KETAHANAN PANGAN

El Nino berpotensi mengganggu stok pangan

Petani panen jagung jenis hibrida di Desa Penaguan, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (24/2/2019).
Petani panen jagung jenis hibrida di Desa Penaguan, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (24/2/2019). | Saiful Bahri /Antara Foto

Tahun ini, kinerja sektor pangan memiliki pekerjaan rumah besar. Belum lagi rampung persoalan data pangan, pemangku kepentingan terkait kembali dihadapkan pada anomali cuaca yang bisa mengganggu ketersediaan pangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan pemerintah untuk mewaspadai potensi terjadinya El Nino tahun 2019. El Nino ini akan berdampak signifikan pada produksi pangan seperti halnya terjadi pada tahun 2015.

El Nino merupakan siklus alami Bumi yang berkaitan dengan kenaikan suhu permukaan laut melebihi nilai rata-rata di Samudra Pasifik sekitar ekuator. Hal ini biasanya menyertai hawa panas yang kita rasakan.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, menyebut pengaruh El Nino ini membuat musim kemarau datang lebih awal pada tahun ini yakni bulan April. Secara umum puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus-September 2019.

"Pemerintah perlu mewaspadainya dengan mengantisipasi terjadinya kekeringan dan kegagalan panen pada tanaman pertanian," ujar Herizal dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (14/3/2019).

Beberapa wilayah akan mengalami musim kemarau lebih awal, yaitu sebagian wilayah NTT, NTB, Jawa Timur bagian timur, Jawa Tengah, Jawa Barat bagian tengah dan selatan, sebagian Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, dan Riau, juga Kalimantan Timur dan Selatan. Herizal meminta masyarakat di daerah itu untuk waspada terhadap kekeringan.

Kewaspadaan dan antisipasi dini juga diperlukan untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya yaitu di wilayah NTT, NTB, Bali, Jawa bagian Selatan dan Utara, Sebagian Sumatera, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Merauke.

Kendati demikian, Herizal menyatakan El Nino tahun ini tidak akan separah pada 2015. Ia menuturkan, peluang terjadinya El Nino tahun ini sebesar 55 persen hingga 60 persen, sementara 25,5 persen wilayah berpotensi musim keringnya maju, 24 persen wilayah keringnya di atas normal.

"Kondisi El Nino lemah diprediksi bertahan hingga Juni-Juli 2019 dan berpeluang melemah hanya 50 persen setelah pertengahan tahun," ujarnya.

Selain El Nino, tidak terdapat indikasi kejadian anomali iklim Samudra Hindia atau IOD (Indian Ocean Dipole). IOD adalah fenomena alam serupa dengan El-Nino tapi berlokasi di Samudra Hindia.

Menurut prediksi BMKG, status IOD tetap netral hingga pertengahan tahun 2019. Aktifnya El Nino lemah ini diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap Sirkulasi Monsun.

Informasi mengenai prediksi pola hujan sangat penting bagi petani. Melalui informasi yang akurat, petani dapat merencanakan penanaman dengan lebih baik dan mencegah gagal panen akibat perubahan iklim.

Sekjen Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI), Hindarwati, menjelaskan bahwa salah satu upaya untuk mengantisipasi dampak El Nino adalah dengan menanam varietas tanaman yang adaptif terhadap kekeringan.

"Istilah tepatnya itu toleran terhadap kekeringan,"ucap Hindarwati.

Ia bilang, peran pemulia tanaman dan perusahaan perbenihan sangat penting untuk memberikan akses terhadap benih unggul yang adaptif di musim kering kepada petani.

Meskipun tak meyakini akan terjadinya El Nino pada tahun ini, Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Kementerian Pertanian, Harris Syahbuddin mengatakan pemerintah telah mempersiapkan segala kemungkinan dalam menghadapi fenomena alam yang menyebabkan berkurangnya curah hujan tersebut.

Harris mengatakan, untuk memprediksi ringan atau beratnya El Nino pada saat ini masih terlalu dini. Apalagi beberapa kabupaten dan provinsi memiliki iklim yang berbeda sehingga dibutuhkan lebih banyak stasiun pengamatan cuaca.

Kendati begitu Kementerian Pertanian telah mempersiapkan prasarana untuk menghadapi El Nino. Dua kementerian, yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi digandeng untuk membangun prasarana pertanian seluas 2 juta hektare.

"Prasarana pertanian seluas 2 juta hektare itu meliputi jaringan irigasi, embung, dan bendungan sesuai amanat presiden yang tertuang dalam Inpres No. 1 Tahun 2018," ujar Harris dilansir dari Tempo.co.

Persiapan lain adalah bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk melakukan rekayasa cuaca apabila terjadi kondisi kemarau ekstrem. Selain itu, sosialisasi untuk pembangunan rumah kaca agar pengembangan pertanian tidak lagi mengenal musim.

Upaya lain lagi adalah menggunakan cara tanam tumpang sari dengan menanam jagung dan kedelai selain menanam padi yang teknologinya sudah disiapkan untuk satu juta hektare lahan pertanian.

Waspada karhutla

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga mewaspadai El Nino karena fenomena alam tersebut berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar, dalam Kompas.com, mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan karhutla, salah satunya dengan menempatkan helikopter di daerah-daerah rawan. Helikopter tersebut siap membantu kerja tim pemadam kebakaran, atau ikut memadamkan api.

Upaya lainnya adalah penetapan siaga darurat lebih cepat dan mengontrol hotspot (titik api).

Siti mengatakan kesiapsiagaan pencegahan dan penanganan di lapangan dilakukan melalui patroli terpadu di sejumlah provinsi yang rawan karhutla, di antaranya di Provinsi Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Untuk menanggulangi karhutla, sejumlah kementerian dan lembaga segera menyosialisasikan teknik pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) secara nasional.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR