Sutradara Garin Nugroho saat ditemui di sebuah tempat makan bilangan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu sore (8/5/2019).
Sutradara Garin Nugroho saat ditemui di sebuah tempat makan bilangan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu sore (8/5/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
FILM INDONESIA

Garin Nugroho: Percuma FPI bubar jika film masih dihakimi di jalanan

Ia terkejut film Kucumbu Tubuh Indahku terpilih mewakili Indonesia di ajang Academy Awards. Padahal film itu masih kontroversi dan pemutarannya disabotase di Semarang.

Nama Garin Nugroho kembali jadi sorotan baru-baru ini. Pertama, film besutannya: Kucumbu Tubuh Indahku terpilih mewakili Indonesia pada ajang Oscar. Kedua, film tersebut lagi-lagi ditolak diputar. Kali ini di Semarang.

Ini bukan yang pertama film tersebut didera penolakan. April lalu, ada petisi yang menolak film penari lengger itu disebar penayangannya. “Sebab itu, keputusan berani memilih Kucumbu Tubuh Indahku mewakili Indonesia di Oscar,” kata Garin Nugroho saat wawancara melalui telepon Selasa malam (17/9/2019).

Film itu akan mewakili Indonesia untuk kategori International Feature Film atau yang dulu dikenal dengan Best Foreign Language Film. Kucumbu akan bersaing dengan film seperti Parasite dari Korea Selatan dan Weathering With You dari Jepang.

Berikut tanya jawab dengan pria berusia 58 ini tentang peluang filmnya di ajang Oscar dan sikap dia terhadap penolakan filmnya--yang sudah diputar di 30 festival film seluruh dunia itu:

**-**

Bagaimana peluang film Anda untuk bisa lolos jadi nominasi Oscar?
Saya ndak pernah berpikir peluang. Tujuan saya membuat film bukan mencari peluang. Tetapi untuk membuka seluas-luasnya kemerdekaan berpikir. Itu jauh lebih penting.

Anda mengikuti proses seleksi film Kucumbu Tubuh Indahku sampai akhirnya terpilih?
Aku malah gak tahu. Mungkin produser (Ifa Isfansyah) yang tahu. Dia yang ikuti prosesnya.

Tapi waktu menang, saya ditelepon Christine Hakim (Ketua Komite Film Indonesia) dan dia mengucapkan selamat. Saya terima kasih kepada komite, juga mengapresiasi dan senang.

Anda terkejut atas terpilihnya film itu yang di dalam negeri masih jadi kontroversi?
Menurut aku itu keputusan berani dan mengejutkan ya. Berani karena itu tema sensitif.

Tapi sikap ini juga menunjukkan perlawanan terhadap cara-cara penghakiman lewat medsos dan jalanan terhadap film.

Masih saja ya film ini ditolak. Terakhir pada sebuah acara di Semarang…
Karena budaya penghakiman massa belum hilang. Jadi jika FPI (Front Pembela Islam) dibubarkan pun, rasanya percuma, karena tetap saja film-film itu dihakimi di jalanan dan di medsos.

Secara de jure mungkin mereka bubar, tapi secara de facto masih saja berkeliaran.

Indonesia tetap kirim film ke Oscar ya meski selama ini belum pernah masuk nominasi?
Pencapaian pembuat film kan bukan itu. Saya menghargai film Parasite dan Weathering With You yang juga masuk di kategori sama.

Tapi membuat film itu adalah statement pribadi, seperti menyatakan sesuatu dan bukan soal penghargaan atau apa.

Tapi kalau masuk nominasi Oscar merupakan achievement dong buat Anda?
Ini bukan semata Oscar. Pencapaian orang juga beda-beda saya rasa. Kalau saya, lebih cocok dengan karakter film-film Eropa.

Saya lebih condong ke sana. Ya ini dua kali film saya terpilih mewakili Indonesia. Sebelumnya film Daun di Atas Bantal.

Ada 42 film yang diseleksi oleh komite bentukan produser film indonesia. Komite kemudian memilih film Anda untuk ajang Oscar…
Lebih penting dari itu, film-film Indonesia periode lima tahun belakangan itu bagus-bagus. Film indi banyak bermunculan dan varian. Lihat saja film Gundala.

Kepahlawanan lokal yang bisa jadi global. Joko Anwar itu punya kemampuan pop dan artistik yang baik. Jarang orang memiliki dua kombinasi itu.

Apakah film Gundala sesuai ekspektasi Anda?
Saya senang melihatnya. Karena unsur-unsur di dalamnya amat mewakili industri kreatif saat ini.

Anda tertarik membuat film superhero?
Tergantung. Kalau skenarionya bagus, saya tertarik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR