Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PAN Faldo Maldini saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2019).
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PAN Faldo Maldini saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2019). Wisnu Agungg
POLITIK MILENIAL

Faldo Maldini: Hoaks Ratna Sarumpaet paling mengena milenial

Ia tak peduli pujian dan dianggap snob. Baginya punya banyak musuh untuk beradu gagasan justru penting—selama itu konstruktif.

Faldo memulai karier politiknya dengan sukar. Diawali jadi juru ketik, tukang foto, hingga membuat laman sebuah partai. Proses itu membuatnya sadar: politik bisa mengubah dunia nyata.

“Pulang sekolah dari Inggris, gue langsung masuk PAN,” kata alumni Department of Physics, Imperial College London ini.

Partai itu dipilih Faldo karena sosok Zulkifli Hasan, yang sekarang Ketua Umum PAN.

Zul merekrut Faldo karena kesengsem melihatnya debat. Pada 2013, Faldo berdebat dengan Farras Nugraha--notabene putra Zul--memperebutkan posisi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) United Kingdom. Ketika itu Faldo menang.

“Gue berani debat dengan siapapun tanpa takut,” ujar Faldo.

Jawaban nyolot Faldo memang jadi khasnya. Bahasa agresif yang membuatnya jadi bintang politik saat ini. Terlepas segala kontroversi, gayanya itu meningkatkan jumlah pengikutnya di Instagram. Awalnya cuma 18 ribu, kini sudah 200 ribuan.

Heru Triyono, Muammar Fikrie, dan Wisnu Agung menemui Calon Anggota Legislatif (Caleg) PAN Daerah Pemilihan Jabar V ini di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu sore (30/1/2019).

Badannya agak kurus. Turun tujuh kilo gram. Wajah merah, kantong mata menghitam dan suaranya serak. "Gue tidur cuma dua jam sehari," katanya.

Berikut jawaban-jawaban pria berusia 28 ini seputar pemilih milenial, mulai dari ide-ide dan cara-cara hidup mereka:

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PAN Faldo Maldini saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2019).
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PAN Faldo Maldini saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Apa strategi yang paling milenial banget dari lo untuk meraup suara anak muda?
Bagi gue bukan cuma milenial. Emak-emak, bapak-bapak, anak-anak, juga penting. Gue sih enggak mengagungkan milenial.

Tapi cara dapatin suara mereka adalah lo jangan menipu. Itu saja. Lo enggak bisa tipu anak muda sekarang.

Mana golongan milenial yang paling susah lo didekati: hipster, generasi tik-tok, kelas menengah ngehe atau yang lain?
Yang jelas golongan dari mereka yang rasional. Enggak bisa lo sekali hajar. Harus berkali-kali. Terus, konten dan isi kepala lo juga harus bagus. Itu akan menarik mereka.

Apakah strateginya lo harus berpenampilan dan satu pemahaman dengan mereka?
Masuk ke mereka itu harus orisinil bos, jangan artifisial. Kalau lo mau masuk ke geng komika, ya bukan berarti harus bisa stand up comedy.

Lo jelaskan saja politik itu lucu. Masuk dari situ. At the end, rasionalitas dan kapasitas memang tetap harus kita pegang. Gue enggak mau orang pilih gue karena kasihan.

Memangnya politisi muda sering diremehkan karena dianggap nihil pengalaman ya?
Kan kesannya gue ini pemain U-28. Jangan sampai, gara-gara mengkapitalisasi kemudaan, kita enggak mau gerak seperti politisi lain.

Dalam sehari, gue kuat turun 20 titik (di Dapil). Gue kuat debat dengan siapapun, tanpa takut. Gue enggak menjual ganteng, meski bisa. Tapi itu palsu.

Tren politik milenial bisa diartikan membaiknya kesadaran politik mereka?
Tadi intinya. Mereka enggak bisa ditipu dengan bungkus. Mereka pintar. Bangun tidur langsung cek berita.

Makanya, jangan anggap muda itu berkah. Di satu sisi iya. Tapi itu tidak tahan lama kalau lo enggak upgrade isi kepala dan enggak kerja sebagaimana harusnya.

Kalau hendak memilih buzzer, mana yang akan lo pilih, Youtuber, selebgram atau selebtweet?
Gue sendiri adalah buzzer. Jangan andalkan orang. Jujur, followers (Instagram) gue sebelum ikutan politik, paling 18 ribu. Sekarang menuju 200 ribu.

Kenapa? Karena konten. Bukan berarti gue sombong. Walau lo dibantu buzzer, tapi kalau lo bapuk, ya pasti akan bapuk.

Kalau enggak bapuk, kenapa lo banyak musuh di Twitter?
Twitter itu tempat menguji narasi. Kalau musuh gagasan kan enggak apa-apa. Mau di-bully kayak apa, gue akan tetap fokus sama narasi gue.

Ini stand posisi gue. Yang gue tawarkan ya gagasan. Politik harus terbuka, enggak kucing-kucingan. Lo mau suka atau enggak, terserah.

Gue enggak butuh pujian bos. Pujian itu bentuknya huruf, kemenangan itu bentuknya angka.

Bicara Pilpres. Menurut lo, apa yang harus diperbaiki dari penampilan para capres dan cawapres yang ada?
Yang penting otentik. Jangan palsu. Orang itu suka yang orisinal. Kalau orang menyangka Prabowo otoriter, dia joget kok. Bahkan dipijitin Sandi.

Sebagai milenial, apakah ada ruang kritik di tim Prabowo. Kalau Prabowo salah, Anda bisa mengkritiknya?
Bisa banget. Gue pernah kritik Prabowo yang tidak bisa bicara kepada orang yang belum pasti dukung dia. Kritik langsung lho.

Ke Sandi, gue juga kritik. Bang lo kurang kenceng bicara isu PPP (Public Private Partnership). Dia bilang, oke bro dan he did it.

Apa sih hoaks yang langsung mengena ke milenial?
Ya kasus Ratna. Itu mengena milenial dan hoaks yang cukup membuat kredibilitas BPN terpengaruh. Walau bukan kita pelakunya.

Sebagai jubir, gue enggak komentar soal itu. Insting saja. Gue tahu mana bonyok beneran dan enggak.

Pertanyaan pilihan. Lo pilih post-truth atau post-modern?
Post-truth ya. Karena, apapun yang lo omongin, yang penting argumentasinya kuat. Era sekarang ya era post-truth.

Kebenaran jadi benar kalau argumentasinya masuk akal, apalagi di politik. Post-modern oke juga. Tapi isinya kritik dan kritik terus kan.

Bagaimana dengan kendaraan. Motor chopper atau kuda?
Kuda dong. Kuda itu dirawatnya serius. Lo kasih makanan dan dia makhluk hidup bos. Ada value menjaga makhluk hidup. Kalau motor kan mesin, barang mati. He-he.

Oke. Under Armour, Nike atau Izzy?
Bukan merek gue itu. Gue yang murah-murah saja. Baju gue ini cuma Rp100 ribu. Tapi, kalau ada duit, mungkin gue beli Under Armour.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR