Dua kasus korupsi menjerat mantan Rektor Unair

Mantan Rektor Universitas Airlangga, Dr H Fasich Apt, di Surabaya, Jawa Timur, 30 Maret 2008.
Mantan Rektor Universitas Airlangga, Dr H Fasich Apt, di Surabaya, Jawa Timur, 30 Maret 2008. | Fully Syafi /Tempo

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK ) menetapkan mantan rektor Unversitas Airlangga (Unair) Surabaya, Fasichul Lisan sebagai tersangka, pada Rabu (30/3). Menurut Humas KPK, Yuyuk Andriati Iskak, Rektor Unair 2006-2015 ini terlibat dalam dua kasus. Pertama, kasus pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Unair yang bersumber dana DIPA tahun 2007-2010. Kedua, kasus peningkatan sarana dan prasarana Rumah Sakit Pendidikan Unair Surabaya dengan sumber dana DIPA tahun 2009.

KPK menemukan bukti permulaan yang cukup untuk meningkatkan status kasus tersebut ke penyidikan. Tersangka selaku Rektor sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran Unair diduga telah melawan hukum dan menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain lewat dua kasus tersebut. Akibatnya, dari total nilai proyek lebih dari Rp300 miliar, negara ditaksir merugi sekitar Rp85 miliar.
Hingga kini, belum ada bantahan ataupun komentar dari tersangka ataupun pengacaranya.

Tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Kasus ini terkuak lewat pengembangan kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang dilakukan oleh tersangka Muhammad Nazarudin, mantan Bendahara Partai Demokrat. "Iya itu (kasus dugaan korupai di Unair) sebenernya pengembangan dari situ (kasus TPPU Nazaruddin)," ujar Yuyuk seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Tersangka, pada November 2014 pernah diperiksa KPK terkait kasus pencucian uang Nazaruddin. Mintarsih, Direktur Marketing PT Anugrah Nusantara, anak buah Nazaruddin, juga sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus peningkatan sarana dan prasarana Rumah Sakit Pendidikan Universitas Airlangga Surabaya.

Kasus ini juga menyeret Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan Bambang Giatno Raharjo. Dalam proyek senilai sekitar Rp87 miliar ini, negara dirugikan Rp17 miliar.

Sedangkan dalam kasus pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Unair yang bersumber dana DIPA tahun 2007-2010, menyeret nama Ketua PSSI La Nyala Mattalittti yang tengah buron untuk kasus korupsi dana hibah Kadin Jawa Timur.

"Memang ada kasus yang kami supervisi, tapi ada juga kasus lain, kalau bicara nama tadi (La Nyalla). Mungkin KPK tidak terlalu lama akan menaikkan kasus itu (ke tingkat penyidikan)," kata Ketua KPK Agus Rahardjo di Jakarta, Selasa (29/3) seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Komisi anti rasuah sebelumnya pernah menggali keterangan La Nyalla soal dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan untuk RS Unair pada tahun 2010. Pada 11 Maret 2015, dia dimintai keterangan terkait proses pemenangan lelang rumah sakit tersebut. Saat itu La Nyalla berkata, perusahaannya, PT Airlangga Tama melakukan joint operation dengan PT Pembangunan Perumahan di RS Unair sejak 2010.

KPK, kemarin menggeledah kantor Rektorat Unair dan kantor PT Pembangunan Perumahan di Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka menyita bukti-bukti dokumen.

BACA JUGA