Foto historis perempuan Indonesia memicu sengketa soal sensor Facebook

Seorang petugas kebersihan, memotong rumput di depan kantor pusat Facebook, Menlo Park, California, AS (31 Januari 2012).
Seorang petugas kebersihan, memotong rumput di depan kantor pusat Facebook, Menlo Park, California, AS (31 Januari 2012). | Peter Dasilva /EPA
Catatan redaksi: Artikel ini memuat materi yang mungkin dirasa tak patut oleh sebagian orang. Materi tersebut disematkan guna memberikan konteks yang lengkap dalam artikel. Mohon disikapi dengan bijak.

Pengguna Facebook asal Indonesia, Dea Safira Basori, mempertanyakan kebijakan sensor di layanan jejaring sosial nomor wahid itu.

Selasa (23/2/2016), Dea mendapati akun Facebook-nya ditangguhkan (baca: dihapus, kemungkinan untuk sementara waktu), setelah memublikasikan album foto bertajuk "The Culture of Real Indonesian Women". Album itu memuat foto-foto historis perempuan Indonesia.

Adapun Facebook mengangap foto-foto itu melanggar aturan mereka seputar "ketelanjangan" dan "eksplisit secara seksual".

Melalui sambungan telepon, Dea menuturkan cerita seputar kasus ini kepada Beritagar.id.

Perempuan berusia 23 tahun itu semula ingin merespons sensor, yang diterapkan dalam tayangan Puteri Indonesia 2016, di Indosiar, Minggu (21/2). Dalam tayangan itu, penampilan para finalis yang mengenakan kebaya mesti kena sensor.

Dea menilai sensor itu sebagai sesuatu yang berlebihan, sebab kebaya merupakan bagian dari kultur Indonesia. Sebagai bentuk kritik, Dea tergugah menampilkan kultur berpakaian perempuan Indonesia pada masa lampau --disebutnya juga sebagai masa "sebelum sensor merajalela".

Ia pun mulai melakukan pencarian di mesin pencari dengan kata kunci "Indonesian Woman Old Photo". Pencarian itu membawanya pada sejumlah foto historis perempuan Indonesia, dari Bali, Jawa, Kalimantan, hingga Makassar.

Beberapa foto di antaranya menampilkan perempuan yang bertelanjang dada. Gambaran macam itu memang bisa dengan mudah ditemukan di mesin pencari Google.

"Beberapa teman mengingatkan soal kemungkinan disensor Facebook atau dilaporkan pengguna lain. Tapi saya justru ingin tahu batasan sensor Facebook," kata Dea.

Foto-foto itu dipublikasikannya di Facebook, Senin malam (22/2). Sebelum akun Dea ditangguhkan, album foto itu sempat viral, hingga mendekati angka 3.000 kali di-share (dibagikan kembali).

Belakangan, Dea mengirim surel guna mempertanyakan keputusan Facebook tersebut. "Saya kira, foto-foto sejarah yang telah saya kumpulkan sejauh ini merupakan aspek berharga dari kepingan sejarah Indonesia. Dan itu tidak dibuat untuk tujuan pornografi, cabul, atau skandal," demikian petikan argumen Dea dalam surelnya.

Kepada Beritagar.id, mahasiswi kedokteran gigi itu juga menegaskan bahwa yang dilakukannya semata-mata untuk tujuan pendidikan.

"Foto-foto itu untuk menunjukkan aspek sosial dan sejarah masyarakat Indonesia. Sekaligus ingin membuka mata sebagian orang yang mulai dipengaruhi pandangan ekstrem agama. Saya ingin orang tahu, inilah budaya Indonesia," ujar perempuan Jawa itu.

Adapun "Standar Komunitas" milik Facebook, memang melarang konten yang memuat ketelanjangan. Namun, Facebook masih mengizinkan konten macam itu bila dibagikan untuk tujuan tertentu --termasuk untuk kepentingan pendidikan.

"Pembatasan dalam penampilan ketelanjangan dan aktivitas seksual juga diterapkan terhadap konten yang dibuat secara digital, kecuali konten tersebut dikirim untuk tujuan pendidikan, humor, atau satire," begitu petikan "Standar Komunitas" Facebook.

Selama ini, penghapusan konten di Facebook juga bersandar pada pelaporan pengguna. Boleh jadi hal itulah yang terjadi terhadap Dea. Akunnya dilaporkan pengguna lain, karena dianggap membagikan konten yang melanggar standar komunitas Facebook.

Di sisi lain, sejumlah netizen juga menyuarakan pembelaan terhadap Dea. Mereka turut mempertanyakan keputusan Facebook menangguhkan akun Dea.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR