Dunia menyorot Ahok

Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama dalam sebuah momen kampanye, Kamis (16/11).
Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama dalam sebuah momen kampanye, Kamis (16/11). | Dita Alangkara /AP Photo

Ahok menjadi tersangka, dan nama Basuki Tjahaja Purnama mendunia.

Sebagaimana tersiar, Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Indonesia (Bareskrim Polri) menetapkan Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) itu tersangka pada 16 November dalam kasus dugaan penistaan agama.

Hari permakluman oleh kepolisian itu agaknya telah dinanti oleh media-media berpengaruh dunia. Terbukti, tidak lama setelah keputusan penetapan status dirilis, nama lulusan jurusan Teknik Geologi itu sontak menjadi kepala berita di media asing.

Laman The Guardian melansir warta berjudul "Jakarta's Christian governor to face blasphemy trial over Islam insult claim".

Dalam tubuh tulisannya, media asal Inggris itu menyatakan bahwa keputusan pihak kepolisian muncul karena "desakan golongan agama garis keras yang pada awal bulan menggelar unjuk rasa menuntut" penangkapan Ahok.

The Guardian menukil opini para pengamat yang meyakini bahwa demonstrasi massa didasari motif politik.

Ahok adalah Gubernur Jakarta pertama beragama Kristen dan berdarah Tionghoa. Ia dianggap sebagai "anomali" dalam jagat politik tanah air.

Harian itu mengutip Andreas Harsono dari Human Rights Watch.

"Saya sudah mempelajari lebih dari 200 kasus penistaan di Indonesia sejak berlaku pada masa Presiden Sukarno pada 1965. Dalam waktu lebih dari 50 tahun ini, saya rasa hanya satu kasus yang tersangkanya terbukti tidak bersalah," ujarnya. "Sepertinya Ahok takkan lolos. Dia mungkin sekali akan dijebloskan ke penjara".

Hukuman maksimal untuk perkara dimaksud adalah lima tahun bui.

Memakai judul bernada relatif berdekatan dengan The Guardian--mendampingkan kata Kristen dan Gubernur--harian yang berkantor pusat di Amerika Serikat, The Wall Street Journal, menyinggung posisi Presiden Joko "Jokowi" Widodo vis a vis Ahok.

Media tersebut menulis sejumlah aktivitas Jokowi mendatangi para ulama untuk memberikan jaminan bahwa proses hukum terhadap mantan wakilnya saat menjadi Gubernur Jakarta berjalan cepat dan transparan.

"Ini tentunya membuat (Joko) Widodo terlihat lemah, karena ia tak mampu atau ragu untuk membela seorang sekutu penting dari pelbagai serangan oleh kelompok sektarian," ujar Kevin O'Rourke, seorang analis politik, dikutip The Wall Street Journal.

Dalam lanjutan komentarnya, O'Rourke mengatakan bahwa jika Ahok tersingkir karena dugaan penistaan agama ini, Indonesia bakal disandingkan dengan negara-negara kurang demokratis.

"Hal tersebut berlawanan dengan citra yang selama ini coba ditembakkan (Joko) Widodo kepada para penanam modal," ujarnya.

Tidak jauh berbeda dari pemberitaan barusan, Reuters, dengan mengutip pendapat para analis, memandang bahwa penetapan status bagi Ahok itu adalah pukulan bagi demokrasi.

"Kaum minoritas akan terkena dampak ikutan yang buruk karena khalayak luas dapat mendikte proses hukum (yang bakal dijalani Ahok)," ujar Irine Gayatri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dikutip Reuters.

Media itu mengimbuhkan informasi mengenai laku seorang pengguna media sosial yang menyunting dan memberikan subtitle pada potongan video pidatonya di Kepulauan Seribu.

Sang penyunting, tulis Reuters, menghilangkan sebuah kata kunci dalam subtitle sehingga Ahok seolah-olah mengecam Al Quran, bukan pesaingnya.

Sementara, Time menyentuh ihwal Ahok sebagai "simbol toleransi" yang "telah lama menjadi target bulan-bulanan golongan Islam garis keras dan ultrakonservatif".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR