Dita kembali naik ke dalam mobil. Masinton juga menawarkan berobat. Tapi Dita menolak dan mengaku bisa berobat sendiri.

Nah, itu cerita versi Masinton. Kasus ini kian rumit jadinya, sebab Dita adalah kader Partai Nasional Demokrat (NasDem). Dita, selain jadi staf ahli Masinton, juga duduk sebagai Sekretaris Biro Perempuan dan Anak DPW Partai NasDem Jakarta.

Anggota Badan Advokasi dan Bantuan Hukum Partai NasDem, Wibi Andrino, yang mendampingi Dita juga punya versi sendiri bagaimana kronologi pemukulan itu. Menurut Wibi, motif pemukulan karena ada rahasia yang dibocorkan Dita ke Nasdem. "Korban Dita dituduh membocorkan rahasia Masinton kepada Partai NasDem," kata Wibi seperti dilansir Merdeka.com.

Menurut Wibi, pada malam kejadian, Masinton menjemput Dita dari kafe di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. "Staf ahlinya dibawa muter-muter, lalu di dalam mobil dipukul," kata Wibi. Penyebabnya karena rahasia yang konon dibocorkan. Rahasia apa?

Rahasia ini merunut pada Rapat Dengar Pendapat Rabu (20/1) antara Jaksa Agung dengan Komisi Hukum DPR, di mana Masinton bertugas. Dalam rapat itu, Masinton mengingatkan Jaksa Agung Prasetyo dalam kasus besar seperti Freeport dan Mobile 8. Sebab ada pertarungan antar geng dalam kasus-kasus tersebut. Dalam kasus Mobile 8, menurut Masinton, ada pertarungan geng Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo.

Sontak, pernyataan ini menyulut amarah dari Nasdem. Maklum, Surya adalah pendiri Nasdem. Prasetyo, juga pernah menjadi legislator dari Nasdem. Fraksi Nasdem melayangkan surat ke Fraksi PDI P. Mereka tak terima dengan pernyataan Masinton itu. Nasdem menuntut Masinton minta maaf dan menarik pernyatannya. Tapi Masinton menolak. "Saya tidak mau minta maaf karena saya anggap saya tidak salah," kata Masinton saat dihubungi Merdeka.com, Jumat (22/1).

Mana cerita yang benar?

Belum ada tanggapan dari Bareskrim, mana cerita yang sebenarnya melatari luka di mata Dita.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.