Fahd A Rafiq, tersangka baru korupsi pengadaan Alquran

Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Fahd El Fouz bin A Rafiq (kanan) menunggu di ruang tunggu sebelum menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di gedung KPK, Jakarta, Jumat (28/4).
Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Fahd El Fouz bin A Rafiq (kanan) menunggu di ruang tunggu sebelum menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di gedung KPK, Jakarta, Jumat (28/4). |

Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar, Fahd El Fouz bin A. Rafiq, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan laboratorium komputer dan Alquran di Kementerian Agama, Kamis (27/4).

Perkara yang terbongkar pada tahun anggaran 2011-2012 telah menyeret tiga orang ke penjara, yakni Zulkarnaen Djabar, Dendy Prasetia, dan Ahmad Jauhari. Nama disebut terakhir adalah mantan Direktur Urusan Agama Islam dan Pejabat Pembinaan Syariah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.

Dilansir detikcom, Fahd masuk dalam fakta hukum putusan terdakwa korupsi pengadaan, Djabar dan Prasetia, pada 2013.

Dia disinggung telah membantu Djabar untuk campur tangan di Kemenag demi memenangkan perusahaan pelaksana proyek pengadaan, PT Batu Karya Mas dan PT Adhi Aksara Abadi.

Anak mendiang pedangdut A. Rafiq itu pun disangka melanggar Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) juncto ayat (1) huruf b lebih subsider Pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Sebelum menjadi tersangka dalam soal ini, Fahd pada 2012 pernah berstatus terpidana karena dinyatakan bersalah menyuap anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Wa Ode Nurhayati.

Kala itu, suap diniatkan untuk memuluskan upaya bagi tiga kabupaten di Aceh sebagai daerah penerima Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah tahun 2011.

Waktu itu jabatannya Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR).

Ia mulai ditahan sejak 27 Juli 2012. Tindak pidana tersebut mulai terjadi pada 2010.

Fahd baru tiga tahun belakangan menghirup udara bebas setelah menjalani hukuman 2,5 tahun penjara.

CNNIndonesia.com mewartakan tentang penegasan Partai Golkar bahwa kasus Fahd tidak berkaitan dengan partai.

"Apa yang terjadi menimpa dirinya harus diselesaikan dan tidak bisa menyangkut kepada partai, dan itu harus beliau selesaikan sendiri," ujar Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Dave Laksono, Jumat (28/4).

Selain itu, Golkar, dalam hematnya, tetap berpegang kepada asas praduga tak bersalah terkait kasus Fahd. Meski begitu, Dave mengatakan partainya takkan mengintervensi KPK.

Di luar itu, sewaktu kasus mulai mengemuka beberapa tahun lalu, salah satu hal menonjol adalah bagaimana para aktornya memiliki istilah rahasia untuk bergerak. Zulkarnaen Djabar bisa dijadikan misal akan hal tersebut.

Eks politikus Golkar itu memiliki kode khusus untuk mengatur proyek pengadaan Alquran dan laboratorium komputer.

Sandi yang digunakan Zulkarnaen saat berbicara dengan para pejabat Kementerian Agama yang mengurusi kedua proyek antara lain santri, pengajian, dan murtad.

Santri merupakan orang yang akan dikenalkan Zulkarnaen mengurusi proyek dan mengikuti tender. Sedangkan pengajian adalah perintah agar memenangkan proyek. Zulkarnaen meminta panitia lelang tidak murtad, artinya tak memilih pemenang tender selain yang disorongkan Zulkarnaen.

Kasus suap proyek Alquran juga memunculkan istilah kiai, ustaz, dan pesantren, diduga merupakan sandi bagi para penerima dana hasil proyek tersebut. Kiai merujuk pada para politikus di Senayan, ustaz untuk para pejabat di Kementerian Agama, sedangkan pesantren untuk partai politik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR