Gatot dihukum penjara 3 tahun, istrinya 2,5 tahun

Gubernur Sumatera Utara nonaktif Gatot Pujo Nugroho memberikan kesaksian dalam sidang terdakwa kasus suap APBD Sumatera Utara di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (2/3/2016).
Gubernur Sumatera Utara nonaktif Gatot Pujo Nugroho memberikan kesaksian dalam sidang terdakwa kasus suap APBD Sumatera Utara di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (2/3/2016). | Sigid Kurniawan /Antara Foto

Gubernur Sumatera Utara nonaktif, Gatot Pujo Nugroho dihukum penjara tiga tahun dalam kasus suap terhadap hakim di Medan, Senin (14/3/2016). Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi juga menjatuhkan vonis hukuman 2,5 tahun penjara kepada istri muda Gatot, Evy Susanti.

Gatot dan Evy telah terbukti memberikan suap kepada Hakim serta Panitera PTUN Medan. Keduanya juga terbukti telah memberikan suap Rp200 juta kepada Patrice Rio Capella mantan Sekretaris Jenderal Partai NasDem dan anggota Komisi lll Dewan Perwakilan Rakyat.

"Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi," kata Ketua Majelis Hakim, Sinung Hermawan dilansir Viva.co.id.

Vonis terhadap Gatot dan istri mudanya itu lebih ringan ketimbang tuntutan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi. Gatot dituntut hukuman penjara 4,5 tahun sedangkan Evy 4 tahun.

Dalam dakwaannya, jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkap permufakatan antara Gatot dengan tim pengacara OC Kaligis sehingga berbuntut rasuah kepada hakim PTUN Medan. Kaligis telah dihukum penjara 5 tahun 6 bulan.

Permufakatan Gatot dan tim pengacara Kaligis terjadi ketika Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara memanggil Ahmad Fuad Lubis (Kepala Biro Keuangan Pemprov Sumut) dan Sabrina (Plh Sekda Sumut), untuk penyelidikan kasus dugaan korupsi dana Bansos, BDB (Bantuana Dana Bawahan), BOS dan DBH (Dana Bagi Hasil). Dalam surat panggilan itu, nama Gatot Pujo tertulis sebagai pelaku.

Upaya Kejaksaan memanggil Fuad Lubis berusaha digagalkan oleh Gatot karena khawatir ikut diseret kasus. Pertemuan intensif Gatot dan pengacara Kaligis dilakukan untuk menyusun rencana menggagalkan upaya penyidikan. OC Kaligis membentuk tim untuk menangani kasus Gatot, salah satu anggota tim adalah M Yagari Bastara Guntur alias Gary.

Gatot melalui Gary akhirnya menggelontorkan uang USD27 ribu dan 5 ribu dolar Singapura kepada hakim PTUN Medan yakni Tripeni Irianto Putro, Dermawan Ginting dan Amir Fauzi serta panitera Syamsir Yusfan.

Uang tersebut diberikan dalam beberapa kesempatan sebelum dan sesudah keputusan hakim PTUN Medan. Pada 7 Juli 2015, hakim mengeluarkan amar putusan yang menyatakan upaya pemanggilan dari kejaksaan merupakan bentuk penyalahgunaan wewenang.

Gatot dan Evy juga didakwa menyuap Patrice Rio Capella yang kala itu menjabat anggota Komisi III DPR RI periode 2014-2019 dan Sekretaris Jenderal Partai NasDem (2013-2015). Gatot dan Evy didakwa telah memberikan uang sebesar Rp200 juta kepada Rio melalui anak buah Kaligis, Fransisca Insani Rahesti.

Duit tersebut diberikan agar Rio dapat mempengaruhi pejabat Kejaksaan Agung sebagai mitra kerja Komisi III DPR. Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis 1,5 tahun kepada Patrice Rio Capella, Senin (21/12/2015) lalu.

Menanggapi vonis tersebut, Gatot dan Evy mengatakan pasrah dan tak akan mengajukan banding. "Saya beserta istri setelah berdiskusi dengan penasihat hukum, dengan permohonan maaf kepada masyarakat Sumatra Utara, kami menerima putusan hakim," kata Gatot dikutip CNN Indonesia.

BACA JUGA