KERUSUHAN PAPUA

Gelombang eksodus warga Wamena belum berhenti

Prajurit TNI mendata warga yang akan meninggalkan Wamena menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU di Bandara Wamena, Jayawijaya, Papua, Selasa (1/10/2019).
Prajurit TNI mendata warga yang akan meninggalkan Wamena menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU di Bandara Wamena, Jayawijaya, Papua, Selasa (1/10/2019). | Iwan Adisaputra /Antara Foto

Gelombang eksodus warga Wamena dari kota itu masih terus terjadi hingga hari ini, Kamis (3/10/2019). Atas dasar alasan keamanan, mereka meninggalkan kota yang terletak di Kabupaten Jayawijaya, Papua, tersebut.

Dalam pantauan Kumparan.com, puluhan warga di sana terlihat keluar dari Wamena dan transit di I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, pada siang ini. Mereka meninggalkan Wamena dengan menggunakan pesawat Hercules C130 milik TNI.

Sebelumnya, menurut Gubernur Sumatra Utara (Sumut), Edy Rahmayadi, hingga hari ini total ada 80 warganya yang meninggalkan kota tersebut. Itu pun yang terhitung baru di Rindam XVII Cenderawasih, Sentani. Belum di kota atau tempat lainnya.

Semua jumlah tadi merupakan bagian kecil saja dari warga Wamena yang ingin meninggalkan kotanya. Menurut Kepala Penerangan I Gusti Ngurah Rai, Kapten Sus Dani Kusdani, masih ada ribuan warga lainnya yang ingin meninggalkan Wamena.

Dani mengungkapkan, berdasarkan data yang dia peroleh, ada sekitar sembilan ribu warga dari berbagai provinsi tengah menunggu jadwal eksodus. Mereka kini mengungsi di Kodim, Polres dan Bandara di Wamena.

"Masih ada 9.000 orang di Wamena," ungkap Dani. Total, hingga Selasa (1/10), warga yang meninggalkan Wamena melalui TNI AU mencapai 6.520 orang. Mayoritas dari jumlah itu adalah perantau ke Wamena.

Masih banyaknya warga yang ingin meninggalkan Wamena ini seperti memberi gambaran bahwa imbauan pemerintah belum berhasil. Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah, baik di tingkat pusat mau pun daerah, menyarankan warga tak meninggalkan Wamena.

Seperti yang dilakukan Presiden Joko "Jokowi" Widodo pada Senin (30/9) kemarin. "Kita imbau agar masyarakat tidak keluar dari Wamena, karena aparat keamanan sudah bisa mengamankan," kata Jokowi, seperti yang dikutip dari CNN Indonesia.

Pun, apa yang disampaikan oleh Bupati Jayawijaya, John Richard Banua. Menurut John, saat ini kondisi Jayawijaya, termasuk Wamena, sudah terkendali. Aparat keamanan dari TNI dan Polri menjamin keamanan masyarakat.

Bahkan, untuk membendung eksodus tersebut, John telah meminta Kodam Cenderawasih, untuk menghentikan pengiriman pesawat Hercules. "Untuk sementara Hercules jangan masuk dulu (ke Wamena)," ujar John dalam Jawapos.com.

Permintaan John ini dimaksudkan agar roda ekonomi di Wamena tetap berjalan. John juga mengimbau agar ribuan orang yang masih mengungsi di berbagai tempat tadi untuk kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali bagi mereka yang rumahnya hancur atau terbakar.

Perihal keamanan, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab, pun telah menggaransinya. "Percayakan kepada aparat dan pemerintah untuk keamanan di Wamena dan Papua pada umumnya," ucap Herman.

Penyebab kerusuhan di Wamena

Kasus di Wamena ini bermula dari adanya kesalahpahaman antara salah seorang guru di SMA PGRI dan murid pada Selasa (17/9). Saat itu, cekcok terjadi di antara mereka hingga sang guru mengeluarkan kata "keras".

Namun, kata itu terdengar seperti "kera" oleh sebagian murid. Persoalan tersebut pun diklaim telah beres. Namun, Minggu (22/9), tiba-tiba ada penyerangan ke SMA PGRI. Keesokan harinya, guru-guru menemukan banyak fasilitas yang rusak akibat serangan tersebut.

Sejak saat itu, kondisi Wamena mulai mencekam. Itulah fakta yang ditemukan di lapangan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

“Kronologi dari investigasi yang dilakukan oleh perwakilan Komnas HAM menunjukkan ada miskomunikasi,” kata Ketua Komnas HAM, Ahmad Fauzan Damanik, Senin (30/9) dalam Tempo.co.

Sejauh ini, Komnas HAM mencatat ada 31 orang korban meninggal. Serta 43 korban luka-luka yang tercatat menjadi pasien di Rumah Sakit Wamena. Sebanyak 43 korban itu, kata Damanik, banyak yang mengalami luka serius.

Pemerintah sendiri memberikan santunan kepada para korban. Besarannya, Rp15 juta per korban jiwa yang akan diberikan kepada ahli waris.

"Bantuan santunan ahli waris, kami serahkan per rekening, dari penerima manfaat, keluarganya," ucap Menteri Sosial, Agus Gumiwang Istana Kepresidenan, Kamis (3/10).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR