MITIGASI BENCANA

Evakuasi korban diutamakan di Sentani

Sejumlah warga berada di dekat helikopter yang bergeser dari tempatnya akibat banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Minggu (17/3/2019)
Sejumlah warga berada di dekat helikopter yang bergeser dari tempatnya akibat banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Minggu (17/3/2019) | Gusti Tanati /Antara Foto

Evakuasi korban selamat di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, menjadi fokus utama pasca-banjir bandang yang melanda daerah tersebut. Evakuasi dilakukan guna menghindari penambahan jumlah korban, baik yang luka-luka maupun meninggal dunia.

Laporan kontributor Beritagar.id menyebut sampai Minggu (17/3/2019), korban meninggal dunia mencapai 68 orang, 61 berasal dari Sentani, sementara tujuh lainnya dari Kota Jayapura. Adapun korban luka mencapai 43 orang.

Terkait dengan hal ini, Presiden Joko "Jokowi" Widodo juga telah memerintahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal Doni Monardo untuk terbang ke lokasi bencana untuk mengoordinasikan evakuasi berikut dengan penanganan pasca-bencana. Jokowi juga meminta Doni untuk segera melaporkan hal-hal penting yang bisa dilakukan oleh pemerintah pusat di Papua.

Sebab menurutnya banjir bandang tak hanya terjadi di Sentani saja. "Di provinsi lain juga ada. Kabupaten lain, kota lain juga ada," kata Jokowi di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (17/3/2019).

Ke depannya, Jokowi menjanjikan perbaikan kerusakan lingkungan di hulu secepat mungkin. Hal ini demi meminimalisasikan faktor kelalaian manusia dalam bencana alam. Salah satu upaya yang bakal digenjotnya adalah melakukan reboisasi atau penghijauan kembali di beberapa titik yang telah mengalami alih fungsi.

"Arah pekerjaannya ke sana" tukasnya.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya menyatakan sebanyak 4.150 warga mengungsi ke enam titik, yakni Kompleks Gajah Mada, Rumah Bupati Jayapura, Bintang Timur, HIS Sentani, Kantor Bupati Jayapura, dan Doyo. Sejauh ini Sutopo menduga dua faktor penyebab di balik musibah ini.

Pertama, curah hujan ekstrem dengan intensitas mencapai 235,1 milimeter/jam. Seorang warga, Lanus Medlama, menceritakan banjir disebabkan luapan air Kali Toladan sekitar pukul 20.00 WIT setelah hujan deras turun sejak pukul 18.00 WIT, Sabtu (16/3/2019). Empat kandang babi di permukiman Kampung Toladan hanyut dan menghilangkan sembilan ekor babi.

Kedua, kerusakan parah di kawasan hutan Gunung Cycloop. Terkait faktor kedua, Sutopo mengatakan kondisi pohon penyangga hutan di Gunung Cycloop terpantau berkurang drastis akibat pembalakan.

Akibatnya, air tidak tertahan dan langsung menerjang pemukiman warga. "Warga ini menebang pohon untuk kayu bakar dan pembukaan perkebunan liar serta pembuatan perumahan," kata Sutopo.

Mitigasi bencana di Gunung Cycloop sebenarnya sudah dilakukan, sebut Sutopo. Pada 2018, BNPB telah mengirimkan 2.000 bibit pohon untuk ditanam di kawasan tersebut.

Saat ini tim gabungan BASARNAS terus melanjutkan proses evakuasi di Kampung Doyo Baru dan beberapa lokasi perumahan di sekitarnya untuk mengangkut korban luka dan patah tulang. Posko bantuan dan dapur umum juga telah didirikan.

Meski sebagian wilayah tertutup oleh lumpur, akses menuju kota Sentani tak terhambat. Pantauan Beritagar.id menunjukkan jembatan penghubung Jayapura dan Sentani di Kampung Harapan yang berdampingan dengan Stadion Papua Bangkit hanya mengalami retak di sisi kanan.

Perkampungan di depan kompleks TNI Angkatan Udara Sentani adalah paling parah. Luapan Kali Kemiri di sekitarnya turut meluapkan ratusan batang kayu ke jalan raya hingga menutup satu lajur.

Sementara di daerah perkotaan, jembatan di kompleks Tahara retak. Lumpur bercampur air mengikis sisi kiri Hotel Tahara.

Masuk lebih dalam ke kota Sentani, beberapa sisi pagar TNI Angkatan Darat Yonif 751/Raider roboh dan air bercampur lumpur masih mengalir setinggi betis orang dewasa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR