Gafatar tak terbukti melakukan makar

Terdakwa kasus makar dan penodaan agama yang juga pimpinan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Abdussalam alias Ahmad Musadeq (tengah) bersama Andry Cahya (kanan) dan Mahful Muis Tumanurung (kiri) berdiri di ruang sidang sebelum mendengarkan sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (7/3).
Terdakwa kasus makar dan penodaan agama yang juga pimpinan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Abdussalam alias Ahmad Musadeq (tengah) bersama Andry Cahya (kanan) dan Mahful Muis Tumanurung (kiri) berdiri di ruang sidang sebelum mendengarkan sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (7/3). | M Agung Rajasa /ANTARA FOTO

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menyatakan kegiatan yang dilakukan para mantan petinggi Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara); Ahmad Musadeq, Mahful Muis Tumanurung dan Andry Cahya bukanlah makar.

"Dari seluruh saksi dan terdakwa tidak ada yang berbicara tentang menggulingkan pemerintah. Hanya bicara organisasi. Atas fakta tersebut tidak bisa disebut sebagai kejahatan makar," kata Ketua Majelis Hakim PN Jakarta Timur Muhamad Sirad dalam agenda sidang pembacaan putusan di PN Jaktim, Selasa (7/3/2017) seperti ditulis Antaranews.com.

Majelis hanya menjatuhkan vonis bersalah karena ketiga orang itu terbukti melakukan penodaan agama sebagaimana diatur dalam Pasal 156a huruf a KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 Ayat 1 KUHP.

Karenanya, majelis hakim menjatuhkan vonis lima tahun kepada pendiri organisasi ini Ahmad Musadeq alias Abdussalam dan Ketua Umum Gafatar Mahful Muis Tamanurung. Sedangkan Andry Cahya dijatuhi hukuman penjara tiga tahun dipotong masa tahanan.

Vonis yang dijatuhkan kepada ketiga orang itu lebih rendah dari tuntutan jaksa. Dalam tuntutannya, jaksa menuntut Musadeq dan Mahful Muis hukuman 12 tahun penjara. Sedangkan Andry yang juga anak Musadeq dituntut 10 tahun penjara.

Nama Gafatar sempat mencuat pada awal 2016 setelah ada kasus hilangnya dokter Rica Tri Handayani bersama anaknya. Dokter Rica yang saat itu sedang mengikuti suaminya ambil spesialis di Yogyakarta dilaporkan hilang bersama anaknya sejak 30 Desember 2015 dan ditemukan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Senin (11/1/2016).

Kala itu Rica tiba-tiba menghilang dan hanya meninggalkan secarik kertas berisi tulisan minta izin ke suaminya untuk berjuang di jalan Allah.

Nama Gafatar disebut-sebut terlibat setelah suami Rica, dokter Aditya Akbar Wicaksono memberikan keterangan kepada polisi Yogyakarta.

Kepada polisi, Aditya mengungkapkan Rica sudah aktif bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara Yogyakarta sejak kuliah.

"Benar, dr Rica dulu sempat aktif sebagai anggota Gafatar saat masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di sini (Yogyakarta)," kata Direskrimum Polda DIY, Komisaris Besar Hudit Wahyudi dikutip Merdeka.com.

Gafatar dituding sebagai perpanjangan dari sekte Al-Qiyadah al Islamiyah, Komunitas Millah Abraham (Komar), pimpinan nabi palsu Ahmad Musadeq.

Organisasi ini juga dituding menyebarkan ajaran sesat. Dalam kajian yang dilakukan MUI, Gafatar terbukti telah mencampur ajaran tiga agama yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Musadeq pada 2007 juga telah dianggap sesat lantaran mengaku sebagai nabi setelah Muhammad SAW lewat ajarannya al-Qiyadah al-Islamiyah.

MUI Pusat mengeluarkan fatwa bahwa Gafatar sesat setelah melakukan kajian menyeluruh. Atas dasar itu, MUI kemudian mengeluarkan fatwa sesat kepada organisasi ini.

Tak lama setelah fatwa MUI ini, pemerintah juga melarang organisasi ini. Larangan itu dikeluarkan oleh Kejaksaan Agung, Menteri Dalam Negeri, dan Kementerian Agama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR