Gerai mobil dan stadion bola terbuka untuk perempuan Saudi

Perempuan Saudi terlihat di gerai pamer mobil pertama yang didedikasikan hanya untuk perempuan di Jeddah, Arab Saudi, Kamis (11/1).
Perempuan Saudi terlihat di gerai pamer mobil pertama yang didedikasikan hanya untuk perempuan di Jeddah, Arab Saudi, Kamis (11/1). | Reem Baeshen /Antara Foto/Reuters

Pemerintah Arab Saudi semakin menunjukkan keseriusan mereka untuk memperlunak dan menghapus beberapa larangan bagi warga perempuan yang telah puluhan tahun berlaku di negara kerajaan tersebut.

Sepanjang akhir pekan lalu, ada dua aktivitas yang untuk pertama kalinya bisa dilakukan oleh perempuan Saudi setelah berpuluh tahun dilarang, yaitu datang ke gerai pamer kendaraan untuk memilih mobil yang akan dibeli dan datang ke stadion untuk menyaksikan langsung pertandingan sepak bola.

Pada 26 September 2017, Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, mencabut larangan bagi perempuan untuk berkendara yang telah berlangsung hampir tiga dekade. Aturan soal berkendara bagi perempuan ini baru akan efektif mulai Juni 2018.

Dalam rangka menyambut pemberlakuan aturan tersebut, sebuah ruang pamer (showroom) mobil khusus perempuan pun dibuka di Arab Saudi untuk pertama kalinya pada Kamis (11/1/2018).

Ruang pamer tersebut dibuka di Le Mall, salah satu pusat belanja di barat Jeddah, sebuah kota pelabuhan di Laut Merah. Di sini para perempuan memiliki kebebasan untuk memilih sendiri mobil yang akan dikendarainya nanti.

Diberitakan Daily Mail, ruang pamer tersebut memiliki banyak sekali pilihan jenis mobil. Selain itu, karena ini adalah gerai khusus perempuan, maka seluruh pegawai yang melayani para pembeli itu, tentu saja berjenis kelamin perempuan semua pegawai yang dipekerjakan pun adalah perempuan.

Tak hanya memberi masukan soal mobil apa yang paling cocok bagi setiap pembeli berdasarkan kegiatan dan kebutuhan, para pegawai pun akan membantu Anda dalam hal finansial berkaitan dengan pembelian tersebut.

The Guardian mengulas, ruang pamer ini telah bekerja sama dengan beberapa bank terkemuka di sana, juga sejumlah perusahaan finansial terpercaya. Para calon pembeli pun bisa berkonsultasi seputar harga hingga cicilan kendaraan yang akan dibeli.

Beberapa ruang pamer produk otomotif khusus perempuan juga akan dibuka di beberapa daerah lain dalam waktu dekat.

Arab Saudi tercatat sebagai negara terakhir di dunia yang memberi izin perempuan untuk mengemudi. Sebelumnya selama 30 tahun, karena alasan keagamaan, negara ini tak mengizinkan perempuan untuk mengemudikan mobil atau motor di jalanan umum.

Kerajaan yang menganut ajaran Islam Wahhabi garis keras ini, memiliki aturan perwalian/penjagaan oleh laki-laki anggota keluarga untuk nyaris segala kegiatan yang dilakukan perempuan.

Perempuan Saudi tak bisa, antara lain, membuat paspor dan memilih universitas tanpa izin tertulis dari sang wali, bahkan bepergian ke luar rumah pun mesti ditemani wali tersebut.

Pada 1990, sebanyak 47 orang aktivis melakukan demonstrasi dengan mengemudi mobil di ibu kota Saudi, Riyadh, meminta pemerintah untuk membiarkan perempuan mengemudi mobil sendiri. Mereka kemudian dihentikan polisi.

Para demonstran itu dan suami mereka, mengutip npr, dihukum larangan pergi ke luar negeri selama setahun. Mereka yang bekerja sebagai pegawai negara langsung dipecat. Nama mereka, melalui mimbar masjid-masjid, diumumkan sebagai "perempuan tak bermoral" yang merusak tatanan masyarakat Arab Saudi.

Kemudian pada 2011, Manal al-Sharif, pejuang hak-hak perempuan di Saudi ditahan selama 9 hari setelah memfilmkan dirinya yang sedang mengemudi dan mengunggahnya ke YouTube sebagai bentuk protes.

"Bicaralah, karena itu adalah satu-satunya cara untuk memberikan kesadaran dan membawa perubahan bagi Arab Saudi," kata Mina al-Sharif kepada AFP (h/t Daily Mail).

Ia menyatakan perjuangan berikutnya untuk para perempuan Saudi adalah berupaya menghapus sistem perwalian yang telah mempersulit langkah mereka.

Perempuan di stadion sepak bola

Perempuan-perempuan yang mengenakan abaya hitam tampak menyaksikan langsung pertandingan sepak bola di King Abdullah Sports City, Jeddah, Jumat (12/1/2018). Untuk pertama kalinya dalam sejarah sepak bola profesional di Arab Saudi, perempuan diperkenankan untuk masuk stadion dan menyaksikan langsung pertandingan.
Perempuan-perempuan yang mengenakan abaya hitam tampak menyaksikan langsung pertandingan sepak bola di King Abdullah Sports City, Jeddah, Jumat (12/1/2018). Untuk pertama kalinya dalam sejarah sepak bola profesional di Arab Saudi, perempuan diperkenankan untuk masuk stadion dan menyaksikan langsung pertandingan. | STR /EPA-EFE

Sehari setelah pembukaan ruang pamer mobil khusus perempuan tersebut, satu pintu lagi terbuka untuk para kaum hawa di Arab Saudi. Pintu stadion sepak bola.

Pertandingan Liga Pro Saudi antara Al Ahli dan Al Batin yang digelar di King Abdullah Stadium, Jeddah, Jumat (12/1/2018), pun menjadi momen bersejarah baru sebagai pertandingan pertama yang dihadiri langsung oleh para perempuan penggemar sepak bola.

Ya, untuk pertama kalinya dalam sejarah sepak bola profesional di Arab Saudi, perempuan diperkenankan masuk ke stadion untuk menyaksikan langsung pertandingan. Walau demikian, mereka hanya diperkenankan masuk ke tribun "khusus keluarga" dan terpisah dari penonton laki-laki yang bukan anggota keluarga mereka.

Di King Abdullah Stadium, mengutip TheNewArab, dari 68 ribu kursi, ada 14 ribu kursi yang diperuntukkan bagi perempuan.

Vision 2030

Perubahan-perubahan yang, menurut standar Arab Saudi, termasuk radikal ini mulai terjadi dalam dua tahun terakhir, terutama sejak Pangeran Muhammad (ditulis Mohammed oleh media barat) diangkat menjadi Putra Mahkota oleh Raja Salman.

Pangeran berusia 32 tahun yang akrab disebut MbS (Muhammad bin Salman) itu bergerak cepat untuk melakukan reformasi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk masalah hak perempuan dan membuka banyak hal yang sebelumnya disebut tabu atau haram di kerajaan itu.

Ia juga menangkap beberapa ulama garis keras dan menahan ratusan pangeran dan tokoh penting Arab Saudi dengan tuduhan korupsi.

MbS menyatakan ingin mengembalikan Arab Saudi kepada ideologi Islam moderat yang sempat berkembang sebelum terjadinya revolusi Iran pada 1979.

Ia berada di belakang rencana pembangunan jangka panjang Arab Saudi yang disebutnya "Vision 2030". Secara singkat bisa disebutkan bahwa visi itu adalah upaya diversifikasi ekonomi agar tidak lagi terlalu tergantung pada minyak.

Beberapa rencana untuk diversifikasi ekonomi adalah pembangunan resor mewah dengan aturan "longgar" untuk turis di Laut Merah dan membuka kembali bioskop.

Diversifikasi tersebut, tentu saja, membutuhkan partisipasi aktif seluruh warga, termasuk perempuan.

Memang, tak sedikit pihak yang masih mempertanyakan itikad MbS yang sesungguhnya di balik semua pergerakan tersebut dan hanya waktu yang bisa mengungkapnya kelak.

BACA JUGA