REHABILITASI SATWA

Dua gajah liar terjerat tali di Aceh Timur

Dua gajah liar yang terjerat di Aceh Timur, Senin (29/7/2019), sedang berusaha dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.
Dua gajah liar yang terjerat di Aceh Timur, Senin (29/7/2019), sedang berusaha dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. | Dokumentasi BKSDA Aceh

Dua ekor gajah liar terjerat tali tambang di Aceh. Kedua gajah tersebut berjenis kelamin betina berusia 35 tahun, masing-masing terjerat di kaki kanan depan dan kaki kiri depan.

Masing-masing gajah memiliki satu anak tersebut terjerat di lokasi berdekatan di Afdeling 3 PT. Aloer Timur, Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, Provinsi Aceh.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengerahkan tim ke lokasi guna melepaskan jeratan di kaki satwa dilindungi tersebut. Pada Senin (29/7/2019), tim telah berhasil melepaskan jerat dan mengobati luka akibat jeratan. Gajah liar kemudian kembali ke hutan, tetapi tetap dipantau pergerakannya.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo, mengatakan informasi gajah liar terkena jerat ini awalnya diperoleh dari tim Ranger Forum Konservasi Leuser (FKL) pada Sabtu (27/7). Kemudian tim BKSDA Aceh, FKL, dan drh. Anhar Lubis melakukan pelacakan keberadaan gajah di lapangan dan baru terpantau pada sore hari.

Keesokannya, Minggu (28/7), tim melakukan pengobatan terhadap gajah betina berumur 35 tahun yang terluka parah di kaki kanan depan. "Luka diperkirakan sudah sekitar sebulan. Pengobatan tuntas dilakukan sore hari," kata Sapto kepada jurnalis, Senin (29/7).

Pada hari itu pula, tim BKSDA Aceh kembali melepaskan jerat yang terkena pada gajah liar lain yang berada tak jauh dari gajah pertama. Gajah kedua ini didampingi anaknya yang berumur sekitar 7 bulan.

"Berhasil diobati di lokasi yang berdekatan. Jenis kelamin betina, umur 35 tahun, memiliki anak juga jenis betina," tutur Sapto.

Sanki sosial untuk penembak orangutan

Sementara itu, dua pelaku penembakan orang utan Hope berinisial AIS (17 tahun) dan SS (16 tahun) warga Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, dihukum sanksi sosial.

Penyelesaian kasus ini melalui diversi, yaitu pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

Kasus penembakan orang utan Sumatera bernama Hope terjadi pada 10 Maret 2019. Peristiwa itu mengakibatkan satu anak orang utan jantan yang berusia satu bulan mati. Sementara induknya, Hope, mengalami luka parah dengan 74 butir peluru senapan angin bersarang di tubuhnya.

Upaya diversi dilakukan pada tingkat penyidik tentang dugaan tindak pidana Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat (2) huruf a Jo pasal 40 ayat (2) Undang-undang RI No. 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Menurut Sapto, diversi pada tingkat penyidikan diberikan setelah ada kesepakatan bersama dengan instansi terkait. Misalnya Balai Pemasyarakatan (Bapas) Aceh Singkil, dan Dinas Sosial di ruang rapat Mapolsek Sultan Daulat, Polres Aceh Singkil.

Adapun sanksi sosial yang harus dipenuhi oleh kedua pelaku adalah pertama; wajib azan Magrib dan salat Isya di Masjid Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, selama satu bulan yang diawasi oleh Bapas dan aparat desa.

Kedua; bila sanksi poin pertama dilanggar, maka akan diulangi lagi dari awal. Terakhir, pelaku harus membersihkan tempat ibadah masjid atau musala. Pelaku mengakui perbuatannya serta meminta maaf kepada pihak terkait.

"Semoga putusan ini dapat memberi efek jera bagi pihak-pihak yang ingin melakukan tindak kejahatan tumbuhan satwa liar dan penyadaran kepada seluruh masyarakat," kata Sapto.

Menurut Sapto, kondisi orang utan Hope saat ini masih berada di Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, dengan kondisi kedua mata yang buta. "Proses penyembuhan terus dilakukan, termasuk kondisi psikologisnya," ujar dia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR