PERTUMBUHAN EKONOMI

Ekonomi Indonesia diprediksi tetap tumbuh meski dunia melambat

Deretan permukiman penduduk dan gedung bertingkat yang terlihat dari kawasan Tanah Abang, Jakarta, Jumat (8/2/2019).
Deretan permukiman penduduk dan gedung bertingkat yang terlihat dari kawasan Tanah Abang, Jakarta, Jumat (8/2/2019). | Aprillio Akbar /Antara Foto

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi masih tahan terhadap guncangan, meski sejumlah lembaga keuangan memprediksi perlambatan ekonomi dunia akan terjadi tahun ini.

Yang terbaru, dalam laporan Global Economics Prospects: Hightened Tensions, Subdued Investment, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi 2,6 persen, lebih rendah dari prediksi semula 2,9 persen.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, maka akan menjadi angka terlemah dalam satu dekade terakhir atau sejak krisis keuangan global.

Risiko ekonomi di sejumlah negara berkembang diprediksi meningkat seiring dengan peningkatan hambatan dagang, perlambatan investasi, dan melemahnya ekonomi negara-negara maju.

"Pertumbuhan ekonomi yang kuat dibutuhkan untuk mengurangi angka kemiskinan dan peningkatan standar kualitas hidup," ujar Presiden Bank Dunia, David Malpass, dalam keterangan resmi dikutip Kamis (6/6/2019).

Untuk pertumbuhan ekonomi RI, Bank Dunia belum mengubah proyeksinya. Diperkirakan angkanya stabil di kisaran 5,2 persen.

"Di Indonesia, pertumbuhan selama ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kuat dan investasi dari berbagai proyek infrastruktur," tulis laporan tersebut.

Padahal, secara umum Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang (EMDE) hingga 0,3 persen, dari 4,3 persen menjadi hanya 4 persen. Kontribusi negatif terutama datang dari Turki, dengan revisi proyeksi hingga 2,6 persen menjadi minus 1 persen.

Meski Bank Dunia tidak mengubah prediksinya untuk Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan bahwa revisi itu tentu akan berdampak kepada Indonesia walaupun tidak secara langsung. Sebab, lanjut Darmin, pertumbuhan ekonomi global erat kaitannya dengan perekonomian Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

Dampak yang tidak langsung tersebut, contohnya adalah perdagangan dunia. Dua negara di atas adalah tujuan utama ekspor Indonesia sehingga jika mereka terus bersitegang tentu akan memengaruhi kiriman komoditas dari Indonesia.

Kekhawatiran ini juga diutarakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu khawatir perlambatan ekonomi dunia membuat kinerja ekspor Indonesia akan kian memburuk.

Kinerja ekspor bisa kian tertekan karena Indonesia selama ini mengandalkan ekspor komoditas mentah. "Bahkan, Indonesia sebenarnya sudah terlihat tanda-tanda (penurunan) ekspornya. Misalnya, pada 2017 akhir kami mengalami momentum positif yang sangat tinggi sampai 2018. Kemudian, mulai kuartal IV 2018 hingga kuartal I 2019, mulai menurun lagi," ucapnya dalam CNNIndonesia.com.

Namun ia memandang ini sudah menjadi momentum bagi Indonesia untuk melihat indikator lain yang sekiranya lebih bisa diandalkan untuk menopang perekonomian, misalnya investasi.

Investasi akan menjadi tumpuan dan harus fokus ditingkatkan karena Indonesia tengah memiliki momentum pendorong investasi. Salah satunya, kenaikan drastis peringkat daya saing Indonesia dari posisi 48 pada 2018 menjadi 32 pada 2019 keluaran IMD World Competitiveness Yearbook 2019.

Capaian tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan peningkatan peringkat tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Pencapaian tersebut disusul oleh kenaikan rating kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P). Peringkat Indonesia melonjak ke tingkat BBB dengan outlook stabil. Ini menunjukkan adanya perbaikan risiko surat utang Indonesia.

Lembaga pemeringkat lain; yaitu Fitch, Moody's, serta JCR dan R&I (dua terakhir lembaga Jepang), sudah jauh lebih dulu, bahkan sejak tahun lalu, menaruh status setara BBB tersebut untuk Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR