INTERNASIONAL

Dunia kutuk pemboman di Sri Lanka yang tewaskan 290 orang

Polisi tengah memeriksa kerusakan dan korban di Gereja St. Sebastian, Negombo, Sri Lanka, Minggu (21/4/2019).
Polisi tengah memeriksa kerusakan dan korban di Gereja St. Sebastian, Negombo, Sri Lanka, Minggu (21/4/2019). | STR /EPA-EFE

Sejumlah bom meledak tepat pada saat perayaan Paskah di berbagai lokasi di Sri Lanka, Minggu (21/4/2019) pagi. Laporan sementara memperkirakan lebih dari 290 orang tewas. Dunia, termasuk pemerintah Indonesia, mengutuk keras aksi terorisme yang dilakukan pada hari suci umat Kristen tersebut.

Serangan bom tersebut merupakan insiden terbesar yang terjadi di Sri Lanka sejak perang saudara antara pemerintah dengan kelompok Macan Tamil--dari suku minoritas Tamil yang ingin memerdekakan diri--berakhir pada 2009.

Presiden RI, Joko "Jokowi" Widodo, melalui akun Twitter resminya, mengecam keras aksi pemboman di enam tempat yang terjadi sekitar pukul 08:45 waktu setempat tersebut. Ia juga menyampaikan duka cita kepada keluarga para korban.

Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) menyatakan hingga saat ini belum ada informasi adanya Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban pemboman tersebut. Menurut data Kemlu, saat ini ada sekitar 374 WNI yang tinggal di negara Asia Selatan tersebut, termasuk 120 orang yang berdiam di Ibu Kota Sri Lanka, Kolombo.

Pemerintah Indonesia menyatakan siap memberi bantuan yang diperlukan dan mengimbau agar WNI di negara tersebut selalu waspada serta mengikuti arahan otoritas keamanan setempat.

Kutukan serupa juga dilontarkan Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, yang negaranya baru saja mengalami aksi penembakan teroris terhadap jemaah dua masjid di Christchurch, saat salat Jumat bulan lalu. Sebanyak 50 orang tewas akibat tindak kekerasan itu.

"Selandia Baru mengutuk semua tindakan terorisme dan tekad kami semakin kuat akibat serangan di tanah air kami pada 15 Maret. Melihat serangan di gereja dan hotel-hotel di Sri Lanka menghancurkan hati kami," kata Ardern, dikutip 1-newsnow.

Paus Fransiskus, dalam pidato Urbi et Orbi di Vatican, menyebut serangan pada hari suci umat Kristen tersebut "kekerasan yang kejam".

"Saya serahkan kepada Tuhan semua yang secara tragis meninggal dunia dan saya berdoa untuk mereka yang cedera serta menderita akibat peristiwa tragis ini," kata Paus dalam pidato tersebut (h/tVatican News).

Bom di 8 titik

Pemboman tersebut terjadi di delapan titik pada dua periode waktu. Pagi hari bom meledak di tiga gereja di Distrik Negombo, Batticaloa, dan Kochchikade, serta tiga hotel di Kolombo, yaitu Shangri-La, Kingsbury, dan Cinnamon Grand. Pada sore hari serangan bom kembali terjadi di dua titik.

CNN memaparkan, bom pertama meledak tepat pukul 08:45 di St. Anthony's Shrine, Kochchikade, disusul di Restoran Table One Shangri-La, lalu dua hotel lainnya. Pada pukul 09.00 bom meledak di Gereja St. Sebastian, Negombo, dan Gereja Zion, Batticaloa.

Pada sore hari, kembali terjadi ledakan di sebuah hotel di depan Kebun Binatang Dehiwala. Lalu bom terakhir meledak di sebuah rumah di Mahawila Gardens, Dematagoda, Kolombo.

Bom di Mahiwala Gardens meledak saat polisi tengah memeriksa rumah tersebut terkait pemboman pagi hari. Akibatnya tiga polisi tewas seketika.

Pada Minggu malam, polisi menemukan sebuah bom lagi yang belum meledak dan diletakkan di kawasan Bandar Udara Bandaranaike, Kolombo.

Juru bicara Kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekera, kepada The New York Times (22/4) menyatakan 290 orang tewas dan 500 lainnya cedera, meski tak merinci korban di setiap tempat. Serangan itu disebut amat terkoordinasi untuk membunuh, memicu kekacauan dan anarki.

Kementerian Luar Negeri Sri Lanka mengumumkan setidaknya 11 korban tewas telah dipastikan adalah warga negara asing yang berasal dari India (3 orang), Portugal (1), Turki (2), Inggris Raya (3), dan dua orang pemegang paspor ganda Inggris dan Amerika Serikat.

Masih ada 25 jenazah yang belum teridentifikasi di kamar mayat Colombo Judicial Medical Officer, tetapi diperkirakan semua adalah warga negara asing. Selain itu ada sembilan warga asing yang dilaporkan hilang.

Siapa yang bertanggung jawab?

Hingga berita ini ditulis, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab terhadap aksi teror tersebut. Namun, polisi menyatakan setidaknya telah menahan 24 orang yang diduga terlibat. Tujuh di antara mereka ditangkap di Mahiwala Gardens.

Polisi menyatakan bahwa pemboman itu dilakukan oleh kelompok tertentu, tetapi belum mau menyebut nama kelompok tersebut.

Ada kabar bahwa 10 hari lalu seorang pejabat kepolisian telah memperingatkan adanya ancaman terhadap beberapa gereja dari kelompok yang menamakan diri Jemaah Tauhid Nasional. Namun tak jelas apa tindakan pihak keamanan terhadap ancaman tersebut.

Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, mengaku ia dan pejabat pemerintah lainnya tak diberi tahu mengenai adanya ancaman tersebut.

"Kami harus menyelidiki mengapa tidak ada tindakan pencegahan yang sesuai. Baik saya maupun para menteri tidak diinformasikan mengenai (ancaman) itu," kata Wickremesinghe, dikutip BBC. "Prioritas saat ini adalah menangkap para penyerang."

Saat ini pemerintah telah membatasi akses media sosial untuk mencegah penyebaran kabar hoaks terkait pemboman.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR