MITIGASI BENCANA

Enam arahan mitigasi dan penanganan bencana

Tim SAR bersama warga mengurai tali untuk jalur evakuasi di kelurahan Bailang, Manado, Sulawesi Utara, Jumat (1/2/2019).
Tim SAR bersama warga mengurai tali untuk jalur evakuasi di kelurahan Bailang, Manado, Sulawesi Utara, Jumat (1/2/2019). | Adwir B Pramono /AntaraFoto

Pemerintah sepakat memperkuat rancangan serta koordinasi terkait mitigasi kebencanaan.

Dalam hal pencegahan dan penanggulangan bencana, Presiden Joko “Jokowi” Widodo meminta penguatan itu dilakukan dari hulu ke hilir, dengan menitikberatkan pada edukasi masyarakat dan kesiagaan pemerintah daerah.

Dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana BNPB bersama BPBD seluruh Indonesia di JX International Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/2/2019), Jokowi menyampaikan enam poin penting yang mencakup misi besar mitigasi kebencanaan.

Pertama, berkenaan dengan perencanaan rancangan pembangunan di daerah yang harus berdasarkan penghitungan risiko kebencanaan. Hal ini tentu saja merujuk pada posisi Indonesia yang berada di dalam garis cincin api dunia.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) diminta untuk mengambil langkah responsif dalam hal pembangunan di zona-zona merah (rawan bencana).

Ke depan, rancangan tata ruang di seluruh wilayah Indonesia harus memiliki ketegasan dalam pengaturan zonasi daerah rawan bencana demi aspek pengurangan dampak bencana.

“Karena bencana selalu berulang. Tempatnya di situ-situ saja. Ada siklusnya, sehingga kalau ada ruang-ruang yang memang sudah merah dan berbahaya, ya jangan diperbolehkan untuk mendirikan bangunan,” kata Jokowi, dari rilis resmi Biro Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Bukan hanya kepada Bappeda dan otoritas terkait, masyarakat turut diimbau untuk patuh dan taat terhadap rencana tata ruang yang dibuat dengan acuan batas-batas aman maupun memiliki risiko tinggi terhadap bencana.

“Bappeda harus mulai merancang, rakyat diajak untuk membangun bangunan yang tahan gempa, kalau memang daerah itu rawan gempa,” tegas Jokowi.

Kedua, Jokowi meminta keterlibatan akademisi dan pakar-pakar kebencanaan untuk meneliti, mengkaji, dan menganalisis potensi bencana. Hal ini harus dilakukan secara masif dan secepatnya, sehingga dapat segera memprediksi ancaman yang mungkin terjadi.

“Misalnya akan ada megathrust (gempa dengan kekuatan sangat besar), kita tahu akan adanya pergeseran lempengan misalnya. Itu kalau sudah pakar-pakar berbicara, ya disosialisasikan kepada masyarakat, bisa lewat pemuka agama atau pemda,” sambung Jokowi.

Terkait dengan keterlibatan pakar, BNPB pada Kamis (31/1/2019), resmi mengumumkan pembentukan tim intelijen kebencanaan. Tim dipimpin langsung oleh Deputi 1 Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Bernadus Wisnu Widjaja dengan sekretarisnya Sutopo Purwo Nugroho.

Pakarnya terdiri dari Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Mahsyur Irsyam untuk bidang geologi, Agus Budianto dari PVMBG untuk bidang kajian tanah dan gunung, dan pakar iklim dan cuaca ITB Armi Susandi untuk bidang hidrometeorologi.

Ada juga Ketua Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas Indonesia Jatna Supriatna untuk bidang teknologi dan lingkungan, dan Peneliti LIPI Deny Hidayati untuk bidang industri dan ekonomi.

Ketiga, pemerintah daerah diminta untuk siaga dalam menghadapi bencana di wilayah otoritas mereka. Gubernur harus segera bertindak sebagai komandan satuan tugas darurat untuk melakukan penanganan bencana. Pangdam dan Kapolda akan membantu kerja komandan satgas darurat itu.

“Jangan sedikit-sedikit naik ke pusat. Ini kita harus tahu semua,” tegas Jokowi.

Keempat, terkait dengan perawatan sistem peringatan dini bencana yang terpadu. Tim intelijensi BNPB bakal langsung membuat analisis terkait titik-titik rawan bencana yang membutuhkan kehadiran sistem peringatan tersebut.

Kerja para tim ini juga harus dikoordinasikan bersama kementerian dan lembaga terkait agar sistem peringatan dini segera terwujud.

Kelima, segera dilakukan edukasi kebencanaan, terutama di daerah rawan bencana. Jokowi tidak secara spesifik mengatakan edukasi ini akan masuk dalam kurikulum pendidikan formal, namun, praktiknya bisa dilakukan di tingkat masyarakat, sekolah, maupun melalui pemuka agama.

Sistem edukasi meliputi petunjuk peringatan hingga rute-rute evakuasi. “Jangan kalau ada bencana, ada yang lari ke timur, barat, dan utara. Harus jelas rute evakuasi itu menuju ke mana. Segera ini dikerjakan,” tutur Jokowi.

Keenam, penting juga dilakukan latihan dan simulasi penyelamatan diri dan penanganan secara berkala. Dengan latihan berulang itu, masyarakat diharapkan dapat bertindak tertib dan cepat dalam keadaan darurat.

Simulasi harus dilakukan secara berkesinambungan, bukan hanya untuk masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, bekerja gedung-gedung tinggi, maupun di wilayah yang paling minim bencana sekalipun.

“Saya melihat video, di Jepang misalnya, masyarakat baru makan kemudian ada gempa. Tetap makan, tidak panik. Tapi, begitu tanda sirene berbunyi, baru lari tetapi rutenya juga jelas. Hal-hal seperti ini yang harus kita mulai kerjakan,” tukasnya.

Untuk diketahui, BNPB memprediksi sekitar 2.500 bencana bakal terjadi di berbagai penjuru Tanah Air pada 2019. Bencana hidrometeorologi seperti puting beliung, banjir, dan longsor masih akan mendominasi.

Sepanjang Januari 2019 saja, sudah terjadi 366 bencana alam, meningkat sekitar 50 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berjumlah 234 kejadian.

Jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana alam sepanjang waktu itu mencapai 94 jiwa, naik 308 persen dibanding Januari 2018 dengan 23 jiwa. Begitu juga dengan korban luka-luka, yakni 149 berbanding 52 orang untuk perbandingan periode waktu yang sama.

Dari ratusan bencana sepanjang Januari 2019, tanah longsor dan banjir di Sulawesi Selatan adalah kejadian yang menelan korban jiwa dan kerugian terbanyak.

Laporan BNPB per Kamis (31/1/2019), jumlah korban tewas telah mencapai 79 jiwa, 1 orang hilang, dan 48 lainnya luka-luka. Sementara, warga terdampak dan mengungsi sebanyak 5.506 jiwa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR