PENERIMAAN CPNS

Dua peluang buat yang gagal tes CPNS

Sejumlah peserta mengikuti ujian seleksi CPNS Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung di Gedung Korpri Provinsi Lampung, Lampung , Selasa (13/11/2018). Karena standar nilai dianggap tinggi, rata-rata hanya 9 persen peserta yang lulus tes CPNS.
Sejumlah peserta mengikuti ujian seleksi CPNS Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung di Gedung Korpri Provinsi Lampung, Lampung , Selasa (13/11/2018). Karena standar nilai dianggap tinggi, rata-rata hanya 9 persen peserta yang lulus tes CPNS. | Ardiansyah /Antara Foto

Peserta tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang gagal masih punya peluang, setelah banyaknya kalangan meminta pemerintah mengevaluasi ambang batas nilai (passing grade) dalam tes penerimaan.

Salah satunya, Ketua DPR Bambang 'Bamsoet' Soesatyo. Ia meminta pemerintah mengevaluasi soal dalam tes CPNS, serta melakukan kajian terhadap mata ujian karena banyaknya peserta tes yang tidak lolos.

"Terutama Tes Karakteristik Pribadi (TKP), sehingga dapat mencapai target formasi yang sudah ditetapkan," kata Bamsoet melalui keterangan tertulis, Selasa (13/11/2018), seperti dinukil dari Kompas.com.

Dalam tes CPNS, peserta harus lolos tiga tahap tes. Yakni Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Untuk lolos, peserta umum harus mencapai nilai TKP minimal 143, TIU minimal 80, dan TWK minimal 75.

Banyak peserta mengaku kesulitan mengerjakan TKP. Yanneri Andreas Panjaitan, peserta CPNS 2018 di Makassar, Sabtu (27/10/2018) mengaku TKP adalah tes tersulit. Dia mengaku sangat kecewa karena gagal walau hanya selisih satu poin dari passing grade TKP. "Saya kira TWK dan TIU yang susah ternyata TKP," ujarnya seperti dinukil dari situs menpan.go.id.

Resqiyati Najib peserta lainnya, pasrah dengan hasil tesnya. "Saya tidak nyampe passing grade. TWK dan TIU yang saya kira susah ternyata lulus, tapi TKP jeblok," ungkapnya

Selasa (6/11/2018) pekan lalu, Kepala Biro Humas BKN Mohammad Ridwan menjelaskan, seluruh pembuatan soal berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta para ahli dari perguruan tinggi. "Jadi BKN tak tahu-menahu soal itu," ucap Ridwan kepada Liputan6.com.

Ketika soal itu diserahkan sudah dalam keadaan terenkripsi, dan dipastikan oleh Tim Q&A (Quality and Assurance) Panitia Seleksi Nasional. Entah sulitnya soal dalam tes, atau rendahnya kualitas pelamar, akibatnya persentase yang lolos tes SKD ini hanya 9 persen. Dari 1,7 juta orang, per 12 November 2018, hanya 128 ribu peserta yang lolos. Padahal, pemerintah membuka lowongan buat 238 ribu orang.

Dengan banyaknya yang gagal melewati tes ini, Bamsoet meminta pemerintah segera merumuskan kebijakan untuk mencegah terjadinya kekosongan formasi jabatan, agar pelayanan publik di masa mendatang tidak terganggu.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) memastikan tak akan mengadakan tes CPNS ulang. "Diulang enggak ada uangnya, anggarannya," kata Menteri PAN-RB, Syafruddin, Rabu (14/11/2018).

Tapi mereka menyiapkan dua opsi untuk menambal formasi CPNS yang kosong. Dua opsi yang dipertimbangkan adalah menurunkan passing grade atau melakukan pemeringkatan alias ranking.

"Opsinya, penurunan passing grade, iya," kata Ridwan kepada detikFinance, Jakarta, Senin (12/11/2018). Kini, opsi ini tengah dituntaskan seberapa besar passing grade akan diturunkan. Hal itu dengan mempertimbangkan beragam faktor yang belum bisa dia sebutkan secara perinci.

"Yang penting nanti saja, nanti saja setelah final. Misalnya (passing grade) mau (diturunkan) 10 poin, 20 poin, 30 poin, yang mana saja, itu semua sedang dirapatkan dan saya nggak boleh mendahului keputusan," ujarnya.

Opsi kedua, pemeringkatan nilai atau ranking. Jika opsi ini yang diterapkan maka passing grade tidak berlaku. "Ya diranking, jadi nggak melihat passing grade ya. Jadi semua opsi yang ada itu sedang dibicarakan," kata dia.


Catatan: berita ini telah ditambahi jumlah peserta yang lolos dan pernyataan Menteri PAN-RB
BACA JUGA