FENOMENA ALAM

Fenomena topi di puncak Semeru

Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. | Shaifulzamri /Shutterstock

Puncak Gunung Semeru tampak bertopi pada Senin (10/12/2018). Pemandangan ini menggegerkan masyarakat sekitar, foto-fotonya pun ramai tersebar di dunia maya.

Gunung yang berlokasi di Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, ini diselimuti kabut tebal membentuk caping pada puncaknya. Kabut tersebut merupakan kumpulan awan yang keluar dari kawah Jonggring Saloko.

Namun, kemunculan "topi" tersebut berlangsung singkat. Durasinya hanya sekitar 15-20 menit setelah pertama kali tampak pada 06.05 WIB. Setelah itu kabut memudar bersamaan dengan teriknya matahari pagi.

Aminudin, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) Karangploso, Malang, memberikan penjelasan. Menurutnya awan yang muncul di puncak gunung berketinggian 3.676 m dpl tersebut merupakan awan Altocumulus lenticularis (Ac len) atau yang lebih dikenal sebagai awan lentikularis.

"Awan ini terjadi akibat adanya gelombang gunung atau angin lapisan atas yang cukup kuat dari suatu sisi gunung yang kemudian membentuk turbulensi. Bisa di sisi gunung atau puncaknya," ujar Aminudin kepada detikcom, Senin (10/12).

Namun, alasan mengapa tiba-tiba terjadi di Semeru masih didalami lebih lanjut.

Hal ini juga diamini oleh keterangan dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui unggahan dalam status Instagram. Kendati jarang terjadi, fenomena ini disebutnya sebagai hal yang biasa.

"Tidak usah dikaitkan dengan mistis tanda akan ada musibah, politik atau jodoh seret," tulisnya di sana.

Karena itu pula, tak ada hal istimewa yang dilakukan. Jalur pendakian pun tetap dibuka seperti biasa.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), John Kennedie, mengatakan pendakian menuju puncak para dewa itu tak akan ditutup. Setidaknya sebelum jadwal pemulihan ekosistem rutin yang akan dilakukan pada Januari 2019.

"Betul mas. (Pendakian) lancar dan landai - landai saja mas," katanya seperti dikutip Kompas.com, Selasa (11/12).

Altocumulus lenticularis merupakan jenis Altocumulus dari kategori awan menengah. Kata altocumulus (A- Cu) berasal dari bahasa Latin, Altus, yang berarti tinggi dan cumulus yang berarti kumpulan. Awan ini kecil, tapi berjumlah banyak dan letaknya berdekatan satu sama lain.

Awan ini terbentuk akibat kenaikan air bermassa besar di ketinggian sedang yang diikuti oleh kondensasi tidak stabil. Setelah itu, terjadilah awan dengan bentuk yang tersusun lapisan atau terkadang menyebar dengan warna putih atau abu-abu.

Menurut Cloud Atlas, awan ini biasanya membentuk sebuah pola seperti lensa atau kacang almon. Lalu, pada tepinya akan tampak sangat rapi dan terdefinisi dengan baik.

Awan lentikularis ini biasanya dapat dilihat dengan mata telanjang dengan kondisi langit biru cerah dan matahari bersinar terik, tapi tak terlalu menyengat. Biasanya pada saat matahari baru terbit atau ketika akan tenggelam.

Selain lentikularis, altocumulus memiliki enam jenis awan turunan lainnya. Masing-masing Altocumulus translucidus (CM=3), Altocumulus opacus (CM=5), Altocumulus cumuloginitus (CM=6), Altocumulus castellatus (CM=8), Altocumulus pilus (CM=7), dan Altocumulus Percipitans (CM=9).

Penampakannya di puncak Semeru bukan yang pertama terjadi di Indonesia. Beberapa peristiwa sempat tercatat, salah satunya pada awal tahun ini di langit Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada 27 Januari, seperti dilansir Kumparan.

Pada kemunculannya, awan ini berbentuk seperti piringan UFO dan sempat menimbulkan kekhawatiran akan datangnya bencana seperti angin puting beliung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR