TRANSPORTASI DARING

Evaluasi tarif baru ojek online diperpanjang

Calon penumpang menunjukan tarif ojek daring di Jakarta, Kamis (2/5/2019).
Calon penumpang menunjukan tarif ojek daring di Jakarta, Kamis (2/5/2019). | Muhammad Adimaja /AntaraFoto

Masa uji coba tarif ojek daring (online) di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar diperpanjang dua pekan.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setyadi menyatakan, selama masa perpanjangan ini pihaknya akan menggelar survei untuk mengukur persepsi dan opini masyarakat serta kepatuhan perusahaan penyedia aplikasi.

Dengan begitu, penetapan tarif ojek online secara nasional baru resmi berlaku setelah Kementerian Perhubungan selesai melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang dimulai sepekan lalu ini.

Survei bakal dilakukan selama 10 hari, dimulai Selasa (7/5/2019), hingga 17 Mei 2019. Budi menjamin, lembaga survei yang digandengnya tidak memiliki kepentingan kepada salah satu pihak.

Oleh karenanya, setelah survei selesai dilakukan, kementerian bakal menggelar rapat internal selama 5 hari sebelum mengumumkan hasil evaluasi mereka.

Dari hasil survei tersebut, Budi mengakui pihaknya tak menutup kemungkinan bahwa tarif bakal mengalami perubahan. “Apakah tarif ini terlampau besar atau tidak. Kalau mencukupi berarti tidak perlu ada perubahan, tapi kalau terlalu besar akan kita koreksi kembali,” kata Budi dalam Liputan6.com.

Uji coba tarif ojek online memang hanya diberlakukan di lima wilayah saja. Hal ini lantaran kelimanya dianggap mewakili tiga zona yang diatur, di antaranya zona I untuk Sumatra, Jawa (kecuali Jabodetabek), Bali; zona II untuk Jabodetabek; dan zona III untuk Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Indonesia Timur.

Merujuk Keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) Nomor KP 348 Tahun 2019, tarif yang berlaku di zona I adalah Rp1.850-Rp2.300 per kilometer (km), zona II sebesar Rp2.000-Rp2.500 per km, dan zona III sebesar Rp2.100-Rp2.600 per km.

Go-Jek, salah satu aplikasi jasa transportasi online, sempat berhenti menerapkan tarif baru ini. Go-Jek mengklaim tarif ini membuat permintaan layanan ojeknya turun drastis. Hal itu terpantau selama tiga hari sejak dilakukannya uji coba.

“Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi selama tiga hari pertama pemberlakuan tarif uji coba, kami melihat adanya penurunan permintaan Go-Ride yang cukup signifikan sehingga berdampak pada penghasilan mitra driver kami,” ucap Chief Corporate Affairs Go-Jek Nila Marita dalam keterangan resminya, Senin (6/5/2019).

Perusahaan pun mengakali dengan memberlakukan sejumlah promosi agar tarif tak melambung tinggi. Namun, hal ini diakuinya bakal berdampak buruk bagi keberlangsungan bisnis secara jangka menengah dan panjang.

Kendati begitu, pihaknya mengatakan bakal tetap berkomitmen penuh untuk mengikuti aturan yang dibuat pemerintah.

Sebaliknya, pihak Grab—penyedia layanan serupa—belum mengukur seberapa jauh dampak dari kenaikan tarif ojek online terhadap jumlah penumpangnya.

Head of Public Affairs Grab Indonesia Tri Sukma Anreianno justru mengklaim kenaikan tarif ini disambut baik pengemudi karena otomatis menaikkan pendapatan mereka. “Kalau penumpang memang ada 1-2 yang memberikan catatan dan keluhan, tapi masih dalam batas-batas normal,” katanya dalam KOMPAS.com.

Kendati demikian, Tri menekankan pihaknya tetap menantikan hasil evaluasi dari Kementerian Perhubungan terkait kebijakan tarif ini.

“Pemerintah sendiri bilang dalam seminggu akan dibuatkan evaluasi, per hari ini sebetulnya sudah seminggu. Kita masih menunggu undangan dari Kemenhub kapan bisa melakukan evaluasi,” tukasnya.

Tarif melonjak tajam

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya mengatakan, penetapan tarif baru ini dilakukan melalui pembahasan dengan pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

“Saat saya menetapkan itu, didasarkan oleh perwakilan-perwakilan; perwakilan konsumen, perwakilan pengemudi, perwakilan operator, semuanya ada. Ini adalah hasil dari perjumpaan kepentingan, dengan dasar itu kita petakan,” kata Budi.

Sayangnya, kebijakan ini tak seluruhnya bisa diterima konsumen. Banyak yang mengeluhkan tarif ojek online naik dua kali lipat sehingga banyak yang memilih untuk memesan jarak pendek pun menggunakan moda transportasi lainnya.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menganalisis, penumpang jarak dekat sebenarnya paling terkena imbas kenaikan tarif lantaran harga minimum (flagfall) mencapai 100 persen. “Terutama penumpang zona II di Jabodetabek,” kata Fithra, dalam tempo.co.

Hasil survei yang dirilis Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menunjukkan, tarif flagfall untuk zona II Jabodetabek yang berlaku di lapangan adalah Rp10.000-Rp12.500. Nilai ini menjadi lebih tinggi ketimbang tarif yang ditetapkan Kementerian Perhubungan.

Untuk diketahui, harga yang berlaku dalam aturan Kementerian Perhubungan adalah tarif bersih yang diterima pengemudi. Sedangkan biaya yang harus ditanggung konsumen dan berlaku di lapangan merupakan akumulasi dari tarif untuk pengemudi ditambah 20 persen ongkos untuk aplikator.

Adapun tarif flagfall ini berlaku untuk jarak minimal 4 kilometer.

Sebelum aturan ditetpkan, tarif flagfall berada di kisaran Rp4.000-6.000 untuk wilayah Jabodetabek. Dengan tarif yang berlaku sekarang, maka menjadi masuk akal jika konsumen jarak pendek lebih memilih angkutan lain.

Dari survei yang dilakukan terhadap 3.000 responden di 13 kota ini menunjukkan sebanyak 75 persennya menolak kenaikan tarif ojek online. Hal ini merujuk pada mayoritas responden merupakan pekerja dengan pendapatan menengah ke bawah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR