UJARAN KEBENCIAN

Facebook tutup ratusan akun terkait Saracen di Indonesia

Pengguna internet tampak tengah mengakses Facebook di sebuah kafe internet di Jakarta (28/5/2009).
Pengguna internet tampak tengah mengakses Facebook di sebuah kafe internet di Jakarta (28/5/2009). | Adi Weda /EPA-EFE

Menjelang Pemilihan Umum 2019 di Indonesia, Facebook, Kamis (31/1/2019), mengumumkan telah menghapus ratusan akun, halaman, dan grup dari negeri ini. Penghapusan dilakukan karena mereka terlibat dalam "perilaku tak autentik yang terkoordinasi" (coordinated inauthentic behaviour).

Ada 207 halaman, 800 akun, 546 grup, dan 208 akun Instagram yang dinilai menjadi bagian dari kelompok Saracen dan semua telah dihapus. Demikian dijelaskan raksasa jejaring sosial dari AS itu dalam Newsroom mereka.

Saracen adalah kelompok yang dianggap menyebarkan ujaran kebencian terkait suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) dengan sengaja untuk tujuan tertentu di Indonesia melalui jejaring dan media sosial. Keberadaannya diungkap polisi Indonesia pada 2016.

Facebook mengungkapkan, sekitar 170.000 orang mengikuti (follow) setidaknya salah satu dari halaman-halaman tersebut, sementara lebih dari 65.000 orang mengikuti setidaknya satu dari 208 akun Instagram itu.

"Penyalahgunaan platform kami secara terkoordinasi oleh kelompok Saracen dengan menggunakan akun yang tak autentik adalah pelanggaran terhadap kebijakan kami. Oleh karena itu kami telah melarang organisasi itu berada dalam platform kami," jelas Nathaniel Gleicher, kepala kebijakan keamanan siber Facebook.

Lebih lanjut ia menjelaskan kepada Reuters, sejumlah akun dan halaman tersebut bekerja aktif untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka lakukan.

Saracen, menurut Gleicher, menggunakan pesan-pesan tipuan dan jaringan halaman dan akun yang disembunyikan untuk mendorong pesan-pesan pemecah belah mengenai isu penting yang diperdebatkan mayoritas warga Indonesia.

Penghapusan tersebut, menurut Gleicher, bukan karena konten unggahan mereka. "Dalam kasus ini, orang-orang di belakang aktivitas tersebut saling berkoordinasi dan menggunakan akun palsu untuk merepresentasikan diri mereka, dan itulah dasar dari tindakan kami," ujarnya.

Ia menegaskan, Facebook bekerja dengan konsisten untuk mendeteksi dan menghentikan aktivitas tersebut karena tidak ingin media sosial itu dijadikan sebagai tempat memanipulasi orang lain.

"Kami akan terus berinvestasi besar dalam keselamatan dan keamanan untuk menjamin orang bisa memercayai koneksi yang mereka buat di Facebook," tegas Gleicher.

Communication Lead Facebook Indonesia Putri Dewanti kepada Tirto.id menjelaskan, Facebook menganalisis skema-skema penyebaran informasi yang membawa agenda tertentu serta dianggap memiliki potensi berbahaya melalui sejumlah akun-akun fiksi.

Metode ini merupakan upaya terbaru Facebook untuk menjaga keamanan platformnya, memerangi disinformasi, penyebaran propaganda, dan ujaran kebencian.

"Sebelum [ada Nathaniel], kita ada tim content reviewer ... Jadi selain AI (artificial intelligence), ada content reviewer yang melihat apakah konten yang ada di platform kita itu sesuai dengan community standards kita atau tidak," jelas Putri.

Pemerintah Indonesia tahun lalu telah meminta kepada Facebook untuk mengontrol unggahan bernada ujaran kebencian di platform mereka.

Bahkan pada April 2018, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, pernah mengancam bakal menutup akses Facebook di Indonesia jika permintaan tersebut tidak dipenuhi.

Saat itu Rudiantara mengatakan pemerintah tidak langsung menutup Facebook karena masih banyak orang Indonesia yang memanfaatkan media sosial tersebut untuk berbisnis.

Sejak awal Januari 2019 Facebook telah melakukan pembersihan platform dari akun-akun palsu dan unggahan kabar bohong di Filipina. Negara tetangga itu juga bakal melaksanakan pemilu.

Tak hanya pemilu di Indonesia dan Filipina, perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu juga bakal memantau unggahan di platform mereka saat pemilu di seluruh dunia.

Untuk wilayah Asia Pasifik, Facebook telah mendirikan pusat pemantauan di Singapura. Ini adalah pusat pemantauan kedua setelah di Irlandia untuk memantau pemilu di Eropa.

"Kami telah mendedikasikan tim-tim yang bekerja pada setiap pemilu yang bakal berlangsung di seluruh dunia. Kami telah memusatkan upaya kami di Asia Pasifik untuk mencegah intervensi pada platform kami di negara yang berencana mengadakan pemilu pada 2019," kata juru bicara Facebook kepada The Straits Times (30/1).

Tim tersebut, terangnya, akan mendeteksi dan menghapus akun palsu, mengatasi penghinaan terkoordinasi, dan bekerja sama dengan pengecek fakta untuk mencegah menyebarnya misinformasi. Ada 30.000 orang yang akan terlibat dalam pengawasan tersebut.

Facebook juga tengah menjadi sorotan di Vietnam karena pemerintah negara itu menganggap mereka tidak merespons permintaan untuk menghapus fanpages yang dianggap memprovokasi perlawanan terhadap negara.

Apa itu Saracen?

Seperti telah disebutkan sebelumnya, keberadaan Saracen diungkapkan Kepolisian RI pada 2016. Kemudian polisi menahan lima orang yang dituding sebagai anggotanya.

Setelah melalui proses penyelidikan dan persidangan enam orang itu dikenakan dakwaan dan hukuman yang berbeda. Empat tersangka--Rofi Yatsman (15 bulan bui), Faizal Tonong (18 bulan), Sri Rahayu (12 bulan), dan Muhammad Abdullah Harsono (20 bulan)--dihukum untuk kasus SARA.

Terakhir, orang yang disebut sebagai pemimpin kelompok itu, Jasriadi, dipenjara 5 bulan oleh Pengadilan Negeri Pekanbaru, Riau, karena terbukti melakukan akses ilegal. Pengadilan Tinggi Riau pada Juni 2018 memperberat hukuman tersebut menjadi 2 tahun.

Jasriadi tetap menyanggah tuduhan bahwa dirinya adalah pemimpin Saracen dan pengacaranya menegaskan bahwa "tidak ada bukti keberadaan Saracen".

Ada satu nama lagi yang pernah disebut terkait dengan Saracen, yaitu Asma Dewi. Pada Maret 2018 ia dihukum 5 bulan penjara karena terbukti menghina penguasa atau badan umum. Ia membantah memiliki keterkaitan dengan Saracen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR