LINGKUNGAN HIDUP

Dua jenis hiu Karimunjawa yang mati itu

| Antyo /Beritagar.id

Saat berpose di kolam, di penangkaran hiu, jempol kaki kiri dan kaki kanan Nur Madinna (27) digigit hiu. Tapi saat kejadian itu Nur tak merasakan.

"Saat itu tidak terasa digigit atau diapakan, saat masih di kolam tidak terasa. Darah keluar banyak saat baru saja mentas dari kolam hiu," Nur bertutur tiga tahun lalu (h/t TribunJateng.com, 13/3/2016)

Kini penangkaran di Pulau Menjangan Besar, Kepulauan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, itu kembali menjadi berita. Sejumlah hiu tangkaan, dan ikan lainnya, ditemukan mati dua pekan lalu (7/3/2019), namun menjadi berita baru pekan ini.

Berikut catatan seputar peristiwa itu dari sekian pemberitaan:

  • Berapa jumlah hiu yang mati? Beragam. Ada yang menyebutkan 110 ekor, ada pula yang 40-45 ekor, namun ada pula menuliskan 90 ekor. Redaksi Beritagar.id belum mengecek ke sumber berwenang untuk memastikan angka.
  • Penangkaran milik Minarno (81) beroperasi sejak 1960-an, untuk atraksi wisata. "Penangkaran ini memang untuk wisata. Saya tidak pernah menjual ikan hiu," Minarno berujar.
  • Dua tahun setelah peristiwa hiu menggigit wisatawan, Kepala Balai Taman Nasional Karimunjawa, Agus Prabowo, memerintahkan penutupan atraksi hiu itu dengan surat S.182/T.34/TU/GKM/6/2018.
  • Hiu yang mati itu dari jenis blacktip reef shark (Carcharhinus melanopterus) dan whitetip reef shark (Triaenodon obesus). Keduanya punya alam asli di terumbu karang Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
  • Bycatch & Shark Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Ariyoga Gautama, curiga yang berlangsung di Karimunjawa bukanlah pembudidayaan — membesarkan anak hiu yang lahir di situ — melainkan memindahkan tangkapan dari alam. Tak ada pelestarian.
  • Dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) 2012, kedua jenis hiu itu berstatus hampir terancam (near threatened).
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR