BENCANA ALAM

Duka warga Gane di Pulau Halmahera usai gempa Magnitudo 7,2

Sebuah bangunan ambruk akibat gempa berkekuatan Magnitudo 7,2 pada Minggu (14/7/2019) di Desa Gane Dalam, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Foto diambil pada Senin (15/7).
Sebuah bangunan ambruk akibat gempa berkekuatan Magnitudo 7,2 pada Minggu (14/7/2019) di Desa Gane Dalam, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Foto diambil pada Senin (15/7). | Safri /Antara Foto

Gempa bumi bermagnitudo 7,2 yang mengguncang Labuha, ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Minggu (14/7/2019) pukul 18.28 WIT, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat setempat.

Gempa yang berpusat di daratan Gane, Pulau Halmahera, itu menimbulkan korban jiwa dan merusak ratusan bangunan rumah warga serta pemerintah.

Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Utara dan Dinas Kesehatan Halmahera Selatan masih mendata jumlah korban meninggal akibat gempa. Untuk sementara sudah dua orang meninggal dunia.

Sementara dari hasil penelusuran Beritagar.id, Senin (15/7), ada satu korban jiwa di Desa Gane Dalam, Kecamatan Gane Barat Selatan. Korban meninggal tertimpa bangunan rumah saat hendak menyelamatkan kedua adiknya yang masih kecil.

Tia Mansur, warga Desa Gane Dalam, mengemukakan keponakannya yang meninggal itu bernama Aswar alias Falu (21). Sedangkan adik, keponakan lain, dan ibunya mengalami patah tulang serta luka-luka di bagian kepala.

Tia mengatakan rumah beton mereka yang runtuh itu ditempati tujuh orang dari tiga Kepala Keluarga. Selain di Desa Gana Dalam, lanjut Tia, puluhan rumah dan bangunan rusak parah dan roboh juga terdapat sejumlah desa di Kecamatan Gane Barat Selatan.

Antara lain di Desa Jibubu, Tawa, Yomen, Lemo-Lemo, Kurunga, Kamp (perumahan) PT GMM, dan Desa Gane Luar.

"Semua bangunan yang ada di wilayah ini mengalami kerusakan. Itu tadi pagi ada keluarga yang datang dari Gane Luar untuk sampaikan informasi," katanya.

Emang, warga Desa Yomen, mengisahkan hal serupa. Terdapat ratusan rumah di desanya runtuh dan rusak parah saat gempa mengguncang daratan Gane. Lelaki 28 tahun itu menceritakan, rumah beton orangtua yang ditempatinya pun roboh.

"Sebagian besar rumah-rumah dan bangunan di sini roboh," ucapnya.

Emang mengatakan akses untuk menuju ke lokasi terdampak gempa di daratan Gane memang sulit. Belum ada jalan aspal. Sementara jaringan telekomunikasi dan listrik PLN masih sulit diakses.

"Rata-rata warga di Gane yang mengungsi ke dataran tinggi belum dapat bantuan. Kami dari malam tahan lapar sampai pagi," ujar Emang.

Ia bersama warga di daerah terdampak gempa meminta bantuan dari pemerintah maupun pihak lainnya. "Karena sampai saat ini warga mau kembali ke desa tapi rumah sudah tidak ada," sambung Emang.

Gempa bertubi-tubi

Siaran pers Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Senin (15/7), menyebutkan sudah ada 61 gempa susulan yang menggoyang Kabupaten Halmahera Selatan sejak lindu M 7,2. Dari analisis episenter dan kedalaman hiposenter, BMKG menyebut ini adalah gempa dangkal akibat aktivitas pergeseran mendatar sesar Sorong (Papua) - Bacan (Halmahera).

Empat gempa beruntun yang menggoyang Halmahera Selatan, Minggu (14/7/2019).
Empat gempa beruntun yang menggoyang Halmahera Selatan, Minggu (14/7/2019). | BMKG

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan Maluku Utara masuk dalam wilayah seismik aktif dan kompleks sehingga sering mengalami gempa.

"Aktif artinya kawasan Halmahera Selatan memang sering terjadi gempa yang tecermin dari peta seismisitas regional dengan klaster aktivitas gempanya cukup padat," kata Daryono dilansir Antara (h/t CNNIndonesia.com).

Soal kompleksitas, ada Halmahera Thrust, sesar Sorong-Sula, sesar Sorong-Maluku, dan sesar Sorong-Bacan. Khusus tiga sesar yang disebut terakhir merupakan percabangan sesar Sorong yang melintas dari timur di atas "kepala burung" Papua Barat.

Sesar Sorong juga bercabang lagi di Pulau Batanta. Percabangan ini yang disebut menyimpan akumulasi medan tegangan kulit bumi sehingga memicu gempa M 7.2.

Sebelum ini, sesar Sorong-Bacan enam kali memicu gempa di kawasan Halmahera Selatan. Menurut Daryono adalah;

  • Gempa Pulau Raja pada 7 Oktober 1923 dengan magnitudo 7,4 dan intensitas VIII MMI (guncangan semi keras).
  • 16 April 1963 magnitudo 7,1 skala intensitas VIII MMI.
  • Gempa Pulau Damar pada 21 Januari 1985 magnitudo 6,9 intensitas VIII MMI.
  • Gempa Obi pada 8 Oktober 1994 magnitudo 6,8 intensitas VI-VII MMI.
  • Gempa Obi magnitudo 6,7 pada 13 Februari 1995 dengan intensitas VIII MMI.
  • Gempa Labuha 20 Februari 2007 magnitudo 6,7 intensitas VII MMI.

Pembaruan, pukul 13.35 WIB

Data terbaru BPBD Maluku Utara mencatat 1.104 warga mengungsi dan tiga lainnya meninggal. Sekretaris BPBD Provinsi Maluku Utara, Ali Yau, menyatakan lokasi pengungsian warga terdampak gempa saat ini tersebar di sembilan titik.

Lokasi tersebut belum termasuk warga yang mengungsi ke dataran tinggi daratan Gane Barat, Gane Timur, dan Bacan Timur di Kabupaten Halmahera Selatan. Ali menyatakan, personel Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) sudah bergerak menuju Saketa melalui jalur darat Sofifi, Tidore Kepulauan, untuk mengecek kondisi pascagempa di sana.

Sementara soal pendataan rumah warga, sejauh ini baru terkonfirmasi di daratan Gane dan Pulau Bacan sebanyak 100 unit rusak dan roboh. Adapun 90 persen kerusakan bangunan terdapat di Desa Ranga Ranga, Dolik, Matuting, Bisui, Pasipalele, Gane Luar, Gane Dalam, Yomen, dan Desa Jibubu.

Data akan terus diperbarui karena BPBD dan BNPB kesulitan mengonfirmasi karena warga langsung mengungsi saat terjadi gempa.

Catatan redaksi: Penulis skala gempa Skala Richter dihapus karena BMKG menggunakan satuan magnitudo.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR