GEMPA LOMBOK

Guncangan susulan di Lombok adalah gempa baru

Seorang laki-laki melintas di dekat masjid yang kubah menaranya roboh akibat gempa di Labuhan Lombok , Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Senin (20/8/2018).
Seorang laki-laki melintas di dekat masjid yang kubah menaranya roboh akibat gempa di Labuhan Lombok , Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Senin (20/8/2018). | Ahmad Subaidi /Antara Foto

Gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), belum berhenti. Dalam dua hari terakhir, gempa susulan terus terjadi hingga menambah beban psikis para pengungsi.

Menurut informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada 101 gempa susulan pada kurun Minggu-Senin (19-20/8/2018). Sembilan gempa di antaranya bisa dirasakan masyarakat.

Dengan begitu, jumlah gempa sejak Lombok digoyang hingga mendatangkan bencana hebat pada 29 Juli (6,9 Skala Richter/SR) dan 7 Agustus (7 SR) sudah mencapai hampir 1.000 kali.

Maklum, menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, jumlah gempa hingga Minggu (19/8) siang sudah mencapai 814 dan 33 di antaranya bisa dirasakan warga. Jumlah ini belum termasuk 101 yang disebut pada awal tulisan.

Catatan BMKG yang disebut Dwikorita adalah hingga siang hari waktu setempat. Gempa susulan terjadi pada pukul 12.06 WITA dengan kekuatan magnitudo 5,4 dan episenter di lereng timur laut Gunung Rinjani serta kedalaman 10 kilometer.

Gempa kedua berselang empat menit atau pukul 12.10 WITA dengan kekuatan magnitudo 6,5 dan pusat gempa serta kedalaman yang tak berbeda dengan gempa susulan pertama.

"Analisis ini kami sampaikan dalam waktu tiga menit 33 detik selisih sekitar beberapa detik setelah gempa terjadi berdasarkan data dari 26 sensor yang terekam di BMKG," ujar Dwikorita dilansir Antara (h/t Elshinta).

Namun pada hari Minggu itu, sejumlah gempa susulan kembali terjadi pada malam hari WITA--rerata berkekuatan sekitar 5 SR. Sementara satu gempa berkekuatan cukup besar, 6,9 SR, pada pukul 21.56 WITA dengan kedalaman episenter 10 km.

Gempa besar ini masuk kategori baru, bukan dari pusat yang sama seperti gempa pada 7 Agustus. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, meneruskan data BMKG yang menyatakan sumber gempa itu berasal dari Sesar Naik Flores sehingga guncangan juga dirasakan hingga Bali.

Dan itu bukan gempa pertama dari Sesar Naik Flores. Sebab menurut data BMKG, gempa susulan dari Minggu (19/8) malam hingga Senin (20/8), seluruhnya berasal dari Sesal Naik Flores yang terletak di utara Pulau Lombok dan Sumbawa.

Sementara Diwkorita menjelaskan bahwa robekan batuan gempa terbaru dengan gempa awal Agustus berbeda. Ia memprediksi, gempa susulan pun akan terjadi dalam beberapa hari ke depan kendati waktu detail mustahil bisa diketahui.

Meski begitu, gempa susulan akan memiliki intensitas guncangan lebih kecil. Misalnya, gempa pada Senin (20/8) pukul 12.46 WIB sebesar 4,1 SR dengan pusat di sebelah barat laut Lombok Utara dan kedalaman 4 kilometer.

Adapun dampak gempa baru edisi 6,9 SR hingga Senin (20/8) pukul 10.45 WIB, menurut informasi Sutopo, sudah 10 orang meninggal dan 24 orang luka-luka. Dilaporkan pula bahwa 151 unit rumah dan 6 rumah ibadah rusak.

Dari Kementerian Sosial (Kemensos), pemerintah melakukan verifikasi seluruh korban meninggal akibat peristiwa gempa Lombok. Menurut Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, Harry Hikmat, kegiatan verifikasi dimulai sejak Selasa (14/8) dan dilakukan demi memastikan akurasi data ahli waris.

Total kini sudah ada 481 korban jiwa di NTB, paling banyak dari Lombok Utara (471). "Bisa jadi di kabupaten lain jumlah yang meninggal bertambah," kata Harry dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/8).

Di sisi lain, aktivitas mitigasi gempa Lombok juga diiringi oleh kabar bohong alias hoax. BMKG misalnya harus terus mengingatkan masyarakat agar tak percaya pada prediksi detail kehadiran gempa yang akan datang. "Hingga saat ini belum ada teknologi di dunia yang dapat memprediksi secara tepat dan pasti kapan waktu dan di mana gempa bumi akan terjadi," ujar BMKG.

Menurut BMKG, kalau pun ada yang mampu memprediksi gempa bumi secara tepat dan pasti itu hanya kebetulan. "Karena menurut catatan sejarah kegempaan, selebihnya informasi terkait waktu kapan dan pasti terjadinya gempa bumi meleset atau tidak tepat hanya berasumsi dan mereka-reka," tukasnya.

Kabar bohong juga melanda isu bantuan. Sutopo pun membantah dan mengklarifikasi kabar bohong dan bahkan fitnah yang mengatakan bahwa bantuan saat ini disimpan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Catatan redaksi: Judul telah diganti untuk menghindari kesalahan interpretasi.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR