PERUBAHAN IKLIM

El Nino dan hujan yang terlambat

Warga melintasi jalan lama penghubung Kecamatan Eromoko dengan Baturetno, di area Waduk Gajah Mungkur yang susut akibat kemarau di Wonogiri, Jawa Tengah, Selasa (4/9/2018). El Nino membuat hujan terlambat tiba.
Warga melintasi jalan lama penghubung Kecamatan Eromoko dengan Baturetno, di area Waduk Gajah Mungkur yang susut akibat kemarau di Wonogiri, Jawa Tengah, Selasa (4/9/2018). El Nino membuat hujan terlambat tiba. | Mohammad Ayudha /Antara Foto

Walau bulan November sudah tiba, tapi hujan tak mengguyur wilayah Jakarta. Saat Guns N Roses, band rock asal Amerika Serikat mengelar konser di Gelora Bung Karno, November lalu tak ada hujan yang mengiringi kala lagu 'November Rain' dimainkan. November yang biasanya basah, kali ini cuaca masih gerah karena hujan terlambat tiba.

Tahun ini, musim hujan memang datang terlambat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, Indonesia bakal mengalami El Nino skala lemah-sedang pada akhir September hingga awal Oktober 2018.

El Nino adalah kondisi memanasnya suhu air laut di Samudra Pasifik hingga di atas rata-rata suhu normal. Naiknya suhu ini, mengakibatkan terjadinya fenomena alam seperti kekeringan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo menyatakan, El Nino lemah ditandai naiknya suhu muka laut di wilayah Pasifik bagian tengah atau dikenal dengan sebutan indeks ENSO (El Nino Southern Oscillation) positif.

Dampaknya, peralihan sirkulasi angin Timuran menjadi angin Baratan yang sedikit terlambat. "Akibatnya, ada tendensi datangnya awal musim hujan agak terlambat," kata dia seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Data dari Golden Gates Weather (ggweather), tercatat sejak tahun 2002 El Nino telah 4 kali terjadi. Yaitu pada tahun 2004 (Lemah), 2006 (Lemah ), 2009 (Sedang), dan 2015 (Kuat).

Buat Indonesia, El Nino akan berdampak dengan susutnya curah hujan. Pada beberapa kasus dapat menyebabkan kekeringan. Sepanjang 2002-2017, laporan yang masuk menyebutkan ada 263 daerah mengalami kekeringan.

Dari data rerata curah hujan di Indonesia terlihat bahwa terjadi penurunan rerata curah hujan di tahun kejadian El Nino. Selama rentang 15 tahun ini, Indonesia mengalami El Nino sebanyak empat kali. Pada 2004, 2006, 2009, dan 2015.

Rerata curah hujan  dan jumlah kejadian kekeringan seiring El Nino.
Rerata curah hujan dan jumlah kejadian kekeringan seiring El Nino. | Lokadata /Beritagar.id

Walau El Nino identik dengan cuaca kering, tapi jumlah kekeringan dan kekuatan El Nino belum tentu selaras. Pada laporan kejadian bencana kekeringan yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jumlah daerah yang mengalami kekeringan dari tahun 2002 tidak sebanding dengan kekuatan El Nino.

Pada tahun 2004 daerah yang melaporkan terjadi bencana kekeringan sama besarnya dengan tahun sebelumnya, sedangkan pada tahun 2006 justru daerah yang mengalami kekeringan mencapai 183 laporan, lebih rendah dari tahun 2005 sebanyak 221 laporan.

Demikian pula tiga tahun lalu, saat El Nino sedang berada di skala kuat. Rerata curah hujan sedang kecil-kecilnya tapi daerah yang dilaporkan kering hanya 7 daerah. Wilayah Sumatera dan Kalimantan tak ada laporan kekeringan. Tapi tahun itu adalah tahun hutan dan lahan di Indonesia terbakar luas.

BNPB memperkirakan, wilayah yang terbakar luasnya mencapai 2.089.911 hektare, atau seluas 32 kali luas Jakarta. Korban diperkirakan lebih dari 100 ribu orang, tak hanya di Indonesia tapi juga negara sekitar yang kena asap. Kerugian ditaksir mencapai Rp220 triliun.

Kejadian kekeringan di Indonesia yang dilaporkan selama El Nino.
Kejadian kekeringan di Indonesia yang dilaporkan selama El Nino. | Lokadata /Beritagar.id

Nah, El Nino diperkirakan akan datang lagi. Menurut World Meteorological Organization (WMO) alias Organisasi Meterorologi Dunia, Februari tahun depan berpeluang terjadi El Nino sebesar 75-80 persen.

Umumnya, kondisi ini disertai masalah pertanian. Misalnya, musim tanam yang mundur. Atau kekeringan yang menyuburkan kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi ini sudah diantisipasi oleh petani. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, musim hujan yang telat bakal berdampak pada mundurnya musim tanam.

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, menyatakan sebagian besar lahan pertanian di berbagai daerah di Kabupaten Indramayu masih menunggu musim hujan untuk memulai musim tanam rendeng. "Ya kalau musim hujannya mundur, maka musim tanam rendeng 2018/2019 juga akan mundur, '' ujar Sutatang kepada Republika.co.id, Selasa (16/10/2018).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) jauh-jauh hari sudah mengantisipasi kebakaran hutan ini. Brigade Manggala Agni KLHK bekerjasama dengan Tim Terpadu Penanggulangan Kebakaran Hutan Dan Lahan (Karhutla) terus memastikan kejadian karhutla bisa ditanggulangi dengan segera.

“Manggala Agni akan terus melakukan patroli terpadu sebagai upaya antisipasi karhutla dan akan tetap siaga menghadapi setiap potensi karhutla terutama pada musim kering di beberapa daerah rawan,” kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Rafles B. Panjaitan, seperti diungkapkan dalam siaran persnya, Jumat (14/9/2018).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR