PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

Dua ruas tol akan dibangun di kawasan calon ibu kota baru

Foto aerial proyek pembangunan jalan Tol Balikpapan-Samarinda yang melintasi wilayah Samboja di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (28/8/2019).
Foto aerial proyek pembangunan jalan Tol Balikpapan-Samarinda yang melintasi wilayah Samboja di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (28/8/2019). | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

Dua ruas jalan tol akan dibangun di wilayah calon ibu kota negara baru di Kalimantan Timur (Kaltim). Keduanya adalah Tol Balikpapan-Samarinda yang sedang dalam proses konstruksi dan jembatan Tol Balikpapan-Penajam Paser Utara.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Danang Parikesit, mengatakan bahwa dua ruas jalan tol tersebut akan mendukung pengembangan Kaltim. Dari dua ruas itu, satu ruas sedang dalam tahap konstruksi dan lainnya masih dalam proses lelang.

”Harapan kita semua, (tol Balikpapan-Penajam Paser Utara) bisa dimanfaatkan untuk mendukung mobilitas kawasan, bersama-sama dengan Tol Balikpapan-Samarinda,” kata Danang dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (2/9/2019).

Dalam perencanaan BPJT hingga saat ini baru ada dua ruas tol yang akan melintas di Kalimantan Timur. Prinsipnya, terdapat jalan tol yang menghubungkan daerah di daratan dan ada tol yang menghubungkan pedalaman dengan wilayah pesisir.

Proyek Tol Balikpapan-Samarinda ini digarap oleh PT Jasa Marga Tbk. Persero dan ditargetkan selesai pada akhir tahun ini.

Menurut Direktur Operasi Jasa Marga, Subakti Syukur, hingga akhir Agustus 2019, progres konstruksi jalan tol sepanjang 99,35 kilometer mencapai 96,827 persen, pembebasan lahan mencapai 99,33 persen. Tol ini diketahui membentang di tengah-tengah area kawasan Bukit Soeharto.

Proyek ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang terdiri atas lima seksi, yaitu Seksi 1 mulai dari Km 13 hingga Samboja sepanjang 22,025 km, Seksi 2 dari Samboja hingga Muara Jawa sepanjang 30,975 km.

Kemudian, Seksi 3 dari Muara Jawa hingga Palaran sepanjang 17,3 km, Seksi 4 dari Palaran hingga Jembatan Mahkota II sepanjang 17,55 km, dan Seksi 5 dari Km 13 hingga Bandara Sepinggan sepanjang 11,5 km.

Jalan Tol Balikpapapan-Samarinda dilengkapi dengan empat gerbang tol (GT). Pertama, GT Manggar dengan ramp on/ramp off yang berada di Jalan Mulawarman. Kedua, GT Karang Joang dengan ramp on/ramp off di Jalan Soekarno-Hatta Km 13.

Ketiga, GT Samboja dengan ramp on/ramp off di Jalan Soekarno-Hatta Km 28. Terakhir, GT Palaran dengan ramp on/ramp off di Jalan Soekarno-Hatta Km 4 (Samarinda). Gerbang tol di Samboja ini akan menjadi salah satu akses masuk ibu kota baru Indonesia dari arah Samarinda dan Balikpapan.

Adapun skema pembiayaannya dibagi atas ruas dan menggunakan dana dukungan tunai atau viability gap fund (VGF), yaitu Seksi 1 dan 5 sepanjang 33,115 km dan ruas investasi (seksi 2,3,4) sepanjang 66,235 km.

Skema VGF adalah dana jaminan yang diberikan pemerintah untuk membangun sarana infrastruktur yang bekerja sama dengan swasta. Dukungan berupa VGF dapat menurunkan biaya konstruksi sebuah proyek infrastruktur sehingga tingkat pengembalian investasi semakin tinggi.

Tol atas laut Balikpapan-PPU

Sejak 16 Juli lalu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), telah mulai melakukan lelang Prakualifikasi Pengusahaan Jalan Tol Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU).

Rencananya jalur tol berupa jembatan itu akan membentang sampai 6.342 meter membelah kota Balikpapan dan kota Penajam di Kaltim. Tol ini disebut-sebut akan menjadi jembatan tol terpanjang di Indonesia dan mengalahkan Jembatan Suramadu (5.438 meter) yang menghubungkan Surabaya dengan Madura, Jawa Timur.

Kehadiran tol atas laut tersebut diharapkan mampu memangkas waktu tempuh para penduduk Balikpapan dan Penajam menjadi 15 menit. Selama ini, dengan jalur yang ada, para pelintas dari Penajam harus menempuh waktu hingga lima jam via jalur darat dan dua jam mengandalkan kapal kelotok maupun feri untuk menuju Balikpapan, begitu pula sebaliknya.

Untuk menggarap proyek ini, PT Waskita Toll Road berkongsi dengan pemerintah daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Anak usaha PT Waskita Karya Tbk (Persero) itu menggenggam 60 persen saham di badan usaha jalan tol PT Tol Teluk Balikpapan, sisanya dimiliki pemerintah daerah.

Nilai investasinya diperkirakan mencapai lebih dari Rp10 triliun. Namun proyek tersebut masih menghadapi kendala pembebasan lahan. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah pun membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pembebasan Lahan untuk Jalan Tol.

Dalam laporan Tribunnews, setelah tim ini terbentuk, maka akan dilanjutkan dengan sosialisasi kepada masyarakat pemilik lahan, kemudian dilakukan proses pengukuran dan pematokan dan pengambilan titik koordinat dan menuju pembuatan peta bidang dilanjut dengan proses apraisal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR