INDUSTRI PENERBANGAN

Garuda pangkas harga tiket, saham jadi korban

Pesawat miliki maskapai Garuda Indonesia tengah parkir di halaman Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 28 April 2017.
Pesawat miliki maskapai Garuda Indonesia tengah parkir di halaman Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 28 April 2017. | Mast Irham /EPA

Keluhan konsumen serta imbauan pemerintah ditangkap Garuda Indonesia Group. Per Kamis (14/2/2019), maskapai pelat merah ini memangkas tarif tiket pesawat untuk seluruh rute penerbangannya sebesar 20 persen.

Pemangkasan berlaku untuk semua lini, baik layanan full service yakni Garuda Indonesia, maupun low cost carrier (LCC) Citilink Indonesia dan Sriwijaya Air-NAM Air Group.

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra dalam keterangan resminya menyatakan keputusan pemangkasan ini telah melalui sinergi intensif bersama seluruh pemangku kepentingan, termasuk di antaranya Kementerian Perhubungan dan Indonesia National Air Carrier Association (INACA).

Askhara turut menjamin, langkah ini bakal menjadi komitmen berkelanjutan perseroan dalam memberikan layanan penerbangan yang berkualitas melalui tarif tiket yang kompetitif. Untuk itu dirinya berharap akses masyarakat terhadap layanan transportasi udara dapat semakin terbuka luas lewat kebijakan ini.

“Penurunan ini juga dalam rangka mendukung upaya peningkatan sektor perekonomian nasional, khususnya yang menunjang pertumbuhan sektor pariwisata, UMKM, hingga industri nasional lainnya,” kata Askhara, Kamis (14/2/2019).

Keluhan mahalnya harga tiket Garuda Indonesia dituding sebagai salah satu penyebab lesunya pertumbuhan pariwisata di Indonesia.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani pada Senin (11/2/2019) malam, mengaku sangat terpukul dengan kebijakan Garuda Indonesia yang menghilangkan tiket promonya.

Dari prediksinya, tingkat hunian kamar hotel berbintang bakal stagnan pada kisaran 55 persen pada tahun ini. Bahkan, persentase itu bisa turun drastis menjadi kisaran 40 persen jika harga tiket pesawat terus melambung tinggi.

Kehadiran maskapai alternatif seperti milik Lion Air Group dinilai Hariyadi tidak memberi kontribusi yang signifikan. Sebab, Lion Air belakangan juga menerapkan kebijakan serupa, yakni memberlakukan kebijakan bagasi berbayar.

Keluhan Hariyadi itu disampaikan langsung di hadapan Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Ujungnya, Jokowi memanggil seluruh jajaran kementerian terkait berikut dengan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas persoalan ini.

Di sisi lain, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan bahwa pemerintah tidak memiliki andil dalam menentukan harga tiket. Hal ini lantaran penentuan harga tiket merupakan hak penuh maskapai.

Kendati demikian, pihaknya telah mengirimkan imbauan kepada Garuda Indonesia untuk menyesuaikan harga tiketnya agar lebih rasional bagi kantong kebanyakan masyarakat.

Saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (13/2/2019), Budi mengaku memberi tenggat kepada Garuda Indonesia untuk menyesuaikan tarifnya pada pekan ini.

Ada alasan mengapa Budi memberi imbauan penurunan kepada Garuda Indonesia, bukan Lion Air. Menurutnya, jika Garuda Indonesia menurunkan tarif tiketnya, maka peluang maskapai lain mengikuti semakin besar.

“Mestinya diikuti penerbangan lain karena Garuda adalah penerbangan yang utama. Kondisi ini yang membuat Garuda menjadi market leader,” kata Budi.

Belum diketahui apakah Lion Air bakal menyusul langkah Garuda Indonesia. Beritagar.id telah menanyakan perihal ini kepada pihak Lion Air namun belum mendapat respons dari yang bersangkutan.

Margin perseroan berstatus awas

Keputusan Garuda memangkas harga tiketnya tak bisa menyenangkan semua pihak. Investor maskapai dengan kode emiten ini GIAA bereaksi. Harga saham Garuda langsung melecit ke zona merah seiring pengumuman pagi tadi.

Bloomberg Index mencatat GIAA tersungkur 5,88 persen pada sesi pertama perdagangan. GIAA dibuka pada level 448 dari penutupan sebelumnya, Rabu (13/2/2019), sebesar 476.

Padahal sepanjang 2019, performa GIAA tergolong ciamik dengan berhasil naik perlahan dari stagnasi selama enam bulan ke belakang. Total kapitalisasi pasar yang berhasil dibukukan perseroan mencapai Rp11,6 triliun.

Performa saham bukan satu-satunya hal yang harus diwaspadai. Kepala Riset PT Samuel International Harry Su melihat kebijakan ini juga bakal menekan margin perseroan yang belum berhasil bangkit dari keterpurukan.

GIAA mencatatkan kenaikan beban operasional penerbangan 8,86 persen dari $1,86 miliar AS hingga akhir September 2017 menjadi $2,02 miliar AS hingga akhir September 2018.

Selain itu, beban pemeliharaan dan perbaikan naik menjadi $345,23 juta AS hingga akhir kuartal III 2018. Beban bandara naik menjadi $301,64 juta AS hingga akhir kuartal III 2018 dari periode sama tahun sebelumnya.

Beban usaha tiket, penjualan dan promosi turun menjadi $234,44 juta AS hingga akhir September 2018 dari periode sama tahun sebelumnya $236,86 juta AS. Namun, perseroan mampu menekan beban administrasi dan umum dari $248,49 juta AS hingga akhir September 2017 menjadi $170,05 juta AS hingga akhir September 2018.

GIAA mencetak kerugian selisih kurs dari $16,03 juta AS hingga akhir September 2017 menjadi $52,35 juta AS hingga akhir September 2018.

Direktur Utama Lion Air Edward Sirait pernah berujar, dunia penerbangan tengah mengalami masa-masa terberat sejak 2016. “Berat, gak ada yang gak berat. Semua rugi, gak ada airlines di Indonesia setau saya yang untung,” katanya, dikutip dari Liputan6.com, 15 Januari 2019.

Ruang gerak pertumbuhan bisnis maskapai ditopang oleh nilai tukar rupiah yang tidak stabil hingga harga bahan bakar pesawat yang terus menerus naik.

Untuk diketahui, bisnis penerbangan memiliki beberapa variabel biaya pengeluaran yang sebagian besarnya dibayar dengan dolar AS.

Sementara, masyarakat membeli tiket menggunakan rupiah. Lalu ada komponen pembayaran leasing (sewa) pesawat yang umumnya berasal dari Eropa dan AS. Alhasil, ada selisih biaya kurs yang cukup tinggi.

“Tahun 2016 ya masih bisa senyum, 2018 gigit jari. Intinya berat..Walaupun secara total penumpang nasional tumbuh, tetapi airlines tetap gak bisa naikin yield, makanya teriak semua,” tukas Edward.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR