GUNUNG BERAPI

Soputan erupsi, warga belum perlu mengungsi

Letusan stromboli Gunung Soputan dengan estimasi ketinggian 400 meter dari puncak, terpantau dari Desa Lobu, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Rabu (3/10/2018).
Letusan stromboli Gunung Soputan dengan estimasi ketinggian 400 meter dari puncak, terpantau dari Desa Lobu, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Rabu (3/10/2018). | Adwit B Pramono /Antara Foto

Aktivitas vulkanik Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, masih berlangsung hingga Kamis (4/10/2018) pagi.

Tinggi kolom abu vulkanik yang terpantau dari pos pengamatan Gunung Soputan mencapai 1.000 sampai 2.000 meter di atas puncak kawah atau sekitar 2.000 sampai 3.000 meter di atas permukaan laut.

Erupsi pertama hari ini dilaporkan terjadi sekitar pukul 04.09 waktu Indonesia bagian Tengah (WITA) yang disertai letusan stromboli (lava dengan tekanan gas sedang) setinggi 100 hingga 200 meter.

Letusan kedua hari ini terjadi lagi pada pukul 06.36 WITA dengan kolom abu mencapai 1.500 meter dari puncak gunung dan mengarah ke Minahasa Selatan.

Kendati semburan masih terjadi, hujan abu vulkanik belum mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, yang berjarak sekitar 115 kilometer (km) dari sebelah tenggara Soputan.

Peringatan penerbangan alias Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih pada level oranye atau aman. Meski pada Rabu (3/10/2018), VONA sempat berstatus merah (dilarang terbang).

Hingga artikel ini diturunkan, seluruh jadwal penerbangan dari dan menuju Manado masih terpantau normal.

Begitu juga dengan dampak terhadap masyarakat di sekitarnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan status Gunung Soputan pada Level III (Siaga). Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 4 km dari puncak Gunung Soputan.

Masyarakat dan pendaki juga dilarang masuk ke area perluasan sektoral ke arah barat daya sejauh 6,5 km dari puncak Soputan. Hal ini karena area tersebut adalah kawasan bukaan kawah yang menjadi aliran guguran lava maupun awan panas.

Beberapa sungai yang berhulu di sekitar lereng Gunung Soputan sebaiknya dihindari. Sebab, material erupsi bisa terbawa oleh air melalui sungai-sungai tersebut. Beberapa sungai yang dimaksud adalah Sungai Ranowangko, Lawian, Popang, dan Sungai Londala Kelewahu.

Belum ada korban jiwa akibat erupsi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara juga tak mengumumkan lokasi pengungsian untuk warga. Sebab, pada jangkauan 4 sampai 6,5 kilometer dari Soputan memang tidak dihuni warga.

BPBD sampai saat ini masih membagikan masker penutup hidung dan mulut sebagai antisipasi dari bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

Jika ada pihak yang menyebarkan informasi bahwa Soputan menyemburkan lava pijar di sekitar lereng gunung, maka hal tersebut bisa dipastikan hoaks alias kabar bohong.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memastikan video yang beredar di masyarakat itu berasal dari erupsi gunung di Amerika Selatan.

"Masyarakat di sekitar gunung diharap tetap tenang, tidak terpancing isu-isu letusan Gunung Soputan," tukasnya.

Aktivitas kegempaan meningkat September

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi ESDM mencatat aktivitas kegempaan vulkanik Soputan mulai meningkat sejak September 2018.

Pada periode itu hingga 2 Oktober 2018, jumlah gempa yang terjadi meningkat dari dua gempa per hari menjadi 101 gempa per hari. Pada rentang waktu yang sama, aktivitas embusan naik dari sekitar 2 sampai 6 kejadian per hari menjadi 851 kejadian per hari.

Guguran lava juga meningkat signifikan. Dari sekitar 16 kejadian per hari menjadi 193 kejadian per hari. Amplitudo seismik (RSAM/Realtime Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan tren akselerasi (percepatan), utamanya sejak 2 Oktober 2018 sekitar pukul 16.00 WIB.

Kepala PVMBG Kasbani menyebut aktivitas Soputan bisa jadi berhubungan dengan gempa 7,4 pada Skala Richter (SR) yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018).

“Gempa besar bisa meningkatkan aktivitas gunung api. Tapi biasanya tidak langsung, butuh beberapa bulan,” kata Kasbani, dikutip dari Liputan6.com.

Letusan stromboli pada Gunung Soputan terakhir kali terjadi pada Mei 2000. Letusan bersifat freatomagmatis, ditandai berupa semburan material pijar di sekitar kawah. Catatan Volcanological Survei of Indonesia (VSI) ESDM menunjukkan, beberapa jam setelah letusan, kubah lava muncul.

Letusan tercatat berlangsung secara berulang pada tanggal 1, 6, 25, dan 30 Juli 2000. Setiap akan terjadi letusan, tremor vulkanik selama 3 sampai 6 jam selalu terjadi. Amplitudonya semakin membesar jelang beberapa menit sebelum letusan.

Sementara pada Juni 2008, terjadi gempa vulkanik dan tektonik pada Soputan. Gempa ini menyebabkan guguran awan panas hampir ke segala arah dengan jarak luncur mencapai 1.500 meter.

Periode letusan Gunung Soputan yang terpanjang adalah 47 tahun dan terpendeknya adalah satu tahun. Sifat letusan Soputan umumnya terjadi beberapa kali dalam selang waktu antara beberapa minggu hingga beberapa bulan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR