Garam langka, garam naik harga

Petani panen perdana garam pada musim olah tahun ini di Desa Tanjung, Pademawu, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (5/7).
Petani panen perdana garam pada musim olah tahun ini di Desa Tanjung, Pademawu, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (5/7).
© Saiful Bahri /Antara Foto

Pentingnya posisi garam dalam masyarakat Indonesia terekam lewat, salah satunya, ibarat atau peribahasa.

Orang yang kaya pengalaman disebut dengan tamsil "banyak menelan garam hidup" atau "kenyang makan garam". Jika Tuan pandai menyimpan rahasia, bolehlah petitih "garam di kulumnya tak hancur" melekat pada diri Anda. Satu lagi: "menambak gunung, menggarami laut", yakni memberi pertolongan kepada orang yang sama sekali tak perlu dibantu.

Tapi muskil mengemut tanpa melumatkan, dan mudah menemukan laut tawar yang mungkin tak butuh digarami (coba melancong ke Aceh dan menyambangi Danau Laut Tawar di kawasan Dataran Tinggi Gayo).

Kompas.com pernah melansir berita mengenai pernyataan mantan direktur utama PT Garam (Persero), R. Achmad Budiono, mengenai impor garam Indonesia pada 2016 sebesar 3 juta ton, bertambah dari 2015 yang tercatat 2,1 juta ton.

Dia bilang, 1,7 juta ton dari angka dimaksud ditujukan untuk industri kimia, sedangkan industri pangan berkisar 350.000 ton-400.000 ton per tahun.

"Kalau garam konsumsi, relatif kami sudah bisa swasembada, sedangkan untuk garam industri kami belum mampu menutupinya sehingga masih impor. Setiap tahun kebutuhan industri yang memerlukan bahan garam semakin meningkat," katanya, Kamis (25/8/2016).

Dalam hemat Budiono--sosok yang pada Juni lalu diberhentikan karena diduga menyelewengkan pengadaan garam impor--Indonesia sudah swasembada garam konsumsi sejak 2012. Namun, garam industri kimia dan industri pangan masih diimpor dari dua negara yakni Australia dan India.

Swasembada beberapa tahun silam toh tak serta-merta menjadikan harga benda niaga itu rendah. Tengok kondisi di Malang, Probolinggo, dan Sumenep--ketiganya bagian dari Jawa Timur dan berlokasi tak jauh dari sentra produksi garam. Harga garam di sana beberapa hari belakangan naik.

"Kita kesusahan cari garam, kita sudah cari distibutor lain tidak ada semua bilang kosong. Semua jenis garam kosong baru kali ini saya kekurangan stok garam selama berjualan hampir 10 tahun lebih," kata Muhamad Sulkan, seorang pedagang di Pasar Besar Kota Malang, dinukil VIVA.co.id, Selasa, (11/7), menyiratkan pangkal penyebab kenaikan harga.

Akibat pasokan terbatas, harga melambung dari Rp1.500 menjadi Rp5.000 untuk garam halus. Untuk garam kasar, harga berubah dari Rp2.500 menjadi Rp6.000.

Kepada VIVA.co.id, Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang, Wahyu Setianto, pun membenarkan kelangkaan pasokan garam di pasar-pasar Kota Malang sejak Idulfitri.

"Kita sudah melakukan pemantauan ke beberapa pasar memang langka. Saat ini kita sedang mempertanyakan ke distributor penyebab kelangkaan. Karena aneh jika Indonesia yang dikelilingi lautan garam kok justru langka," ujarnya.

Harga garam di Kabupaten Probolinggo juga naik karena stok menipis, begitu lansir Metrotvnews.com, Kamis (6/7). Di daerah tersebut, harga berubah dari Rp1.000 per kilogram menjadi Rp2.800-Rp4.000 per kilogram.

Menipisnya persediaan disebabkan beberapa petani mengalami gagal panen selama beberapa pekan terakhir karena cuaca ekstrem. Saat musim kemarau terkadang masih turun hujan," ujar Ketua Kelompok Tani Garam 'Kalibuntu Sejahtera I', Suparyono, di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Probolinggo.

Menurut Suparyono, level harga itu terukur cukup tinggi dalam setahun terakhir. "Dengan harga sekarang, petani garam mendapatkan keuntungan berlipat-lipat," lanjutnya.

Dia juga sempat bercerita mengenai metode kelompoknya menerapkan teknologi Geomembran atau media alas plastik LDPE (Low Density Polyethylene) demi memaksimalkan produksi garam. Ketimbang metode tradisional, cara baru mendongkrak produksi dengan signifikan.

"Produksi garam untuk media tanah biasanya menghasilkan sekitar 60-70 ton per hektare per musim panen. Sedangkan, dengan teknologi Geomembran dapat menghasilkan hingga 120 ton per hektare per musim panen," katanya.

Harga garam di Sumenep, salah satu daerah terbesar penghasil garam rakyat, mengikuti tren kenaikan pula. Kini, per kilogram kristal asin itu dihargai Rp3.000, yang terhitung tinggi ketimbang musim kemarau tahun-tahun berlalu.

"Tingginya harga garam ini terjadi dalam waktu seminggu terakhir. Kami juga tidak tahu apa penyebabnya, tapi yang jelas stok di petani memang masih sedikit, mungkin itu yang menjadi penyebabnya," kata pemilik lahan garam di Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Sumenep, H Ubaidillah, Selasa (11/7), dikutip PortalMadura.com.

Menurutnya, para petani garam di lingkungannya berlomba-lomba memanen garam lebih awal agar bisa menikmati harga tinggi. Akibatnya, kualitas garam sangat rendah dan panen sangat sedikit.

Pada awal Juli, Kabupaten Sumenep masih menerima hujan sehingga proses produksi garam terganggu.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.