HARI KEMERDEKAAN

Eks-tersangka korupsi di antara penerima bintang kehormatan

Presiden Joko Widodo (kanan) menyematkan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama kepada Ketua BPK periode 2009-2014 Hadi Poernomo (ketiga kiri) di Istana Negara Jakarta, Kamis (15/8/2019).
Presiden Joko Widodo (kanan) menyematkan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama kepada Ketua BPK periode 2009-2014 Hadi Poernomo (ketiga kiri) di Istana Negara Jakarta, Kamis (15/8/2019). | Wahyu Putro A /AntaraFoto

Presiden Joko “Jokowi” Widodo menganugerahkan 29 bintang kehormatan kepada para tokoh bangsa yang berjasa di bidangnya, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Ada enam kategori penghargaan dalam seremonial penyerahan yang turut disaksikan jajaran Kabinet Kerja.

Berurutan dari yang tertinggi yakni Bintang Mahaputera Utama, Bintang Mahaputera Naraya, Bintang Jasa Utama, Bintang Jasa Pratama, Bintang Jasa Naraya, dan Bintang Budaya Parama Dharma.

Latar belakang profesi penerima beragam, dengan dominasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Mahkamah Agung (MA), disusul mantan Hakim Konstitusi, mantan Wakil Jaksa Agung, dosen, pengusaha, akademisi, dan seterusnya.

Di antara para tokoh penerima bintang kehormatan, terselip nama Hadi Poernomo, mantan Direktorat Jenderal Pajak yang pernah menyandang predikat sebagai tersangka kasus suap di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hadi dianugerahkan Bintang Mahaputera Utama, penghargaan sipil tertinggi yang dikeluarkan dan diberikan sesudah Bintang Republik Indonesia kepada anggota korps militer pun bagi mereka yang berjasa secara luar biasa di bidang nonmiliter.

“Tentu (akan tetap) berkarya ya. Kita akan tetap berjuang bagaimana memberantas korupsi dengan sistemik,” ujar Hadi, perihal kesannya menerima bintang kehormatan.

Ditanya soal kasus hukumnya, Hadi berkilah bahwa dirinya sudah lepas dari status tersangka sejak dua tahun silam. “Sudah selesai. Perhitungan kerugian negaranya sudah dibatalkan TUN,” kata Hadi.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengaku nama-nama yang menerima bintang kehormatan sudah diseleksi. Lagipula, seluruh nama itu tidak sepenuhnya datang dari dia, selaku Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Sebagian lainnya datang dari berbagai pihak, termasuk Menteri Sosial. Di luar dari seleksi nama, Ryamizard memastikan seluruh tokoh sudah memenuhi persyaratan utam: telah melaksanakan tugas selama lebih dari tiga tahun.

Soal Hadi Poernomo, Ryamizard menekankan bahwa status hukum yang membelit Ketua BPK periode 2009-2014 tersebut sudah selesai. Jikalau pada kemudian hari terjadi kekeliuran, Ryamizard mengaku tidak segan untuk menganulirnya.

Kan sudah dua kali menang? Di MA lagi,” kata Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Wakil Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Negara, Jimly Asshiddiqie mengklaim penyeleksian nama-nama yang menerima bintang kehormatan hari ini berlangsung dengan sangat ketat.

“Maka misalnya ada bintang Mahaputera Adhipradana, sekarang turun paling tinggi tadi Bintang Mahaputera Utama,” kata Jimly.

Kasus Hadi, sambung Jimly, sudah beres lantaran memiliki ketetapan final dari MA. Sehingga, saat diserahkan bintang kehormatan hari ini, Hadi tak lagi memiliki kasus hukum yang membelitnya.

Nah, dewan harus memperlakukan sama. Misalnya mantan ketua lembaga negara, sama-sama mantan ketua ya kita harus perlakukan sama. Kalau dia tidak ada masalah hukum, maka kita berikan penghargaan,” jelas Jimly.

Dari pengakuan Jimly, nama Hadi masuk dalam daftar penerima bintang kehormatan berdasarkan rekomendasi dari BPK langsung.

“Kalau misal pada suatu hari ternyata ada lagi masalah hukum, tentu tidak sulit untuk dievaluasi ulang dan bisa dicabut. Tidak ada masalah,” tuturnya.

Selain Hadi, berikut nama-nama penerima bintang kehormatan:

Bintang Mahaputera Utama
1. Harifin Andi Tumpa (Ketua MA periode 2009-2012)
2. Prof Moermahadi Soerja Djanegara (Ketua BPK periode 2017-sekarang)
3. Hadi Poernomo (Ketua BPK periode 2009-2014)
4. Prof Harry Azhar Azis (Ketua BPK periode 2014-2017)

Bintang Mahaputera Naraya
1. Arifin Panigoro (Pendiri dan penasihat PT. Medco Internasional Tbk)
2. Sofjan Wanandi (Ketua tim ahli Wakil Presiden)
3. Alm Tengku Nasaruddin Said Effendy (Akademisi dan budayawan)
4. Almh Siti Maryam Muhammad Salahuddin (Ilmuwan kebudayaan daerah/kebudayaan Bima)

Bintang Jasa Utama
1. Abdul Kadir Mappong (Wakil Ketua MA bidang Yudisial periode 2009-2013)
2. Ahmad Kamil (Wakil Ketua MA bidang non-Yudisial periode 2009-2012)
3. Prof Mohammad Saleh (Wakil Ketua MA bidang Yudisial periode 2013-2016)
4. Suwardi (Wakil Ketua MA bidang non-Yudisial periode 2014-2017)
5. Alm Syamsuhadi Irsyad (Wakil Ketua MA bidang non-Yudisial periode 2004-2007)
6. Prof Maria Farida (Hakim Konstitusi periode 2013-2018)
7. Achsanul Qosasi (Anggota III BPK periode 2017-2019)
8. Isna Yatun (Anggota V BPK periode 2017-sekarang)
9. Darmono (Wakil Jaksa Agung periode 2009-2013)
10. Djaman Andhi Nirwanto (Wakil Jaksa Agung periode 2013-2016)
11. Soedarmo (Dirjen Polpum Kemendagri)
12. Ronny Franky Sompie (Dirjen Imigrasi Kemenkumham)
13. Prajogo Pangestu (Presiden Komisaris PT. Barito Pacific Tbk)
14. Theodore Permadi Rachmat (Wakil Presiden Komisaris PT. Adaro Energy Tbk)
15. Alm Prof Eddy Mulyadi Soepardi (Anggota VII BPK periode 2014-2019)

Bintang Jasa Pratama
1. Ardan Adiperdana (Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan periode 2015-sekarang)
2. Syarif Fasha (Wali Kota Jambi periode 2013-2018 dan 2018-2023)

Bintang Jasa Naraya
1. Nur Rochmad (Jaksa Agung Muda Pidana Umum periode 2015-2019)

Bintang Budaya Parama Dharma
1. Alm Moehammad Sjafei (Guru dan pendiri INS Kayutanam Prov Sumatera Barat)
2. Alm Karaeng Pattingalloang (Perdana Menteri Gowa dan Raja Tallo)
3. Almh Prof Siti Baroroh Barried (Dosen fisiologi)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR