PEMANASAN GLOBAL

Ekonomi dunia terdampak pemanasan global

Ilustrasi beruang kutub, korban pemanasan global.
Ilustrasi beruang kutub, korban pemanasan global. | Alexey Seafarer /Shutterstock

Pemanasan global punya dampak terukur pada ekonomi dunia. Menguntungkan negara kaya dan yang semakin jauh dari garis khatulistiwa, merugikan negara miskin dan rentan karena suhu lebih panas. Seperti Indonesia yang menduduki peringkat empat terbawah. Begitu simpulan studi baru.

"Studi kami membuat perhitungan pertama tentang seberapa banyak masing-masing negara telah terkena dampak ekonomi akibat pemanasan global, terkait dengan kontribusi gas rumah kaca secara historis," kata ilmuwan iklim Noah Diffenbaugh, penulis utama studi dari Stanford University dalam rilis resmi.

Studi yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences ini didasarkan pada penelitian tahun 2015 oleh rekan penulis studi, Marshall Burke.

Burke menunjukkan hubungan kuat antara suhu dan produktivitas ekonomi, di mana negara dengan suhu rata-rata sekitar 13 derajat Celsius seperti Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat adalah yang paling produktif. Sementara negara yang semakin jauh dari skala suhu rata-rata, semakin kurang produktif.

Dalam studi baru, secara khusus peneliti menganalisis data suhu tahunan serta Produk Domestik bruto (PDB) di 165 negara dalam lima dekade terakhir, untuk mengetahui bagaimana efek fluktuasi suhu terhadap pertumbuhan ekonomi.

Peneliti juga melihat 20 model iklim berbeda untuk menentukan seberapa banyak masing-masing negara telah melakukan pemanasan, dan untuk menjelaskan ketidakpastian, mereka menghitung 20 ribu versi hasil ekonomi suatu negara jika perubahan iklim tidak terjadi.

Perkiraan menunjukkan kenaikan suhu memiliki efek jelas yang jauh dari pertumbuhan ekonomi ideal. Terutama di negara tropis yang suhunya merayap di atas 20 derajat, "Tiada keraguan mereka telah dirugikan," kata Burke.

Berdasarkan data studi baru tahun 1961-2010, suhu lebih hangat telah menurunkan kekayaan per orang di negara-negara termiskin dan paling rentan dunia sebesar 17-31 persen.

Sebaliknya, walau kurang jelas bagaimana pemanasan telah memengaruhi pertumbuhan di negara-negara terkaya dan bersuhu dingin, analisis mengungkapkan kenaikan suhu telah menguntungkan negara-negara itu dengan dampak ekonomi kurang dari 10 persen, dan sebagian besar negara kaya menjadi lebih kaya rata-rata 13 persen.

Alhasil, meski ketidaksetaraan ekonomi global tercatat telah menyusut sekitar 15 persen selama tahun 1975-2010, studi ini justru menggambarkan kesenjangan antara kelompok negara sekitar 25 persen lebih besar dibandingkan jika di dunia tidak terjadi pemanasan global.

Ketidakseimbangan itu diperparah temuan peneliti bahwa negara-negara yang menderita dampak ekonomi terburuk sebetulnya mengeluarkan karbon dioksida paling sedikit, dan negara-negara terkaya paling berkontribusi menyebabkan pemanasan global.

Dari 19 negara kaya dengan total emisi CO2 tertinggi sejak tahun 1961-2010, 14 negara tercatat memperoleh manfaat ekonomi.

AS, Tiongkok dan Jepang, adalah tiga ekonomi terbesar dunia sekaligus penyumbang emisi melebihi 300 ton, meski PDB per kapita rata-rata lebih rendah 0,9 persen dibanding tidak terjadi pemanasan global.

Lima posisi teratas lain ditempati Norwegia dengan peningkatan PDB per kapita sebesar 34 persen, Kanada (+32 persen), Swedia (+25 persen), Britania Raya (+9,5 persen), dan Perancis (+4,8 persen).

Sementara, 18 negara dengan emisi CO2 terendah yang total kurang dari 10 ton per orang, mengalami keterpurukan ekonomi lebih dari 25 persen dari tanpa pemanasan global.

Di jajaran terbawah, PDB per kapita Sudan 36 persen lebih rendah. Disusul India (-31 persen), Nigeria (-29 persen), Indonesia di peringkat keempat (-27 persen), dan Brasil (-25 persen).

Bila menilik emisi CO2 di Indonesia tahun 2017, jumlahnya memang hanya sekitar 1,844 ton per orang—dibagi berdasarkan populasi 264 juta jiwa dalam studi—dari sebanyak 487 juta ton yang dihasilkan, atau menyumbang 1,34 persen dari total 36.153 juta ton emisi CO2 dunia.

Para ekonom, pakar lingkungan, dan pembangunan telah memperingatkan kenaikan suhu global sekitar 1 derajat Celsius saja berpotensi merugikan negara-negara miskin dan rentan jauh melebihi negara kaya. Paling besar, menimpa produktivitas tenaga kerja dan hasil pertanian.

Di Costa Rica, yang menurut studi mengalami PDB 21 persen lebih rendah, dilaporkan CNN betul-betul memperlihatkan hasil kopi lebih rendah dan lebih banyak penyakit tanaman karena peningkatan suhu.

Namun, tren penurunan agak berbeda di Indonesia. Sebagian sektor pertanian kita membaik. Pun, walau memang ada penurunan produksi hasil pertanian (padi, buah, sayur) di satu wilayah, itu masih bisa terisi dari peningkatan di wilayah lain.

Terlepas dari itu, Solomon Hsiang, ekonom dari Universitas California, Berkeley, menyebut studi ini tidak mengidentifikasi dampak dan alasan yang mendasari hubungan langsung, sehingga keuntungan di negara dingin bersifat sementara—perkiraannya sekitar lima tahun ke depan.

Lebih penting, “Penelitian itu seharusnya menyatakan pemanasan telah merusak peluang ekonomi di negara-negara miskin dan rentan,” tutupnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR