PEMILU 2019

Facebook larang iklan Pemilu 2019 dari luar Indonesia

Iklan Facebook tentang bahaya akun palsu tampak di New York, AS (23/3/2018).
Iklan Facebook tentang bahaya akun palsu tampak di New York, AS (23/3/2018). | NYCStock /Shutterstock

Facebook mengambil langkah baru untuk mencegah pemanfaatan platformnya dalam mempengaruhi pemilihan umum (pemilu) di Indonesia. Setelah menutup segala yang terkait Saracen sejak Februari, jejaring sosial itu, Senin (4/3/2019), mengumumkan tidak menerima iklan terkait Pemilu 2019 yang dipesan dari luar negeri.

"Pembatasan itu efektif mulai pagi ini, Selasa (5/3) dan akan berlaku untuk semua jenis iklan yang datang dari perusahaan iklan yang berbasis di luar negeri, jika iklan tersebut merujuk pada politisi atau partai politik atau upaya-upaya untuk mendorong atau menekan pemilih," tulis Facebook dalam Newsroom-nya.

Raksasa jejaring sosial asal Amerika Serikat itu menyatakan, memerangi intervensi asing adalah kunci pendekatan mereka untuk ikut menjaga integritas pemilu pada platform mereka.

Untuk mengidentifikasi iklan pemilu dari luar Indonesia itu, menurut Facebook, mereka akan menggunakan cara gabungan antara sistem otomatis dan pengamatan manusia.

Selain itu, Facebook juga melakukan langkah-langkah yang dianggap bisa membantu mencegah gangguan kepada pengguna yang juga pemilih, menjelang berlangsungnya Pemilihan Presiden dan Legislatif di Indonesia pada 17 April 2019.

Salah satu di antaranya adalah transparansi pemasang iklan. Pengguna bisa mendapatkan informasi lebih banyak mengenai iklan yang mereka lihat di media sosial tersebut. Pengguna juga bisa langsung melaporkan jika menganggap iklan itu bermasalah. Caranya bisa dilihat pada video di bawah ini.

Kemudian, Facebook mengklaim tim keamanan mereka, yang beranggotakan 30.000 orang, bakal beroperasi 24 jam setiap hari untuk mengatasi segala tingkah laku tak autentik dan perundungan yang terjadi dalam platform.

Tim itu akan segera melakukan tindakan jika menemukan akun yang menyebarkan misinformasi, melakukan misrepresentasi (akun palsu), intervensi asing, perundungan, dan ancaman kekerasan.

"Tim kami juga bekerja sama dengan anggota parlemen, komisi pemilihan umum, pengecek fakta, periset, akademisi, dan kelompok masyarakat sipil untuk mengintegrasikan upaya yang lebih baik pada isu-isu penting terkait integritas pemilihan," kata Facebook.

Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg ini juga mengambil tiga langkah penting untuk meningkatkan kualitas dan keautentikan informasi yang beredar di dalamnya. Sehingga bisa menjamin para pengakses mendapatkan informasi yang akurat mengenai pemilu, yang akan berpengaruh pada pilihan mereka di kotak suara nanti.

Pertama, Facebook akan menghapus konten yang melanggar Standar Komunitas. Kemudian, konten yang tidak melanggar tetapi tampak tak autentik--seperti clickbait atau materi yang sensasional--bakal dikurangi peredarannya di News Feed.

Terakhir, Facebook mencoba memberi konteks terhadap informasi yang dilihat pengguna. Caranya dengan mengklik "About this article" untuk melihat lebih detail mengenai penerbit artikel tersebut.

Menurut data Masyarakat Telematika Indonesia, hasil survei online pada 2017, nyaris seluruh masyarakat Indonesia pernah menerima hoaks melalui media sosial, termasuk Facebook.

Oleh karena itu, pengawasan terhadap kualitas dan keautentikan informasi yang beredar di media sosial ini menjadi amat penting.

Tak hanya pemilu di Indonesia, Facebook juga bakal memantau unggahan di platform mereka saat pemilu di seluruh dunia. Untuk wilayah Asia Pasifik, mereka mendirikan pusat pemantauan di Singapura. Ini adalah pusat pemantauan kedua setelah di Irlandia untuk memantau pemilu di Eropa.

Upaya-upaya Facebook tersebut merupakan tanggapan terhadap tuntutan dari beberapa negara agar sang raksasa media sosial itu mau lebih bertanggung jawab atas konten di dalamnya. Terutama yang dianggap sebagai upaya terorkestrasi untuk memengaruhi pemilih, seperti yang dituduh terjadi di Amerika Serikat.

Pada September tahun lalu, dikabarkan The New York Times, CEO Facebook Mark Zuckerberg menegaskan bahwa mereka telah belajar banyak dari situasi yang terjadi pada Pemilihan Presiden di Amerika Serikat pada 2016.

"Pada 2016, kami tidak siap menghadapi operasi informasi terkoordinasi yang saat ini lebih sering kami hadapi," kata Zuckerberg, merujuk pada dugaan intervensi Rusia dalam pemilihan presiden AS, juga terus menyebarnya pesan yang memecah-belah, disinformasi, dan berita palsu pada platform itu.

"Tetapi sejak itu kami banyak belajar dan telah mengembangkan sistem canggih yang menggabungkan teknologi dan manusia untuk mencegah intervensi pemilu pada layanan kami."

“Hari ini, Facebook lebih siap menghadapi jenis serangan seperti itu," tegasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR