PERANG DAGANG

Eskalasi perang dagang bayangi IHSG dan ekspor RI

Perajin memproduksi kerajinan miniatur motordi Kemiri, Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (11/4/2019). Kerajinan miniatur motor harley dan pesawat yang terbuat dari bahan dasar kayu jati itu telah diekspor ke India, Inggris, dan Perancis.
Perajin memproduksi kerajinan miniatur motordi Kemiri, Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (11/4/2019). Kerajinan miniatur motor harley dan pesawat yang terbuat dari bahan dasar kayu jati itu telah diekspor ke India, Inggris, dan Perancis. | Aloysius Jarot Nugroho /AntaraFoto

Negosiasi perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung selama sepekan terakhir tak berjalan mulus. Eskalasi perang dagang yang memicu gejolak ekonomi global pun terjadi.

Tiongkok menolak untuk membuka pasarnya bagi ekspor AS, terutama produk pertanian yang paling terpukul dalam perang dagang.

Selain itu, Tiongkok juga enggan menghentikan rencananya membangun pusat teknologi dunia melalui kebijakan “pemaksaan” penyerahan teknologi berharga dari perusahaan-perusahaan AS dan asing lainnya yang yang berbisnis di Negeri Tirai Bambu itu.

Alih-alih Tiongkok memilih untuk menunggu sampai Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2020, dengan harapan Partai Demokrat akan menang dan menawarkan kesepakatan yang lebih baik ketimbang Trump.

Presiden AS Donald Trump kesal. Dirinya menyebut Tiongkok telah mundur satu langkah dari kesepakatan yang seharusnya bisa mengakhiri keributan perang dagang antardua negara tersebut.

Trump pun memutuskan untuk menaikkan tarif masuk atas barang-barang Tiongkok senilai $200 miliar AS dari sebelumnya 10 persen menjadi 25 persen. Dia juga mengancam akan mengenakan tarif masuk 25 persen pada produk Tiongkok lainnya yang bernilai hingga $325 miliar AS.

Dewan Ekonomi Nasional AS, Larry Kudlow, menyebut keputusan Trump hanya membuat ekonomi kedua negara semakin menderita. Sebab pada akhirnya, pebisnis-pebisnis AS yang bakal terbebani atas tarif yang diberlakukan terhadap Tiongkok ini.

Di luar dari itu, seperti yang sudah-sudah, ketegangan dagang dua negara ini juga membawa gejolak bagi kinerja ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Sejumlah analis sepakat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan terkoreksi sepanjang pekan ini. Potensi itu makin dibebani dengan makin dekatnya Idulfitri 2019, saat transaksi di pasar modal akan semakin sepi. Tekanan untuk investor melakukan aksi jual semakin besar.

Analis Indo Premier Sekuritas, Mino, menyebut indeks domestik dan global bakal terus tertekan sebelum perang dagang menemukan titik terang, meski ISHG mungkin sedikit menguat saat pengumuman hasil rekapitulasi suara Pilpres 2019, 22 Mei 2019.

“(Tapi) Tidak akan terlalu kuat. Karena hasilnya juga tidak akan berbeda jauh dengan hitung cepat yang sudah dirilis,” kata Mino, Jumat (10/5/2019).

Analis Artha Sekuritas Frederik Rasali menilai, dengan kondisi seperti ini, investor kemungkinan bakal lebih memilih instrumen investasi lainnya seperti obligasi pemerintah.

Obligasi menjadi alternatif lantaran sifatnya yang lebih pasti dan aman, mengingat instrumen itu dijamin langsung oleh negara.

Untuk diketahui, IHSG terpantau loyo sejak awal Mei 2019. Ketika bursa dibuka pada 2 Mei 2019, IHSG terjun 1,25 persen di level 6.374. IHSG sempat rebound tipis sebesar 0,65 persen pada 7 Mei, namun penurunan dalam terjadi lagi pada 9 Mei hingga menyentuh level 6.198.

Kinerja ekspor dalam kewaspadaan

Meningkatnya ketegangan perang dagang Tiongkok dan AS diprediksi bakal jadi pukulan keras bagi kinerja ekspor Indonesia, khususnya ketika pencapaiannya pada kuartal I/2019 jauh di bawah ekspektasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari-Maret 2019 sebesar $40,51 miliar AS atau turun 8,5 persen year-on-year (yoy). Ekspor non-migas mencapai $37,07 miliar, juga turun 7,83 persen dibandingkan tahun lalu.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan, peningkatan tarif yang dipasang AS bakal membuat pertumbuhan Tiongkok terkoreksi hampir 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2021.

Sementara AS, juga diprediksi bakal kehilangan ekonominya sebesar 0,9 persen dari PDB pada tahun 2023.

Penurunan PDB Tiongkok secara tidak langsung juga akan menurunkan permintaan ekspor ke Indonesia. Dampak akhirnya, PDB Indonesia juga akan turun.

Tauhid menyebut, dari sejumlah studi yang dipelajarinya, setiap penurunan 1 persen PDB Tiongkok bakal berimbas pada penurunan sekitar 0,14 persen PDB Indonesia. Begitu pula dengan penurunan 1 persen PDB AS, maka Indonesia akan kehilangan potensi ekonomi hingga 0,05 persen.

“Artinya, PDB kita akan terkoreksi, kurang lebih secara bersamaan hingga 0,19 persen,” kata Tauhid, Sabtu (11/5/2019). Koreksi itu kemungkinan bisa lebih besar jika negara-negara lain—yang memiliki hubungan bilateral dengan Indonesia—turut mengalami koreksi PDB akibat perang dagang ini.

Selama kuartal I/2019, Tiongkok tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan nilai mencapai $5,4 miliar AS, atau 14,12 persen dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang diekspor antara lain lignit (batu bara gambut), besi dan baja, serta minyak kelapa sawit (CPO).

Namun, sepanjang periode itu juga, ekspor Indonesia ke Tiongkok tercatat mengalami penurunan sebesar 17,38 persen yoy. Periode yang sama tahun lalu, ekspor Indonesia ke Tiongkok berhasil mencetak nilai $6,34 miliar AS.

AS, di sisi lain, adalah negara tujuan ekspor kedua Indonesia dengan nilai mencapai $4,16 miliar AS atau 11,23 persen dari total ekspor nasional. Sepanjang Januari-Maret 2019, perdagangan Indonesia dan AS juga tercatat turun 5,8 persen dibandingkan tahun lalu yang berhasil mencapai $4,42 miliar AS.

Penguatan struktur industri

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menekankan pemerintah bakal terus mencari cara untuk meningkatkan ekspor.

“Apa saja akan kita kerjakan dengan ekspor. Pertama, yang paling siap di antara ekspor-ekspor kita itu adalah industri 4.0, adanya di Kementerian Perindustrian; komoditinya itu elektronik, makanan dan minuman, kimia, dan otomotif,” kata Darmin saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (6/5/2019).

Selain komoditas di atas, Darmin juga mengatakan pemerintah saat ini tengah menggenjot produksi sumber daya yang ada pada sektor pertambangan, kelapa sawit, kayu, dan seterusnya.

Dalam susunan Program Prioritas Kemenko Perekomian 2019, kebijakan jangka menengah panjang untuk mendorong ekspor di antaranya penguatan struktur industri berorientasi ekspor, pengembangan SDM di bidang ekspor, pengembangan produk-produk unggulan ekspor, diversifikasi pasar non-tradisional, hingga pemberian fasilitas pembiayaan ekspor.

Untuk diversifikasi pasar non-tradisional, pemerintah berupaya melakukan penetrasi pasar ke kawasan Asia Tengah, Asia Selatan, serta Amerika Selatan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR