Fakta seputar hilang kontaknya pesawat Aviastar

Tim SAR melakukan persiapan pencarian pesawat Aviastar (3/10)
Tim SAR melakukan persiapan pencarian pesawat Aviastar (3/10) | Yusran Uccang /ANTARA FOTO

Pesawat milik Aviastar hilang kontak Jumat (2/10) sekitar pukul 14.36 waktu setempat. Pesawat ini sedang dalam perjalanan menuju Makassar, 11 menit setelah lepas landas dari Bandara Andi Jemma, Masamba.

Waktu tempuh penerbangan normal dari Bandara A Jemma Masamba ke Makassar selama 70 menit (1 jam 10 menit). Semestinya pesawat dengan nomor penerbangan MV 7503 itu tiba di Makassar pada pukul 15.39 waktu setempat.

Detik.com melaporkan, tim Badan SAR Nasional melanjutkan pencarian hari ini, Ahad (4/10) di kawasan Luwu, Sulawesi Selatan. Berikut beberapa fakta terkait hilang kontaknya pesawat Aviastar.

1. Jam terbang pilot

Manajer Komersial Aviastar Petrus Budi Prasetyo mengatakan jam terbang pilot pesawat Aviastar, yang hilang kontak pada Jumat (2/10), tak sebanyak kopilotnya.

Seperti dilansir Kompas, Budi memastikan bahwa pilot, memiliki jam terbang cukup untuk mengoperasikan pesawat Twin Otter.

Menurut Petrus, pilot bernama Iriafriadi memiliki 2.900 jam terbang. Adapun kopilot bernama Yudhistira telah mengantongi 4.035 jam terbang.

Meski jam terbangnya tidak sebanyak kopilot, kata Petrus, Iriafriadi sudah memenuhi aspek kelaikan menerbangkan pesawat jenis Twin Otter.

Menurut Petrus, Iriafriadi bergabung di Aviastar pada 2009. Aviastar menjadi pengalaman pertamanya dalam dunia penerbangan komersial. "Sebelumnya, ia terbang di Papua untuk penerbangan misi," ujar Petrus.

Dalam penerbangan kemarin, Jumat (2/10/2015), Iriafriadi didampingi oleh kopilot Yudhistira dan Soekris Winarto sebagai teknisi.

2. Penumpang

Pesawat itu menerbangkan satu pilot, satu kopilot, satu mekanik, empat dewasa, satu anak-anak, dan dua bayi. Berikut daftar penumpang seperti dikutip makassar.tribunnews.com :

1. Nurul Fatin M

2. Lisa Falentin

3. Riza Arman

4. Sakhi Arqam

5. M Natsir

6. Afif (bayi)

7. Ayi (bayi)

Sementara nama kru, yakni:

1. Capten Afriadi (pilot)

2. Yudhistira (kopilot)

3. Sukris (mekanik)

3. Pesawat legendaris

Pesawat Aviastar yang hilang kontak adalah pesawat perintis jenis Twin Otter DHC6. Pesawat buatan de Havilland Aircraft of Canada Ltd, Kanada ini memiliki daya tampung 19 orang. Perusahaan ini telah membuat lebih dari 900 pesawat sejak 1965.

Situs resi Avistar menyebutkan pesawat ini dapat terbang dengan kecepatan 338 kilometer per jam dengan ketinggian 1600 kaki per menit.

"Kondisi pesawat baik dan cek terakhir 15 September lalu. Kami periksa setiap kali penerbangan dan dinyatakan dalam kondisi layak terbang," ujar GM Komersial PT Aviastar Mandiri Petrus Budi Prasetiyo melalui Merdeka.com.

Pesawat dengan nomor registrasi PK-BRM terbang dari Masamba-Makassar, Sulawesi Selatan, hilang kontak pada ketinggian 8.000 kaki.

Staf khusus Menteri Perhubungan Hadi Mustofa Juraid, menyebutkan, kondisi pesawat milik Aviastar itu dalam keadaan layak terbang sebelum lepas landas. Pesawat yang hilang kontak itu diketahui berusia 34 tahun.

"Pesawat kondisinya oke. Enggak ada masalah. Twin Oter itu (jenis) pesawat yang legendaris. Di Amerika pun usianya bertahun-tahun masih dipakai," kata Hadi Mustofa Juraid di Menteng, Jakarta, Sabtu (3/10) melalui Republika.

4. Perusahaan Aviastar

Aviastar merupakan merek penerbangan dari maskapai PT Aviastar Mandiri yang beroperasi di Jakarta Timur.

Dikutip dari Wikipedia, Maskapai ini didirikan oleh pilot kapten Sugeng Triyono dan koleganya pada 2000. Awalnya, perusahaan ini bergerak dalam bidang penyewaan helikopter.

Pada 2003, perusahaan ini mulai mengoperasikan dua unit Twin Otters deHavilland Canada DHC-6-300. Maskapai ini sekarang mengoperasikan empat unit pesawat jenis DHC-6-300 dan Bae 146-200 buatan Inggris.

Maskapai ini beroperasi di Jakarta, Palangkaraya , Balikpapan, Makassar, Nabire dan Denpasar.

Tim Basarnas menunjukkan titik pencarian pesawat Aviastar (3/10)
Tim Basarnas menunjukkan titik pencarian pesawat Aviastar (3/10) | Sahrul Manda Tikupadang /Antara Foto

5. Pencarian

Pencarian pesawat Aviastar dilakukan dengan menyisir jalur darat, pantau dan udara. Pencarian dipusatkan di Kabupaten Luwu, Palopo, Enrekang dan Toraja.

Pencarian melalui jalur udara dilakukan pada Sabtu (3/10) berlangsung sekitar tiga jam. Direktur Operasi dan Latihan Basarnas Brigjen TNI Ivan Ahmad Rizki Titus, dikutip Detik.com, menggambarkan, awan tebal menyelimuti lokasi pencarian pesawat sehingga pesawat kerap goyang.

6. Jarak pandang dan cuaca

Saat pesawat Aviastar hendak terbang, cuaca di Makassar dalam keadaan bagus dengan jarak pandang 90 km. Selain itu, pesawat juga cukup bahan bakar untuk penerbangan 4 jam.

"Kondisi cuaca bagus dan jarak pandang 90 km. Pesawat juga cukup bahan bakar, tadi diisi 2.300 pons. Itu diperkirakan terbang 4 jam dan jarak tempuh Masamba-Makassar 70 menit," ujar GM Komersial PT Aviastar Mandiri Petrus Budi Prasetiyo.

Namun tanda-tanda aneh mulai terasa setelah pada pukul 15.15 WITA, ketika pihak tower Makassar menghubungi pesawat. Kontak terus diulang setiap lima menit hingga pukul 15.39 WITA. Setelah tak ada kabar, pihak tower akhirnya menghubungi pihak Aviastar dan Basarnas Makassar.

"Diulang setiap 5 menit diulang kontak tak ada respon sampai Pkl 15.39 WITA akhirnya pihak tower hubungi Aviastar dan Basarnas," kata dia.

7. Kontak terakhir

Pesawat Aviastar sempat melakukan kontak pukul 14.25, dengan Air Traffic Controller (ATC) di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, sebelum akhirnya hilang dari radar.

"Kru pesawat sempat dua kali menghubungi ATC di bandara Sultan Hasanuddin, yakni pada posisi 4.500 kaki dan 8.000 kaki," kata Kabid Keamanan Angkutan Udara dan Kelaikudaraan Otoritas Bandara Wilayah V Makassar, Agus Sasongko. Kemampuan maksimal pesawat Aviastar mengudara selama adalah tiga jam dengan ketinggian maksimum 8.000 kaki.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR