Erupsi Gunung Sinabung belum akan berhenti

Seorang ibu dan dua anak lelaki memerhatikan letusan Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, Rabu (2/8) pagi.
Seorang ibu dan dua anak lelaki memerhatikan letusan Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, Rabu (2/8) pagi. | Maz Yons /Antara Foto

Sempat relatif tenang pasca erupsi Februari 2017, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo (Sumatera Utara) kembali meletus pada Rabu (2/8/2017) pagi WIB. Erupsi disertai guguran awan panas berlangsung hingga siang hari.

Badan Geologi Kementerian ESDM dalam siaran persnya menjelaskan bahwa erupsi terjadi sejak pukul 09.36 WIB. Tinggi kolom letusan mencapai 3.000 meter dari atas puncak dan condong ke arah selatan.

Sementara awan panas (APG) terjadi hingga 16 kali. Jarak luncurnya mencapai 4.500 m ke arah tenggara timur dengan durasi maksimal 707 detik.

Meski demikian dampak APG itu masih berada di dalam daerah rekomendasi Badan Geologi Kementerian ESDM. Artinya kawasan itu kosong semenjak Level IV (AWAS) ditetapkan pada gunung setinggi 2.460 meter ini pada 2 Juni 2015.

Dengan status itu, masyarakat atau wisatawan dilarang berada dalam 3 km dari puncak. Bahkan di sektor selatan-tenggara 7 km, tenggara-timur 6 km, dan utara-timur 4 km.

"Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap potensi bahaya lahar," demikian rilis itu.

Hingga Kamis pagi ini (3/8), tak ada laporan korban jiwa. Namun menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ribuan penduduk tersiram hujan abu vulkanik.

Hujan abu menyebar di Desa Perbaji, Sukatendel, Temberun, Perteguhen, Kuta Rakyat, Simpang Empat, Tiga Pancur, Selandi, Payung, dan Kuta Gugung. Masyarakat memerlukan masker dan air untuk membersihkan lingkungan.

Sementara BPBD Karo bersama jajaran berwenang lain turun membantu kebutuhan masyarakat. Mereka juga bekerja sama dengan para kepala desa untuk mengimbau masyarakat menjauhi zona merah yang sudah ditetapkan.

BPBD Karo pun tak mau kecolongan lagi seperti pada 26 Juli lalu (h/t Viva) ketika dua orang turis mendaki Gunung Sinabung hingga puncak. Aktivitas ini berbahaya karena Sinabung sewaktu-waktu bisa menyemburkan awan panas dan lava pijar.

"...petugas juga akan memantau jalur-jalur tikus. Di mana, baik masyarakat ataupun pendatang dilarang memasuki jalur tersebut," tutur Natanail Perangin-angin, Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Karo.

Yang jelas, demikian detikcom melaporkan, erupsi relatif menurun mendekati sore hari kemarin (14.30 WIB). Pos Pemantau Gunung Sinabung, Armen, mengatakan Sinabung sudah relatif tenang.

Sinabung menjadi gunung paling aktif dan sering erupsi di Indonesia, bahkan boleh jadi di dunia. Gunung ini tak pernah diam (hiatus) sejak 2010.

Menurut data yang dipelajari Beritagar.id, Sinabung sudah meletus lebih dari 250 kali sejak erupsi pertama pada Agustus 2010. Sementara sejak 2015, menurut data VSI ESDM, status merah di Sinabung alias erupsi terjadi sekitar 20 kali, tapi status Siaga mencapai lebih dari 200 kali.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, sulit mengatakan kapan Sinabung benar-benar berhenti meletus. Parameter vulkanik dan seismiknya masih tinggi sehingga potensi letusan susulan tetap terbuka.

Aktivitas vulkanik Sinabung secara umum ditandai gempa berkekuatan rendah sebanyak kurang dari 10 per hari dan pertumbuhan kubah lava yang relatif kecil. Hingga 19 Juli lalu, kubah lava mencapai 2,3 juta meter kubik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR