KRIMINALITAS

Geger penculikan dan pencabulan anak di Kendari

Terduga pelaku penculikan dan pencabulan anak (tengah) berhasil diringkus di hutan Nanga-nanga di pinggiran kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (1/5/2019).
Terduga pelaku penculikan dan pencabulan anak (tengah) berhasil diringkus di hutan Nanga-nanga di pinggiran kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (1/5/2019). | Akbar /untuk Beritagar.id

Dalam sepekan terakhir, kota Kendari di Sulawesi Tenggara geger oleh kasus penculikan dan pencabulan anak di bawah umur. Menurut data Polres Kendari, sudah tujuh anak menjadi korban penculikan dan pencabulan -- satu di antaranya luput.

Kasus penculikan ini mulai terekam media pada Jumat (26/4/2019). Dua anak dari Kelurahan Kemaraya, Kecamatan Kendari Barat, ditemukan warga dalam kondisi berdarah-darah.

Awalnya, kedua anak ini hendak ke apotek di bilangan Kemaraya. Namun di jalan, korban ditemukan pelaku. Dengan dalih teman ayah mereka, pelaku mengajak keduanya jalan-jalan hingga dicabuli.

Keesokan hari, kasus serupa juga menimpa anak dari Kecamatan Poasia. Ia diculik saat berada di pasar. Modusnya juga sama; pelaku mengaku sebagai teman orang tua korban.

Terakhir, Polres Kendari menerima laporan tentang hilangnya beberapa anak saat pulang sekolah, Senin (29/4), sekitar pukul 15.30 WITA. Kapolres Kendari, AKBP Jimi Junaedi, menyebut modus pelaku adalah menjemput anak sebagai keluarga.

Setelah pelaku berhasil meyakinkan anak tersebut, pelaku membawa anak tersebut ke daerah sunyi. Korban terakhir dibawa ke hutan Nanga-Nanga.

"Di tempat itulah korban dicabuli," jelas Jimi.

Dari kasus terakhir itu lantas polisi mengejar pelaku. Dan di tengah jalan, polisi berpapasan dengan pelaku yang mengendarai motor sambil membonceng korbannya.

Mengetahui ada polisi, pelaku meninggalkan motor di pinggir jalan dan lari ke dalam hutan Nanga-nanga. Sejak kemarin malam, polisi dibantu TNI melakukan pengejaran.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Dandim 1417/Kendari dan Denpom untuk bersama-sama mengejar dan menangkap pelaku," kata mantan Kapolres Konawe itu.

Pelakunya TNI disersi

Polisi merasa perlu melibatkan TNI karena terduga pelaku adalah mantan prajurit tentara. Aparat pun sudah mengantongi indentitas sang terduga pelaku.

Dandim 1417/Kendari, Letkol Fajar Lutvi Haris Wijaya, mengatakan terduga pelaku adalah AP yang meninggalkan dinas ketentaraan sejak tahun lalu atau disersi dari Yonif 725/Woroagi.

"Jadi AP berpangkat prada dan sudah keluar dari kesatuan sejak satu tahun yang lalu serta tidak tercatat lagi sebagai prajurit," kata Fajar, Senin (29/4).

Pihaknya merasa perlu ikut mengejar terduga pelaku sebagai bentuk kewajiban moral terhadap korban. Institusi TNI juga telah menyebarkan foto pelaku yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Kapolres Kendari mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan terhadap keselamatan anak-anaknya. Tentu orang tua menjadi resah dengan kehebohan ini, sehingga polisi akan berupaya menjaga keamanan di wilayah hukum Polres Kendari.

"Kepada orang tua dan guru agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak baik di sekitar rumah maupun di sekolah. Jika di sekolah, alangkah baiknya dari keluarga atau orang tua. Jangan percayakan siapa pun karena modus pelaku ini membujuk korban bahwa dia adalah keluarganya," tutupnya.

Adapun upaya aparat keamanan untuk mengejar pelaku pun akhirnya tuntas. Rabu (1/5), aparat gabungan berhasil menangkap AP di sekitar hutan Nanga-Nanga.

Dilaporkan detikcom, penangkapan itu menghebohkan warga yang bermukim di sekitar Lorong Jati Raya. Warga pun berusaha menghakimi AP sehingga aparat terpaksa melepas tembakan ke udara untuk membubarkan massa.

Letkol Fajar mengatakan pelaku sempat bersembunyi di bawah kolong rumah warga sebelum ditangkap. "...sempat bersembunyi di bawah kolong cucian rumah warga," kata Fajar, Rabu (1/5).

Catatan redaksi: Artikel telah mengalami perbaikan pada Jumat (3/5/2019) pada paragraf ke-12.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR