GUNUNG BERAPI

Fenomena Anak Krakatau melumer di Selat Sunda

Erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau dari Pulau Rakata, Lampung, 18 Juli 2018.
Erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau dari Pulau Rakata, Lampung, 18 Juli 2018. | Ghazali /EPA-EFE

Gunung Anak Krakatau mulai tenang. Intensitas muntahan material vulkanik dari kantung magma terpantau menurun dalam beberapa hari terakhir.

Sepanjang Sabtu (12/1/2019), Gunung Anak Krakatau hanya mengalami enam kali kegempaan embusan, turun drastis dari pekan sebelumnya yang mencapai 43 kali kegempaan.

Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut sampai Minggu (13/1/2019) sekitar pukul 06.00 WIB, visual gunung kabut berada pada level 0-III.

Kabut tebal yang selama ini menyelimuti gunung tak tampak. Kondisi fisik Gunung Anak Krakatau pun semakin jelas dari udara.

James Reynolds, seorang dokumenter fenomena alam, adalah salah satu dari saksi mata yang menyaksikan perubahan fisik Gunung Anak Krakatau melalui pesawat nirawak yang diterbangkan dari Pulau Rakata (Krakatau Besar), Lampung.

Pemantauan James dimulai pada 10 Januari 2019. Ketika itu ia mengambil gambar Anak Krakatau dari kejauhan (di luar batas berbahaya 5 kilometer dari puncak gunung). Dari foto yang dibagikannya melalui akun Twitter @EarthUncutTV, terlihat fisik Anak Krakatau yang sudah "melumer".

Kawah baru atau kaldera terbentuk pada bagian tengah gunung, namun pada satu sisi kawah terlihat sedikit menyatu dengan perairan di sekitarnya. Bukan hanya itu, pada bagian tubuh Anak Krakatau juga terpantau sebuah retakan yang cukup besar. James menduga retakan tersebut sebagai saluran lava atau material vulkanik lainnya.

Selain kondisi fisik, perubahan lain yang jelas terlihat adalah kemunculan warna oranye kecokelatan pada perairan di sekitar lokasi muntahan material Anak Krakatau. Sementara, bagian perairan lain yang diduga tidak menjadi jalur muntahan tetap berwarna biru kehijauan.

Pada salah satu gambar yang dibuat James terlihat area pesisir pantai Gunung Anak Krakatau diselimuti oleh pasir hitam dan uap panas.

James turut merekam kondisi pepohonan di Pulau Krakatau Kecil yang seluruhnya hangus terbakar akibat semburan awan panas dari Gunung Anak Krakatau. Begitu juga dengan satu bagian pada Pulau Rakata dan Pulau Sertung yang diduga tersapu oleh tsunami.

Menanggapi laporan James, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho membenarkan bahwa fisik Anak Krakatau telah menyusut.

Sutopo menyebut saat ini tinggi Gunung Anak Krakatau hanya tinggal 110 meter di atas permukaan laut (mdpl) dari sebelumnya 338 meter. Sementara, luasannya saat ini mencapai sekitar 320 hektare.

Warna air laut yang berubah menjadi oranye dijelaskan Sutopo lantaran campuran hidrosida besi (FeOH3) yang keluar dari kawah dan larut ke dalam air laut.

Namun Sutopo memastikan fenomena ini hanya akan berlangsung sementara. Sebab, lama kelamaan campuran zat besi tinggi ini akan larut dan membuat air laut menjadi jernih kembali.

Satu hal yang ditekankan Sutopo, kendati erupsi Anak Krakatau sudah turun, namun statusnya tetap Siaga (Level III). Artinya, masyarakat tetap diminta untuk mewaspadai potensi aktivitas susulan yang tidak bisa diprediksi waktunya.

Thomas Giachetti, peneliti Ilmu Bumi Universitas Oregon, Amerika Serikat, mengingatkan pasca-longsoran terjadi di Anak Krakatau, terjadi interaksi eksplosif antara magma gunung berapi dan air di sekitarnya akibat letusan Surtseyan. Interaksi ini patut diwaspadai karena dalam membentuk kembali Anak Krakatau.

Dengan kata lain, meski saat ini Anak Krakatau terlihat sebagian "menghilang", namun potensi pembentukan tubuhnya masih mungkin terjadi.

Dalam laporannya yang ditayangkan KOMPAS.com, Thomas menjelaskan, tsunami yang disebabkan gunung berapi dapat dipicu oleh ledakan bawah laut atau aliran piroklastik besar yang berasal dari campuran panas gas vulkanik, abu, dan balok yang begerak dengan kecepatan puluhan kilometer per jam.

Penyebab lainnya adalah pembentukan kawah besar akibat runtuhnya atap kamar magma pasca-letusan. Pada Anak Krakatau, massa besar yang meluncur dengan cepat yang menghantam air menjadi penyebab kemunculan tsunami.

Jenis peristiwa ini biasanya sulit diprediksi karena sebagian besar massa yang meluncur berada di bawah permukaan air.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR